KATANYA KEBENARAN AL-QUR’AN ITU PASTI, TAPI KENAPA ADA AYAT YANG KONTRADIKTIF?

Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia dan juga sekaligus sebagai penjelasan dari petunjuk tersebut sehingga kemudian mampu menjadi pembeda antara yang hak dan yang batil.

Dengan mengikuti petunjuk Allah dalam Al-Qur’an tersebut dan mengamalkannya secara utuh maka akan hidup selamat dan sejahtera, baik di dunia maupun di akhirat, baik selaku individu maupun selaku umat.

Meskipun demikian, perlu pula disadari bahwa kaum muslimin sendiri baru dapat mengamalkan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an tersebut setelah mereka memahaminya dengan baik dan benar.

Padahal itu bukanlah hal yang mudah dan ringan. Sebab, bahasa yang dipergunakan oleh Al-Qur’an adalah bahasa Arab klasik dengan gaya dan susunan kalimat yang tidak dapat dikatakan prosa dan tidak pula puisi.

Bahkan kata-kata yang dipakai untuk mengungkapkan petunjuk-petunjuk tersebut banyak mengandung kata-kata musytarak dan mengandung pengertian yang masih umum, mujmal dan mutlak. Bahkan kadang-kadang terkesan bertentangan antara suatu ayat dengan ayat yang lain. Sehingga pembaca dibuat bingung, khususnya orang-orang awam.

Lalu bagaimanakah kita menyikapi ayat-ayat Al-Qur’an yang bertentangan tersebut? Apakah di dalam Al-Qur’an terdapat kekeliruan? Bukankah Al-Qur’an adalah firman Tuhan yang Maha Sempurna?

Memang benar, di dalam Al-Qur’an itu sendiri banyak sekali ayat-ayat yang apabila kita lihat dengan sekilas terlihat bertentangan satu sama lain. Dalam suatu ayat menyebutkan demikian, namun pada ayat yang lain menyebutkan hal yang berbeda, bahkan menyalahi pernyataan yang pernah disebutkan pada ayat sebelumnya.

Maka yang harus kita lakukan adalah mengkaji lebih dalam mengenai ayat-ayat yang bertentangan tersebut, siapa tahu terdapat penjelasan dalam nash yang lain seperti hadits Nabi Muhammad SAW, baik yang menjelaskan konteks ayat maupun orang yang diajak bicara dalam ayat tersebut, atau bisa jadi ada salah satu ayat yang hukumnya telah dihapus.

Kita sebagai orang yang beriman harus meyakini bahwa di dalam Al-Qur’an itu tidak mungkin terdapat kekeliruan, karena merupakan firman Yang Maha Sempurna, kalau pun ada terdapat kekeliruan maka itu hanyalah apabila dilihat dengan sebelah mata.

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 82 yang berbunyi:

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

“Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka akan mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Tidak patut bagi kita yang sangat jauh dari sempurna ini menyalahkan perkataan Yang Maha Sempurna. Oleh karena itu apabila kita menemukan adanya kekeliruan dalam Al-Qur’an maka yang salah itu bukanlah Al-Qur’an itu sendiri, tapi kita yang salah karena kurangnya ilmu yang kita miliki.

Untuk lebih jelasnya mengenai ayat-ayat yang bertentangan ini, berikut di antara contoh dan cara memahaminya

Dalam suatu ayat yaitu surah Ar-Rahman ayat 39 yang berbunyi:

لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ اِنْسٌ وَلَا جَآنٌّ

“Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.”

Terkesan bertentangan dengan surah Al-Shaffat ayat 24 yang berbunyi:

وَقِفُوْهُمْ اِنَّهُم مَسْئُوْلُوْنَ

“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya.”

Kedua ayat di atas ini terkesan bertentangan apabila kita lihat dengan sekilas, karena pada surah Ar-Rahman dinyatakan bahwa manusia dan jin itu tidak akan ditanyai tentang dosa-dosa yang telah mereka lakukan sewaktu di dunia.

Sedangkan pada surah Al-Shaffat dinyatakan bahwa mereka itu pasti akan ditanyai di akhirat nanti terkait apa-apa yang telah mereka lakukan di dunia.

Akan tetapi, jika diperhatikan posisi ayat itu yakni pada surah Ar-Rahman maka ayat tersebut dapat dipahami: “Pada saat langit terbelah itu, manusia dan jin tidak ditanyai dengan tujuan untuk mengetahui dosa-dosa mereka. Tetapi masing-masing ditanya untuk mengecam dan meminta pertanggungjawabannya.”

Namun pada ayat tersebut dapat pula dipahami bahwa: “Pada waktu itu memang bukan saatnya untuk menanyai manusia dan jin.”

Sementara pada surah Al-Shaffat ayat 24 di atas memang menjelaskan bahwa: “Pada waktu itu memang saatnya dilaksanakan tanya jawab.”

Untuk mendekatkan pemahaman, dapat kita bandingkan dengan kendaraan yang sedang dikendarai pada waktu tidak ada razia, walaupun tidak membawa secara lengkap surat-menyuratnya, si pengendara tidak akan ditanyai mengenai kelengkapan surat-surat kendaraan.

Akan tetapi, semua pengendara yang lewat pada saat dilaksanakannya razia akan disuruh berhenti dan akan ditanyai mengenai surat-menyurat kendaraannya.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa antara kedua ayat di atas tidak terdapat pertentangan, meskipun secara kasat mata keduanya saling bertentangan, namun apabila dikaji lebih dalam maka akan jelas tidak ada pertentangan di antara ayat-ayat tersebut.

Masih banyak ayat-ayat yang secara zahirnya terlihat bertentangan selain dua ayat yang disebutkan di atas. Namun intinya ialah kita tidak boleh langsung menyalahkan Al-Qur’an apabila menemukan ayat yang kontradiktif dengan ayat yang lain. Tapi yang harus kita lakukan adalah mengimaninya dan mengkajinya lebih dalam.

Dengan begitu maka hilanglah pernyataan yang menganggap adanya pertentangan antara ayat-ayat Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an itu adalah kalam yang mulia, mustahil terdapat kekeliruan di dalamnya.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply