Kematian yang Mematikan

Go on, get out! Last words are for fools who haven’t said enough! (Karl Marx)

Mati itu perkara biasa, dari zamannya Adam sampai detik ini peristiwa kematian merupakan hal yang tidak asing bagi kehidupan. Kenapa harus gusar dan gundah gulana dengan kata mati, fenomena kematian sudah lazim bagi manusia bahkan sudah menjadi rukun dari suatu peradaban. Coba kalian bayangkan! takdir mati telah duduk di samping kalian, ada hal luarbiasa atau anehkah dari situ? Saya rasa tidak ada.

Tidak ada realitas nyata bagi bayang-bayang yang tersirat di benak manusia ketika berpikir tentang mati pasti tidak ada sama sekali bentuk kebenaran konkritnya di dunia ini. Realitas mati sebenarnya hanya nyata ketika manusia benar-benar sudah mati. Lalu apa guna manusia berbicara persoalan mati? Saya rasa tidak ada gunanya. Hal tersebut hanya membuang-buang waktu saja, ini permasalahan bersama, kapan manusia bisa berpijak pada kenyataan?

Mati adalah hal yang sudah biasa, lalu akan berkembangkah peradaban apabila masih saja memikirkan hal yang biasa atau jangan-jangan pola pikirnya dibalik? “Begini!” Ini hanya sebatas terkaan saya saja. mungkin saja manusia sekarang lebih tertarik untuk memikirkan hal yang jelas-jelas tak berguna dibanding hal yang lebih berguna, contoh “ketidakadilan”. Kenapa kasus ketidakadilan masih merebak di bumi Indonesia?

Pertama jelas sekali tidak banyak orang yang mengkaji dan peduli terhadap tindakan keadilan, kebanyakan orang justru lebih senang dengan berbuat “tidak adil” yang penting dirinya senang. Kedua karena mereka menganggap biasa tindakan “ketidak adilan” itu, dianggapnya hal itu sudah biasa, wajar saja apabila sama sekali tidak terpikirkan bagaimana cara untuk menghilangkan prilaku “ketidak adilan” dari muka bumi khususnya Indonesia, Ciputat.

Yang menurut saya benar adalah, mati merupakan perkara biasa, sudah tidak bisa lagi diusahakan bagaimana caranya supaya tidak mati, tapi keadilan, menurut saya masih ada waktu dan cara untuk berusaha menegakan keadilan. Cobalah sering-sering berpikir lebay tentang keadilan, jangan terlalu lebay bahas kematian, dampaknya sudah jelas.

Lebih banyak berpikir tentang mati-hidup kalian akan tetap melarat dan lapar, maka itu perbanyaklah berpikir tentang keadilan. Insya Allah akan sejahtera. Mati ya mati saja, apa urusannya dengan orang yang masih hidup. Sampai pada kesimpulan bahwa Mati yang Mematikan itu adalah ketika Mati dipikirkan terlalu lebay dan bikin lambung kelaparan.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply