Jangan Membenci, Maafkanlah

Ada baiknya kita belajar untuk memahami, untuk menerima, untuk memaafkan. Ketiga hal ini adalah komponen kepribadian yang akan membentuk seseorang menjadi pribadi yang rendah hati.

Tidak semua kesalahan adalah kejahatan. Agama apa saja menempatkan kesalahan menjadi pintu akan adanya pengakuan terhadap adanya sikap untuk memaafkan.

Secara matematis kesalahan dapat dipasangkan dengan memaafkan. Sebab, dalam kehidupan ini semua telah Tuhan kehendaki bahwa adanya kesalahan disebabkan karena adanya kebaikan yang akan muncul di permukaan.

Andai kata kesalahan dipasangkan dengan kebencian, kira-kira hidup kita akan seperti apa? Sudah jelas jawabannya akan melahirkan kerusakan. Tetapi, andai kata kita selalu sadar bahwa kesalahan selalu dipasangkan dengan memaafkan, kita akan sama-sama meyakini bahwa hidup tidak ada kata sulit dan putus asa.

Seringkali ketika seseorang melakukan kesalahan, kita semua akan ikut membeci orangnya dan akan membenci perbuatannya, sehingga melahirkan tekanan psikologi bagi yang melakukan kesalahan. Efeknya sangat celaka yaitu Putus asa, perasaan yang ternodai oleh kebencian lingkungan sosial, sering kali membuat orang menjadi merasa tidak berguna.

keadaan seperti ini perlu kita perbaiki, perlu kita rubah, perlu disadari oleh setiap orang. Kesalahan pernah dilakukan oleh setiap orang, bahkan diri kita sendiri. Menyadarkan diri kita terhadap perbuatan salah, akan menjadi terbukanya akal dan hati kita memudahkan untuk memaafkan orang lain.

Sering kita mendengar bagaimana ketabahan hati Nabi Yusuf, memaafkan sebelas orang saudaranya yang membuangnya kedalam sumur. Ketabahan hati Nabi Yusuf mengantarkannya kepada hadiah dan kebenaran, serta kemudahan-kemudahan hidup.

Terlepas dari kajian Agama yang memang sudah Allah janjikan Untuk Nabi Yusuf melalui garis kenabian ayahnya Nabi Yakub. Andaikan Nabi Yusuf tidak menjalani ujian hidup yang berat, dimasukkan dalam sumur, akankah Nabi Yusuf menjadi Menteri Perbendaharaan Kerajaan Mesir saat itu?.

Adakalanya memaafkan itu menjadi kendaraan kita menuju kebahagiaan dan kesuksesan tertinggi. Jangan memandang kesuksesan yang kita dapatkan harus disesuaikan dengan materi yang kita dapatkan, sesungguhnya itu keliru.

Secara matematis juga kita dapat mengukur bahwa kesuksesan adalah bukan karir, bukan pula materi, sebab kebahagian dan kesuksesan memiliki alat ukur atau timbangan yang berbeda dengan alat kita mengukur karir dan materi.

Kebahagiaan akan kita ukur seberapa besar jiwa kita dalam mengusahakan setiap saat hati dan pikiran kita tenang, kesuksesan dapat kita ukur seberapa banyak rasa malas yang kita lawan, karir kita bisa mengukurnya dengan seberapa banyak kita menghasilkan sesuatu yang berguna untuk orang lain, dan materi bisa kita ukur seberapa banyak penghasilan upaya kita.

Memaafkan kesalahan orang lain adalah cara Alam semesta dan Tuhan memberikan pelajaran kepada kita tentang perlunya kita hadir dalam memperbaiki kesalahan orang lain, bukan sebaliknya kita membenci.

Seringkali Tuhan menempatkan kesalahan orang lain sebagai kendaraan untuk kita menuju tingkatan hidup yang lebih tinggi, jika kita barengi dengan kerendahan hati atau mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Sebaliknya, terkadang Tuhan menjadikan kesalahan orang lain menjadi penyakit dalam hati dan pikiran kita, jika kita menghadapi kesalahan orang lain dengan kesombongan dan keangkuhan.

Lingkungan hidup sosial kita sekarang banyak sekali perubahan kepribadian seseorang akibat kehilangan identitas diri sebagai mahluk sosial, kehilangan jati diri sebagai tempatnya kekeliruan dan kesalahan.

Sebagian besar rasa dendam, kebencian dan kesalahan seseorang kita jadikan sebagai tolok ukur untuk bersaing dalam hidup. Pola pikir seperti ini tidak akan pernah mengantarkan seseorang pada kebaikan, melainkan kesulitan, kegelisahan bahkan emosi yang berlebihan menjadi warna hidup sehari-hari.

Sudah tidak dapat kita hitung jumlahnya di Dunia ini, orang-orang yang bisa menerima kesalahan orang lain untuk dimaafkan dan menjadikan pelajaran hidup menjadi orang-orang yang bijak, kebersihan hatinya menjadikannya bijak, kerendahan hatinya menjadikannya bijak.

Fakta tentang kehidupan Dunia, seringkali kita tuduh Dunia ini melelahkan, Dunia ini menjengkelkan. Sebenarya tidak sebab adakalanya kita kesulitan karena kesulitan yang kita buat sendiri. Tidak ingin dibenci oleh kelompok dan masyarakat, tetapi sikap kita masih sangat jauh dari kerendahan hati.

Kerendahan hati kita dalam memaafkan kesalahan orang lain, bukan tolok ukur bahwa kita kalah, kita tidak berani mengambil sikap. Sebagian kecil dari capaian atas usaha yang kita lakukan bukan sepenuhnya karena upaya perbuatan, melainkan karena kerendahan hati kita.

Ada sebuah kesimpulan yang akan menjadi pengantar tulisan ini. Untuk apa semesta ini memelihara kekeliruan, kesalahan bahkan kejahatan dibiarkan tumbuh begitu saja dalam diri kita bahkan lingkungan kita. Alasannya hanya satu, sebab semesta sangat mengerti tentang akal, pikiran dan hati kita. Semesta memang pandai bercanda.

Sebagian orang terkadang masih mengutuk kesalahan orang lain, tanpa harus mereka sadari kesakitan jiwa dan perasaan orang yang berbuat kesalahan, sudah saatnya kita harus sadar, ada kemungkinan dalam kesalahan orang lain baik itu ucapan, maupun perbuatan menjadi hidayah hidup kita dan generasi kita selanjutnya.

Sikap membenci terhadap orang yang berbuat kesalahan adalah kekeliruan, kekeliruan yang disebabkan karena memandang kesalahan orang lain tanpa harus melihat dengan kesadaran bahwa setiap orang sejahat apapun, sekeliru apapun, pasti ada kebaikan yang pernah dilakukannya. Bersama kita santun dengan memaafkan kesalahan yang pernah ada.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply