KERJA KEMANUSIAAN ITU AGAMA, BUDAYA, ATAU APA?

“Panggilan kemanusiaan akan pergi ke jalan yang paling cinta. Jalan yang tidak pernah membedakan bau darah seseorang”.

Mengapa agama di dunia ini  menyebar, diterima, dan tetap eksis hingga sekarang?

Jawabannya tidak lain adalah karena sosok pembawa agama-agama itu mengajarkan tentang etika kemanusiaan dan penyebarluasannya dengan kedamaian.

Bagaimana mungkin manusia dapat menerima dengan begitu yakin agama yang mereka anut jika dilatarbelakangi dengan kekerasaan? Atau bagaimana mungkin dapat diterima jika tidak ada cahaya kedamaian yang dibawa oleh sosok pembawa agama tersebut?

Nabi Muhammad misalnya, dalam ajaran Islam, Beliau diutus tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyempurnakan akhlak (etika). Banyak sudah kisah dan cerita menarik yang diulas tentang bagaimana rasa kemanusiaan yang tercermin melalui sikap beliau terhadap non muslim.

Adalah kisah yang sangat manusiawi ketika Nabi Muhammad paling perduli terhadap kondisi seorang pengemis tua dari bangsa Yahudi yang menetap di salah satu sudut pasar di Madinah. Setiap hari beliau datang menyuapi pengemis yang telah renta dan tuna netra. Dan setiap itu pula, orang tua tersebut menyebut-nyebut Nabi Muhammad sebagai seseorang yang jahat, harus dijauhi, dan lain sebagainya.

Hingga pada akhirnya, Yahudi itu heran ketika suatu hari tangan yang biasa menyuapinya berbeda. Adalah Abu Bakar, salah satu sahabat nabi, yang menyuapi orang tua tersebut dan mengabarkan bahwa orang yang selama ini menyuapinya adalah Nabi Muhammad.

Yesus, demikian pun, yang diyakini sebagai utusan sekaligus Tuhan bagi umat kristiani juga menekankan pentingnya etika kemanusiaan pada sesama manusia. Perspektif kemanusiaan di dalam Kristen adalah bahwa manusia tersebut dikasihi bukan karena pandangan kelompok masyarakat, tetapi bernilai sebagai “seorang manusia”. Bukan karena ada ciri-ciri jasmani dan rohaninya, seperti : seagama, sesuku, sebudaya, saudara, ataupun yang lainnya. Namun jika itu musuh sekalipun, harus ditolong apabila membutuhkan.

Kedua sosok tersebut telah mengajarkan arti kemanusiaan dengan menaburkan perilaku manusiawi tanpa pandang bulu. Pun pada ajaran agama lainnya. Agama tidak hanya mengajarkan hukum dan ibadah yang transendental. Lebih dari itu, kemaslahatan bersama-lah yang terpenting.

“Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena ia begitu tinggi mengangkat jiawa, dimana hukum-hukum kemanusian dan kenyataan alam tidak mampu menemukan jejaknya”. – Kahlil Gibran

Di suatu kesempatan, saya pernah membaca tentang kisah panggilan kemanusiaan yang dilakukan oleh Bill Gates. Siapa yang tidak mengenal sosok penemu Microsoft yang sangat kaya raya itu? Namun bukan tentang perusahaan yang ikonnya hampir wajib ada di setiap komputer semua orang atau berapa penghasilannya, tetapi sosok pemiliknya itu yang ternyata seorang atheis.

Kerja-kerja kemanusiaan yang telah dilakukan Bill Gates tidak tanggung-tanggung. Pendiri Microsoft ini menyumbangkan dana hingga US$ 40 juta untuk yayasan Indonesian Health Fund. Selain itu, Bill Gates bersama istri juga mendirikan Bill and Melinda Gates Foundation yang tercatat menghabiskan lebih dari USD 3 miliar setiap tahunnya untuk berbagai kegiatan kemanusiaan.

Bukan hanya Bill Gates, pun mungkin orang-orang atheis lainnya di luar sana yang telah banyak melakukan hal yang berhubungan dengan kemanusiaan.

Istilah atheis itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, atheos, sebutan yang diperuntukkan kepada orang-orang yang kepercayaannya bertentangan dengan kehadiran agama atau kepercayaan yang ada sekarang. Singkatnya, orang-orang tersebut tidak mempercayai Tuhan dan tidak memiliki agama (Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, dan lainnya).

Disini saya tidak bermaksud menyampaikan bahwa menjadi atheis lebih baik dari orang-orang yang memiliki agama (itu), dan yang lain buruk. Tidak.

Yang ingin saya sampaikan adalah pertanyaan ini, apakah karena suatu ajaran agama dan budaya yang menjadi sebab seseorang melakukan dan memenuhi panggilan kerja kemanusiaan? Bukankah itu berpulang kepada rasa dan panggilan kemanusiaan untuk saling menolong dari orang  tersebut sendiri? Lalu siapa saja yang seharusnya terdetik rasa kemanusiaan di hatinya?

“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras pun ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana”. – Pramoedya Ananta Toer

Lagi, tantangan kerja-kerja kemanusiaan hadir melalui bencana yang belakangan ini menimpa saudara kita di Palu dan Donggala. Guncangan gempa dahsyat dengan magnitudo 7.7 dan tsunami melumpuhkan daerah Sulawesi Tengah itu.

Badan Nasional Penanggulan Bencana melaporkan bahwasanya ribuan orang meninggal dunia, ratusan orang menderita luka, dan ribuan lainnya mengungsi. Pada masa-masa awal terjadinya bencana, persediaan logistik dan kebutuhan dasar untuk para korban masih terbatas. Akses jalan, komunikasi, fasilitas medis, dan listrik juga sangat memprihatinkan.

Pada peristiwa ini, tampak kerja-kerja kemanusiaan secara serempak dilakukan oleh berbagai kalangan. (Mereka) yang terpanggil rasa kemanusiaannya datang memberikan bantuan kepada “siapa pun”. Tanpa mempertimbangkan siapa yang akan ditolong, siapa yang menolong. Yang terpenting, panggilan kerja-kerja kemanusiaan terpenuhi. Tanpa perlu mendebat tentang latar belakang agama dan budaya masyarakat di Palu dan Donggola.

Semuanya memiliki satu tujuan, yakni “membantu” . Kesadaran bahwa yang terpenting dari hidup ini adalah rasa memiliki dan bagaimana diri ini dapat menebar kebermanfaatan untuk orang lain (kemanusiaan).

Tidak terkecuali dengan apa yang telah dilakukan oleh Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Lembaga kemanusiaan yang berbasis di Swiss ini mempunyai misi yang semata-mata bersifat kemanusiaan. Khusus pada bencana di Palu dan Donggala, bekerja sama dengan IFRC, Palang Merah Indonesia mendukung dalam mengumpulkan dana untuk bantuan korban bencana. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk tenda penampungan, kebutuhan sehari-hari, bahan pangan, kesehatan, air bersih, sanitasi dan higienitas.

Dapat kita telaah, bantuan itu semua secara menyeluruh dapat dirasakan oleh semua korban bencana di Palu dan Donggala. Tanpa memilah latar belakang budaya dan agama mereka.

Pada lain kesempatan, saya membaca tentang krisis kemanusiaan yang ada di Myanmar, Filipina, dan Bangladesh. Yang kita ketahui masyarakat tersebut beragam agama dan budayanya. Namun tetap saja, tantangan dan panggilan kemanusiaan itu berseru. Berbagai pihak kemanusiaan berkolaborasi dengan tujuan yang “satu” tadi, terjun meluncurkan bantuan. Yang perlu diperhatikan adalah keharusan kita menghormati agama dan kebudayaan lokal agar cara memberikan bantuan tidak kontra produktif dengan agama dan kebudayaan lokal tersebut.

Lewat ini semua, saya ingin menyampaikan bahwasanya manusia di muka bumi ini memang memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda, pun soal agama. Namun, penting bagi kita untuk selalu mengedepankan nilai kemanusiaan dalam membantu sesama manusia tanpa memperhatikan suku, agama, dan ras orang yang akan kita beri bantuan.

“ Bagaimana bisa, manusia tetap eksis ketika kemanusian telah mati”. – Ahmad Tohari

Agama dan budaya harus dijunjung tinggi karena keduanya tentulah mengajarkan kepada kebaikan dan saling hormat untuk menghargai sesama manusia. Seperti esensi dibawanya agama itu sendiri, penuh kedamaiaan dan maslahat untuk umat. Peran agama dan budaya, pun sebagai dasar kerja kemanusiaan, harus dioptimalkan agar tidak menyimpang dari nilai dan kegiatan kemanusiaan itu sendiri.

Jangan ciptakan sekat pemisah yang membuat kita pilah-pilah dalam memenuhi panggilan kemanusian. Pun jika kita yang berada di posisi mereka, tentulah kita memelas kasih dan uluran tangan orang lain juga. Siapapun itu.

Nilai-nilai dan panggilan kerja kemanusiaan itu dapat mendobrak sekat pemisah karena adanya perbedaan agama dan kebudayaan. Tantangan kerja kemanusian harus segera dipenuhi karena sejatinya jika kita seorang manusia, tentulah kita harus “memanusiakan” manusia lainnya.  Karena (kerja kemanusiaan) itu adalah agama dan budaya kita semua

Sumber : Qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply