Kehidupan dan Agama

Pembahasan agama sepertinya sudah terlalu usang jika dibahas kembali, karena seharusnya masing-masing dari kita sudah paham berkehidupan, jika paham dengan apa yang kita yakini. Melihat perkembangan saat ini, sepertinya agama menjadi hal yang sensitif sehingga menimbulkan pertikaian dan peperangan sesama umat manusia.

Akan sampai berapa juta tahun lagi agama menjadi landasan manusia untuk saling membenci? Apakah itu sudah menjadi tujuan yang diajarkan oleh agama? Apakah lebih baik kita tidak perlu agama lagi agar bisa ada kedamaian?.

Secara umum, agama adalah sebuah kepercayaan yang diyakini seseorang atau kelompok, yang mengajarkan dan mengatur tata cara peribadatan kepada Tuhan dan berkehidupan sesama manusia.

Agama menurut Michel Meyer (dalam Rousydiy, 1986) adalah “sekumpulan kepercayaan dan pengajaran-pengajaran yang mengarahkan pada tingkah laku kita terhadap Tuhan, terhadap sesama manusia dan terhadap diri kita sendiri.”

Secara garis besar agama mengajarkan kita agara bisa berhubungan baik dengan sesama manusia. Apakah ada agama yang mengajarkan kita untuk saling membenci? Lantas untuk apa kita saling bermusuhan, saling menjatuhkan dan saling menyalahkan, sehingga agama menjadi alasan.

Banyak peristiwa pertikaian terjadi disekitar kita, yang mengatas namakan agama. Kemudian bermunculanlah orang-orang yang sok pahlawan hadir untuk mengambil keuntungan demi kepentingan diri pribadi, bahkan agama menjadi senjata dan tameng bagi mereka para politikus negara.

Tuhan menciptakan manusia dengan keberagaman agar menjadi pelajaran berkehidupan bukan menghancurkan kehidupan. Tidak perlu ada lagi yang mengatakan “aku paling beriman dan paling benar”, “kamu kafir dan ajaranmu salah”. Tidak perlu juga untuk saling memaksakan seseorang mengikuti ajaran  yang kita yakini, biarlah kepercayaan yang dia yakini untuk dirinya sendiri tanpa paksaan, toh itu akan menjadi kebaikan untuk dia agar bisa berkehidupan lebih baik ke sesama manusia.

Bisa kita pikirkan bersama, apakah mungkin Tuhan menciptakan manusia dengan keberagaman agama, suku dan ras. Kemudian Dia Tuhan yang Maha Bijaksana hanya memilih dari salah satu untuk menjadi pilihan-Nya?

Sungguh lemah zat ke-TuhananNya jika hanya memilih salah satu dari golongan tersebut. Cara berfikir Tuhan tidak sama dengan cara berfikir manusia, Dia menciptakan perbedaan agar saling melengkapi bukan saling eliminasi sesama golongan ataupun antar golongan.

Marilah kita mulai hidup berdampingan dengan kedamaian walau penuh keberagaman. Apalagi kita di indonesia yang memiliki banyak keberagaman. Jangan biarkan mereka memanfaatkan keberagaman ini menjadi pembantaian. Sudah bukan saatnya lagi kita berfikir untuk saling mengangkat suatu golongan agar terlihat menjadi pemenang, karena hal tersebut tidak akan menjadikan indonesia lebih maju. Sudah bukan saatnya kita hanya berdebat tentang agama, karena cara berfikir kita tidak akan lebih luas dan malah lebih sempit jika hanya berdebat tentang agama.

Sekarang adalah saatnya kita berfikir agar dengan keberagaman kita bisa saling menopang satu sama lain demi kemajuan indonesia, dengan keberagaman berfikir kita bisa satukan pikiran agar pendidikan indonesia lebih maju, bukan lebih hancur.

Menurut J.G.Frazer dalam bukunya The Golden Bough a Study in Magic and religion (1890), ia berpendapat bahwa “Manusia itu memecahkan berbagai macam masalah dalam kehidupannya dengan menggunakan akal dan system pengetahuan. Akal manusia itu terbatas semakin rendah budaya manusia semakin kecil dan terbatas kemampuan akal pikiran dan pengetahuannya”.

Sekarang kita pikirkan bersama, apakah cara berfikir kita terlalu rendah ataukah kita yang tidak menggunakan sistem berfikir yang baik. Apakah kita termasuk manusia yang malas berfikir atau yang mampu berfikir cerdas sehingga dapat menciptakan lingkup kehidupan yang damai dan harmonis.

Sangat aneh jika si golongan A mengatakan bahwa golongannya merupakan golongan penengah yang membawa rahmat untuk semesta alam, dan si golongan B mengatakan bahwa golongannya merupakan golongan yang saling mengasihi, tapi masih ada saja yang menjadi profokator diantara keduanya dan bertentangan dengan ajaran golongan mereka sendiri, bahkan dari kedua golongan tersebut masing-masing memiliki missionaris yang mengemban tugas untuk mengajak orang lain agar termasuk pada golongannya bukan saling mengajak pada hal yang baik demi kepentingan kemanusiaan. Sampai sekarang saya sendiri masih bingung mengapa masih ada forum yang mempertemukan keduanya untuk berdebat bukan untuk bersatu.

Akhir dari tulisan ini saya berpendapat, “Lebih baik berkehidupan tanpa agama jika hanya menciptakan pertikaian, Agama bukanlah alat politik untuk kepentingan pribadi, tapi ajaran yang mengatur agar kita bisa menjadi manusia yang seharusnya, Yaitu manusia yang bermanfaat bagi kehidupan di sekitarnya.”

Sama halnya dengan semboyan manado, “Si tou timou tumou tou.”

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply