Katakan Sayang Lebih Baik dari Ujaran Kebencian

Media Ujaran Kebencian

Semestinya kita mencintai atau membenci dalam konteks yang wajar, mencintai teramat mampu membawa ke kelukaan begitupun membenci yang sangat mampu membawa diri kita lupa dengan tujuan dan cita-cita sebenarnya. Kok bisa ya?

Selama hati masih membenci,  hati kita merasa tidak tentram, tidak tenang sampai-sampai seolah ada gemuruh di dada bila melihat apa yang kita benci. Kalau sudah begini siapa yang rugi? Apalagi bila yang dibenci tiada merasa…

Memang kita manusia biasa, yang tidak lepas dari rasa benci. Benci itu tidak mungkin muncul tanpa ada yang mengawali, mungkin saja karena merasa terhina, diolok-olok atau bisa saja karena unsur kompetisi bisa juga memang rasa tidak suka..

Yang lebih parah lagi apabila kebencian itu tidak bisa diredam, era now ada banyak media yang bisa menjadi mediator, cetak maupun media audiovisual maupun media internet.

Jika  itu media cetak populer pastinya ada editan atau seleksi sebelum diterbitkan sehingga menyajikan sebuah berita yang biasa kita lihat sehari-hari, begitupun media audiovisual contoh Televisi bisa disensor terlebih dahulu.

Namun bagaimana jika itu adalah media internet yang bisa dengan bebasnya mencurahkan dan menuliskan bau-bau kebencian. Instragram, facebook, Whatsapp, Twitter, dll. Sesuka hati bisa menuliskan hal-hal yang berbau kebencian, so pasti yang menjadi editor adalah penulis sendiri.

Banyak sekali kita jumpai hal seperti di atas, ketika membaca mungkin saat itu juga atau setelahnya hati kita dengan mudahnya mengikuti arus kebencian itu karena kalimat yang dikemas begitu meyakinkan dan diri menjadi terlibat rasa empatik tanpa akal yang mencerna benar salahnya . Sungguh cepatnya kebencian menjamur dan merasuki hati kita.

 Bisa kita bayangkan bila ujaran kebencian (hate speech) itu mengandung fitnah? Fitnah perpecahan (At-Tafarruq) merupakan fitnah yang paling berbahaya, sebab akan melemahkan kekuatan dan membuka jalan yang lapang bagi musuh untuk  meruntuhkan secara cepat.

Tidak usah jauh-jauh bila yang menjadi obyek adalah diri kita sendiri pasti kita tidak terima atas perlakuan tersebut. Lantas mengapa masih saja menggemakan ujaran kebencian lagi bila kita sendiri tidak mau diperlakukan seperti itu.

Kita adalah makhluk sosial yang hidup di tengah masyarakat luas, sudah pasti kita menjumpai beragam karakter manusia. Pengendalian diri dan memaksimalkan hati nurani serta instropeksi diri adalah jalan terbaik untuk menghindari dari hal-hal yang berbau kebencian.

Sebagai makhluk sosial yang tidak lepas dari lingkungan dan membutuhkan sekitar, sudilah menengok ke dalam hati nurani yang paling dalam. Ujaran kebencian yang sempat terbaca di medsos bisa menjadi cerminan diri dan tolok ukur diri. Sejauh mana kecerdasan kita dalam mencerna berita di medsos, mampu membedakan mana yang bena dan mana yang salah. Karena itulah pendewasaan diri.

Tingkat Toleransi

Seberapa jauh tingkat toleransi kita kepada sesama, semakin tinggi toleransi kiranya semakin besar tingkat kemakluman dan pemahaman sebaliknya rasa intoleransi yang diiringi dengan ekstrim terkesan bahwa diri/kelompok sendiri yang paling baik sehingga cenderung menganggap meremehkan orang lain/kelompok lain.

Mungkin Anda pernah penah memberi komentar “Ih…ekstrim banget sich” suatu reaksi atau tanggapan tehadap sesuatu yang tidak lazim atau melebihi batas umum atau bisa juga di luar standar kehidupan. Kedengaran sangat tidak enak di telinga, efeknya adalah sebuah ketegangan baik pikir maupun rasa karena di melebihi nomal.

Tak kenal maka tak sayang, mungkin benar ungkapan tersebut. Seseorang yang cenderung kenal akan lebih bersifat toleran daripada tidak mengenali sebelumnya. Betapa pentingnya komunikasi dalam berinteraksi dengan sesama. Komunikasi yang baik mampu mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, atau dengan kata lain komunikasi yang baik mampu mencegah atau meng-cut ujaran kebencian yang sebelumnya sudah ada. Komunikasi mampu menciptakan suasana yang lebih apik ketimbang tidak adanya komunikasi.

Merenung

Sebagai manusia yang dilengkapi akal pastilah mampu berpikir logis dan realistis terhadap segala hal yang berbeda dengan diri, perbedaan seperti sunatullah yang pasti ada. Begitupun dalam hal kepentingan dan lain-lain pasti mengandung perbedaan. Bukankah perbedaan itu indah merupakan selang-seling kehidupan yang mewarnai dunia. Saling melengkapi dan mengisi setiap permainan atau lakon dalam panggung sandiwara ini. Lakon tidak mungkin sama.

Seandainya semua manusia memahami mungkin ujaran kebencian, intoleran, dan ekstrim tidak muncul sebagai wajah-wajah momok sketsa yang turut  mengisi lukisan indah hidup ini. Ia akan mengacaukan fokus kita tehadap lukisan tersebut. Toleransi terhadap perbedaan yang ada menjadi hiasan indah dalam sebuah lukisan itu.

Lantas mengapa mesti mempermasalahkan perbedaan?

Selama perbedaan tidak menyinggung harga diri saya rasa tiada masalah yang menjadi masalah acapkali adanya rasa tersinggung itu sendiri, sehingga mudah terpancinglah emosi melalui konflik dan ujaran-ujaran kebencian.

Mulutku adalah harimau yang siap menerkammu, pepatah yang meski diingat. Setiap ucapan harus dijaga agar tidak memuculkan masalah pada akhirnya. Kalau diam itu ibarat emas mungkin bisa dibenarkan. Ketimbang berbicara yang memancing emosi atau fitnah dan adu domba.

Kita hidup di negara Indonesia beragam suku bangsa, ras dan agama ada di Negara kita tercinta ini. Bila saja bangsa kita tidak ada asa toleraqn yang tinggi bisa dengan cepat kita menyimpulkan akan banyak huru- hara di sana sini. Semangat persatuan dan kesatuan telah berurat akar sehingga turut meminimalisir hal-hal yang memecah persatuan dan kesatuan bangsa.

Marilah kita renungkan betapa indahnya rasa kebersamaan dan persatuan, menilik kondisi sesungguhnya sudah banyak slogan dan semangat persatuan bangsa yang digembor-gemborkan, yang begini saja masih memungkinkan menimbulkan konflik, apalagi bila ujaran kebencian yang berbau SARA menjamur di medsos, bisa jadi apa negara ini? Memang benar lebih mudah untuk menularkan kejelekan dari pada kebaikan. Kalau tidak hati-hati kita bisa condong memihak pada salah satu yang kita anggap benar, padahal belum tentu benar.

Seperti yang sudah ditulis di awal, bisa saja lupa dengan tujuan dan cita-cita sebenarnya, karena sibuk bermain hati dengan kebencian. Naudzubillah.

Undang-Undang 

Setiap ada masalah pasti akan ada solusinya, bagaimana bila ujaran kebencian ditulis di medsos? Pemerintah mengatasi dengan mengeluarkan Undang-undang No. 11 Tahun 2008  Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, pasal 28 ayat (2) dan Jo Pasal 45 merupakan ketentuan yang mulai digunakan dalam kasus-kasus penyebaran kebencian berbasis SARA, mengingat UU ITE ini lebih mudah digunakan dan lebih kuat bagi tindak pidana penyebaran kebencian di dunia maya.

Diharapkan dengan adanya Undang-undang ini perorangan maupun kelompok mau mengendalikan diri dari rasa kebencian yang ditransferkan menjadi ujaran kebencian bisa dicegah. Permasalahan pribadi/kelompok bisa diselesaikan secara baik tanpa adanya ujaran kebencian lebih-lebih melalui medsos yang tentu berbagai kalangan bisa membaca tulisan itu.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply