Kecelakaan atau Kecerobohan?

188 jiwa kini melayang ketika pesawat Lion Air JT-610 jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat. Keluarga yang mereka tinggalkan resah dengan Lion Air yang kurang memperhatikan pemeliharaan pesawat mereka.

Ketika pilot menyadari bahwa pesawat JT-610 yang ia tangkap memiliki kendala, Kapten Bhavve Suneja menghubungi kontrol lalu lintas udara Soekarno Hatta untuk menanyakan apakah mereka dapat kembali ke pangkalan. Ia memanggil kontrol lalu lintas udara untuk beberapa menit dan di ketinggian 2300 – 3000 meter mereka kehilangan kontak. Pesawat kemudian jatuh pada pukul 06.33 di Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Apa alasan pesawat ini jatuh? Pesawat itu tidak tua. Pesawat Boeing 737 ini adalah pesawat jenis baru, dan baru digunakan selama tidak lebih dari 2 bulan. Pilot jelas tahu ada sesuatu yang salah, karena dia punya waktu untuk memanggil ATC.

Sehari sebelumnya, PK-LQP memang memiliki masalah dalam penerbangannya dari Denpasar ke Jakarta. Jadi tampaknya masalahnya adalah sistem atau kegagalan mesin dan Kapten Bhavva tidak dapat menemukan daerah pendaratan yang tepat.

EX Pilot senior, Stephanus GS, malah merasa bahwa ada kesalahan manusia yang terlibat, terutama kesadaran pilot. Ketika Pesawat baru saja “Take off ” sudah tidak stabil, karena dari pola penerbangan, pesawat terus naik dan turun, dan kecepatan terus meningkat menjadi sekitar 340.

Ex Pilot Stephanus bahkan menyatakan bahwa pada kecepatan 400 telinganya akan mulai berdering. Jadi mengapa? Mengapa perubahan ketinggian penerbangan, kenapa kecepatan pesawat begitu cepat? Apa yang begitu buruk hingga pilot ingin kembali?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan dijawab sampai black box pesawat dapat ditemukan. Beruntung bagi kami, pada tanggal 2 November, kotak hitam Pesawat JT 610 telah resmi ditemukan. Tetapi sayangnya, kemungkinan besar konten itu kotak tidak akan dirilis untuk pengetahuan umum, tidak untuk waktu yang sangat lama.

Menurut Undang-Undang Pasal 141 Ayat 1 No.1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (UU Penerbangan): “Pengangkut bertanggung jawab atas kerugian penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka yang diakibatkan kejadian angkutan udara di dalam pesawat dan/atau naik turun pesawat udara.”

Keluarga dari korban boleh meminta imbalan, tergantung ketentuan yang ada di undang-undang. Jika korban meninggal dunia, maka keluarga bisa mendapatkan ganti rugi sejumlah Rp1,25 miliar/penumpang.

Menurut Pasal 3 huruf b Permenhub 77/2011: jika penumpang meninggal di luar pesawat (saat meninggalkan ruang tunggu bandara ke pesawat atau saat turun dari pesawat ke ruang kedatangan bandara tujuan dan/atau bandara transit), diberikan ganti rugi sebesar Rp500 juta untuk setiap penumpang.

Kasus ini sampai mendapat perhatian Hotman Paris yang mengatakan bahwa keluarga berhak menuntut ganti rugi sebesar-besarnya. “Terutama kalau kecelakaan pesawat tersebut karena kesalahan atau ignorance, atau human error atau cacat tersembunyi, atau sudah tahu sebelumnya pesawat itu cacat tapi dipaksakan terbang.”

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply