Jangan Takut Mengkritisi Sarjana Barat

Kalau saat ini kalian masih mengagung-agungkan penggunaan metode historis yang ‘katanya’ diprakarsai oleh para sarjana Barat, lebih baik kalian segera sadar, bahwa tidak semua yang berasal dari Barat itu objektif.

Memangnya kenapa? Apa yang salah? Bukan tentang benar-salah, tetapi lebih kepada efektifitas dan kejujuran dalam memperlakukan data sejarah.

Tidak bisa dimungkiri, penggunaan metode historis dalam suatu penelitian memang lebih bisa dipercaya, sebab menyajikan data yang bisa dibilang lebih akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Tetapi kalau ditinjau dari kacamata historical method ala Barat, yang terjadi adalah data tersebut bisa dipercaya selama bisa dipertanggungjawabkan secara empirik dan/atau rasional. Sependek yang saya tahu, sumber intuitif tidak bisa dipercaya.

Selain itu, dalam beberapa kajian yang dilakukan oleh sarjana Barat, sebut misalnya Alquran dan terutama hadis, mereka sering meragukan pola transmisi oral dari bangsa Arab. Padahal di kalangan bangsa Arab itu hal yang lumrah.

Kita tahu, memang ada rentang waktu yang panjang antara masa hidup Nabi dengan kodifikasi hadis di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tetapi, hey, itu bukan berarti dengan mudah mengatakan bahwa hadis bukan berasal dari Nabi. Tidak semudah itu. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Okelah, memang ada beberapa hadis palsu yang ditulis untuk melegitimasi kepentingan penguasa dan sebagainya. Tetapi kembali, poinnya adalah kekuatan hafalan bangsa Arab tidak bisa diukur melalui kacamata bangsa Barat.

Kehidupan keras di padang pasir serta hidup secara nomaden mengantarkan mereka pada suatu keistimewaan. Kuat dalam hal hafal-menghafal.

Mereka juga dikenal sebagai bangsa yang ummiy. Terlepas dari pandangan bahwa ummiy itu bermakna tidak mengenal kitab suci. Tetap saja, minim di antara mereka yang bisa baca-tulis.

Melihat kondisi yang demikian ‘memprihatinkan’, dengan apalagi mereka merekam data kalau bukan dengan ingatan? Ini salah satu kekuatan bangsa Arab yang bisa jadi tidak dimiliki bangsa lain.

Mengutip pandangan Philip K. Hitti, bangsa Arab memang tidak punya tradisi intelektual, tetapi ketika mereka dihadapkan pada ilmu pengetahuan, rakusnya minta ampun. Ini terbukti dengan masifnya mereka menggali ilmu pengetahuan yang bersumber dari dunia di luar mereka: Persia, Yunani, Mesir, dan lain sebagainya. Dan mereka berjaya.

Ada lagi, ini berkaitan dengan pandangan bahwa sejarah ditulis oleh mereka yang menang. Antara setuju dan tidak, tetapi bukankah pandangan tersebut diungkapkan oleh mereka yang kalah?

Begini, tidak jarang ditemukan ‘gugatan’ terhadap literatur sarjana Muslim yang dinilai tidak menggambarkan realitas sebenarnya. Nah, sebagai antitesisnya, digunakanlah literatur dari tokoh lain yang berbeda agama. Mayoritas mereka yang hendak menggugat pandangan ortodoksi bersikap demikian.

Letak keanehannya adalah, ketika literatur dari sarjana Muslim dipertanyakan habis-habisan, mungkin karena berangkat dari asumsi dasar di atas, literatur dari sarjana non-Muslim diterima begitu saja. Seolah data yang berasal dari non-Muslim sudah teruji kebenarannya.

Argumen yang biasa dibangun untuk meragukan data sejarah dari Muslim dan menerima data dari non-Muslim adalah waktu. Kapan ia ditulis?

Dari pernyataan di atas, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa mereka juga taken for granted dalam bersikap. Tentu saja dibumbui dengan alasan-alasan yang mereka anggap rasional.

Kemudian, dengan menggunakan data historis itu tadi, peristiwa ratusan atau ribuan tahun yang lalu seolah ditampakkan kepada mereka. Alhasil, kejadian tersebut disampaikan dengan begitu detailnya. Padahal, dengan menggunakan data historis pun, sifatnya tetap prediksi, spekulasi.

Realitasnya memang, kejadian semacam itu bukan hanya dilakukan oleh sarjana Barat, sarjana Muslim pun demikian. Iya, sih. Tetapi saat ini, kan, posisinya kita sedang mempersoalkan penggunaan metode historisnya sarjana Barat. Setidaknya, tunjukanlah kalau kita juga berani mengkritik mereka. Mereka juga manusia, jadi bisa salah.

Sejauh ini, sependek yang saya tahu, karena bacaan saya masih sedikit, minim ada kajian dari sarjana Barat yang menggunakan literatur sarjana Muslim dan non-Muslim secara seimbang. Kalaupun ada, biasanya pra-konsepsi atau pra-pemahaman penulis begitu kentara. Jangan tanya, memangnya dari sarjana Muslim ada?

Sederhananya, jangan begitu saja percaya kalau hasil penelitian sarjana Barat itu sifatnya objektif dan bebas nilai. Tidak. Sekali-kali tidak. Sekali lagi tidak. Mereka subjektif. Mereka juga punya kepentingan. Apa pun itu. Kita saja yang mudah terpukau. Ah, dasar kampungan.

Saya tidak berkata semua sarjana Barat bersikap demikian. Di antara mereka juga ada yang mencoba sekuat tenaga untuk bersikap objektif.

Siapa pun penelitinya. Bersikap objektif itu sulit. Meski begitu, paling tidak, ada usaha untuk tidak terlalu memperlihatkan bahwa penelitian kita bersifat subjektif.

Poin yang ditekankan di tulisan ini adalah berhenti bersikap seolah segala yang bersumber dari Barat adalah benar atau salah; baik atau buruk; ilmiah atau tidak ilmiah; dan sebagainya atau dan seterusnya.

Juga berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Kalau sekiranya penggunaan metode historis, atau apa pun itu, bisa meningkatkan presentase keakuratan data, ya gunakan. Tetapi jangan asal menggunakan, jangan lupa dikritisi, setelah itu dimodifikasi. Biar keren.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply