Kesadaran Berpikir Homo Sapiens di Bumi Nusantara

Pernah suatu ketika saya mendengar kisah perjalanan Semar yang menemukan pulau kendhang (Jawa kuno: pulau hanyut) Agus Sunyoto. Di huni oleh makhluk purbakala di antaranya puak-puak dari kawanan kera raksasa.

Tentunya ini sangat menarik minat saya menelusurinya lebih lanjut. Tentang siapa sebenarnya makhluk purbakala itu. Saya selalu yakin bahwa lahirnya peradaban di dunia  berawal di bumi Nusantara. Atau biasa kita kenal dengan pulau yang hilang yaitu Atlantis. Plato.

Zaman purbakala adalah zaman dimana makhluk hidup terus megalami perkembangan menuju kesempurnaan. Yang biasa kita kenal dengan Evolusi.

Mengambil satu contoh binatang yang berdiri tegak Homo Erectus (Manusia Tegak) Di wilayah Asia. Saya katakan binatang karena memang pada dasarnya bila di lihat secara fisik memiliki kesamaan pada postur tubuh. Utamanya di kalangan para kawanan kera besar itu tadi.

Manusia tergolong sebagai Animal Rationale (binatang berpikir) menurut penjelasan Aristoteles. Sangat cocok bila disandingkan dengan makhluk purbakala yaitu Homo Sapiens (manusia bijaksana).

Kita ambil kata bijaksana di sini karena akal pada manusia tersebut telah berfungsi normal. Sehingga melahirkan genus homo yang masuk pada fase pengenalan terhadap Budaya dan sejarah.

Itu terlihat setelah di temukannya beberapa benda purbakala seperti peralatan perkakas yang terbuat dari batu dan tulang belulang hewan. Serta beragam jenis benda lain. Adapun lukisan pada dinding gowa yang menandakan keberadaannya.

Terdapat beberapa jenis manusia purba di wilayah Asia bagian Timur. Nusantara. Diantaranya adalah Meganthropus Paleojavanicus (manusia besar), Pitecanthropus (manusia kera yang berjalan tegak), dan Homo (manusia). Dari jenis Pitecanthropus dan Homo itu terbagi beberapa bagian.

Saya ingin mengajak pembaca untuk mengenal moyang si manusia raksasa satu ini yakni Meganthropus Paleojavanicus. Manusia kera primitif dari jawa oleh Van Koenigswald di temukan fosilnya sekitar tahun 1936 M di daerah Sangiran, Jawa Tengah.

Saya pun berpikir bahwa kera raksasa inilah yang dimaksud Semar. Tak mau kalah, Eugene Dubois menemukan fosil jenis Pitecanthropus moyang para manusia tegak. Di desa Trinil Jawa Timur pada tahun 1891.

Nah untuk jenis Homo sekitar 15.000 – 40.000 SM. Von Koeningswald dan Weidenrich antara tahun 1931 – 1934. Mencatat sejarah baru dalam penemuannya. Bahkan tercatat pula dalam daftar buku best seller Yuval Noah Harari. Sapiens.

Dimana dikatakan Homo Sapiens (manusia bijaksana) dalam bukunya Yuval Noah Harari. Untuk mencapai ke fase sempurna. Itu mengalami proses perjalanan panjang. Berpindah tempat untuk mencapai rantai makanan. berkembang biak, menciptakan kelompok, berinteraksi di lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup.

Dalam kacamata pandangan Islam dikatakan bahwa Adam dinobatkan sebagai bapak manusia. Bahkan Al-Qur’an menjelaskan demikian bunyi firmanNya: (Ingatlah) Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (QS. Shad:71).

Manusia (Khalifah) di muka bumi yang diajarkan nama-nama. Untuk membuktikan hal ini tidak ada salahnya bila di teliti secara Ilmiah. Contohlah yang kita kenal sekarang Teori Evolusi Charles Robert Darwin. Itu pun masih dipertanyakan teorinya sampai sekarang.

Seorang pakar tafsir Al-Qur’an yang justru mengambil jalan tengah. Sebut saja Prof. Quraisy Shihab. Perbincangannya dengan Najwa Shihab dalam channel youtube. Berikut penjelasan dari beliau mengatakan bahwa Al-Qur’an hanya menggambarkan suatu kejadian yang bermula dari A sampai Z.

Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci mengenai proses kejadian manusia tersebut. Bisa jadi dalam batang tubuh diantara awal dan akhir itu terdapat penjelasan tentang proses kejadian manusia yang oleh berangkat dari teori Darwin. Ada sebagian yang mendukung. Bahkan tak sedikit pula yang bertentangan dengan teorinya itu.

Permasalahan tentang asal muasal nenek moyang manusia tentunya masih hangat diperbincangkan sampai saat ini. Bahkan teori evolusi yang fenomenal dan kontroversial di telinga pembacanya dipaksa untuk melahirkan dua kubu. Ibarat blok barat dan blok timur. Keduanya saling bertentangan antara kelompok ilmiah dan religius.

Yang menarik pada diri penggagas teori tersebut menyatakan bahwa belum sepenuhnya ada kesepakatan bulat untuk memvonis bahwa asal muasal manusia itu dari kera. Ia baru sampai pada batas dugaan semata. Belum sepenuhnya ia menyimpulkan hal tersebut. Masih sebatas hipotesa penelitian.

Boleh dikatakan saya malah justru lebih nekat menyebut bahwa Adam yang bijaksana sama dengan homo sapiens (manusia bijaksana). Saya hanya melihat dari perspektif kesadaran akal saja. Berangkat dari Homo Floresiensis dari Flores dimana kesadaran berfikir telah lahir.

Bisa dilihat lewat diterapkannya tata kehidupan yang sedemikian diatur. Lanjut pada homo erectus si manusia tegak dengan pengenalannya pada benda-benda peralatan berburu. Masuk pula pada tahap pengenalan atau bahkan tata cara pengolahan jenis makanan.

Homo sapiens si manusia bijak adalah akhir titik evolusi manusia yang diciptakan dari tanah. Dikarenakan memang pada dasarnya makanan sebagian besar diperoleh dari tanah. Yaitu jenis tumbuhan dan umbi-umbian.

Untuk memastikan atau lebih jelas mengenai asal muasal manusia perlu penelitian lebih lanjut. Lebih mendalam lagi agar kelak tidak hanya teori evolusi Darwin. Tapi juga teori evolusi dari anak cucu bangsa sendiri.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply