KEJU VS POLA HIDUP, PEMICU PENYAKIT JANTUNG!

Sejatinya manusia sebagai makhluk Tuhan tak bisa lepas dari yang namanya sakit. Di sepanjang hidup kita, pasti ada suatu masa kita mengalami sakit, entah itu hanya flu, batuk, atau demam. Sebagai manusia biasa, kita tentu hanya bisa berusaha untuk mengobati dan berdoa kepada Tuhan supaya lekas sembuh. Mungkin juga jika kita sudah pernah terjangkit penyakit tersebut, kita akan berusaha untuk mencegah supaya tidak mengalami sakit yang sama lagi.

Adapun penyakit-penyakit yang sering singgah saat ini ialah stroke, jantung, diabetes melitus, hipertensi, penyakit paru-paru, dan liver. Keberagaman penyakit tersebut jika ditelusuri ternyata memiliki penyebab yang sama, yaitu pola hidup yang kurang sehat. Hal tersebut dapat kita lihat dari bagaimana pola makan remaja hingga orang dewasa saat ini. Junk food, minuman bersoda, hingga daging kalengan. Belum lagi jika ditambah bahwa mereka adalah seorang perokok akut.

Perokok memang seringkali dijadikan sebagai penyebab timbulnya suatu penyakit. Namun, apakah kalian tahu bahwa keju juga digadang-gadang sebagai penyebab sakit jantung?

Seperti yang kita ketahui, saat ini jantung merupakan penyakit yang seringkali singgah di kalangan masyarakat, baik muda maupun lansia. Baik kaya maupun miskin. Begitu juga menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu dengan raihan 29% kematian global setiap tahunnya.

Lalu apa sebenarnya hubungan keju dengan penyakit jantung? Kita tentu tahu jika keju adalah olahan dari susu yang memiliki rasa asin yang khas. Kita pun tahu bahwa keju banyak digandrungi oleh khalayak umum dan dijadikan sebagai berbagai olahan kuliner kerana cita rasanya yang nikmat. Tentu keberagaman pengolahan keju ini semakin membuat keju banyak diminati dan dikonsumsi setiap harinya. Hingga muncul hipotesis bahwa keju dengan kandungan lemak jenuhnya menyebabkan penyakit jantung.

Munculnya hipotesa bahwa kandungan lemak jenuh pada keju diduga sebagai penyebab penyakit kardiovaskular, seperti jantung dan stroke tentu membuat masyarakat resah untuk mengonsumsinya. Pasalnya dari 2.907 orang dewasa yang dijadikan sebagai objek penelitian, sebanyak 2.428 telah meninggal dunia dan 833 diantaranya disebabkan oleh penyakit kardiovaskular.

Namun, ketika diteliti lebih lanjut, ternyata pengidap asam lemak tinggi justru memiliki kemungkinan mengidap penyakit stroke dan jantung lebih rendah. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa keju bukanlah pemicu seseorang mengidap penyakit kardiovaskular (jantung dan stroke).

Menurut penulis, pemicu terbesar seorang mengidap penyakit jantung adalah pola makan yang tidak sehat. Contohnya seperti makan makanan instan atau junk food yang tidak diimbangi dengan olahraga yang teratur. Seperti yang kita tahu bahwa dalam makanan instan (siap saji) pasti terdapat beberapa bahan kimia yang membahayakan, salah satu contohnya adalah pengawet. Mustahil jika  makanan siap saji tanpa pengawet di dalamnya. Karena jika tidak ada pengawet, tentu makanan tersebut akan mudah basi dan merugikan produsen.

Selain dikarenakan oleh pola makan yang tidak sehat, penyakit jantung juga bisa saja disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat. Pada era globalisasi saat ini, dapat kita lihat bahwa kemajuan teknologi semakin pesat. Begitu juga dengan perkembangan alat tranportasi beserta dengan kemudahan yang dimilikinya.

Orang semakin jarang berjalan kaki untuk pergi ke suatu tempat, meskipun jaraknya dekat. Apalagi kemunculan ojek online yang semakin memudahkan kita kemana-mana. Belum lagi ojek online tersebut tidak hanya menyediakan kemudahan akomodasi, melainkan juga kemudahan dalam pemesanan makanan dan belanjaan. Tentu orang akan semakin malas dibuatnya.

Jika sudah begini, orang akan semakin jarang bergerak dan menjadi samakin manja. Apalagi bagi para milenials yang suka akan segala sesuatu yang instan. Sehingga tak dapat dihindari jika saat ini penyakit jantung juga menyerang para remaja. Padahal sebenarnya kita dapat menghindarinya dengan melakukan hal-hal kecil, berjalan misalnya.

Seperti yang kita tahu, ternyata berjalan dapat meningkatkan detak jantung dan menurunkan risiko serangan jantung. Selain itu, berjalan juga dapat menurunkan kadar kolesterol, menurunkan tekanan darah, menjaga berat badan, dan meningkatkan mood. Bayangkan jika kita mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dalam sehari, secara tidak langsung kita juga mencegah terjadinya penyakit jantung. Tak perlu jarak jauh, cukup berjalan untuk pergi ke tempat-tempat yang dekat.

Seperti yang telah disinggung di atas, merokok juga menjadi pemicu terjadinya penyakit jantung. Pendapat bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif mungkin saja benar. Namun, bukan berarti perokok aktif tidak berbahaya. Mereka berdua sama-sama berbahaya. Menjadi seorang perokok, apalagi perokok akut sangatlah sulit untuk berhenti.

Meskipun sebenarnya si perokok sudah tahu akan bahaya rokok itu sendiri. Bahkan di bungkus rokok saat ini pun sudah tertera gambar akan seberapa bahayanya rokok itu bagi kesehatan si pengonsumsi. Rutin mengonsumsi rokok setiap harinya dapat memicu penyakit jantung. Bahan kimia yang terdapat di dalam rokok, seperti nikotin dapat memicu meningkatnya tekanan darah dan detak jantung sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung bagi si perokok. Dengan begitu, akan lebih baik jika kita menghindari rokok apalagi jika hanya coba-coba yang akhirnya berujung dengan ketagihan dan menjadi pecandu.

Mengetahui penyakit jantung semakin marak menyerang kesehatan dan mejadi penyebab terbesar kematian global, marilah saat ini kita mulai untuk mengatur pola hidup serta pola makan kita. Tak perlu dengan melakukan hal-hal yang berat, kita dapat memulainya dengan mengonsumsi makanan sehat, seperti sayur, buah-buhahan, mengurangi mengonsumsi junk food dan minuman bersoda serta olahraga teratur. Dengan begitu, kita dapat menghindari terjadinya penyakit jantung pada diri kita.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply