Ketahanan Ideologi Islam

“Pensil mengenai Diri menuliskan seratus hari-hari ini, guna mencapai fajar suatu hari esok. Apinya membakar seratus Ibrahim, sehingga sebuah lampu Muhammad dapat diyalakan.”
—Muhammad Iqbal—

Islam merupakan agama yang nilai aksiomatiknya paling berpengaruh terhadap pemeluknya. Ia tidak hanya dijadikan sebagai ritual keagamaan, tidak hanya dijadikan sebagai way of life, tetapi juga sebagai ideologi atau pemikiran yang sepanjang sejarahnya, telah membuktikan dirinya sebagai suatu kekuatan yang berkali-kali terus memperbarui dirinya sendiri.

Islam membuktikan bahwa ia berhasil hidup kembali dari mati suri yang dikatakan oleh para pengamat Barat—seperti Marshall Hodgson dan Albert Hourani—sebagai “lonceng kematian pandangan dunia Islam”, Ideologi Islam menggerakkan organisasi-organisasi sempalan, partai-partai politik, serta gerakan-gerakan masyarakat dan keagamaan. Ideologi ini terbukti memiliki ketahanan kuat, menolak dengan realitas nyata atas anggapan bahwa ia tak dapat bertahan terhadap modernitas.

Teori Kebangkitan Islam

Dalam memahami fenomena bangkitnya ideologi atau pemikiran Islam, terdapat istilah revivalisme Islam atau Islamic resurgence. Dalam buku Politik Kebangkitan Islam (2001) yang dieditori oleh Shireen T. Hunter, tersirat bahwa revivalisme Islam adalah suatu gerakan yang menginginkan adanya pengidentifikasian kembali atau membangkitkan kembali jati diri yang sudah melemah atau bahkan hilang.
Revivalisme Islam kontemporer muncul karena satu faktor utama, yaitu merosotnya moral dan perilaku umat Islam yang disebabkan oleh terutama: adanya sekulerisasi dan westernisasi.
John L. Esposito dalam Ancaman Islam: Mitos atau Realitas? (1994), juga menjelaskan bahwasannya kebangkitan Islam itu muncul karena pandangan Barat—yang hadir di negeri-negeri muslim—terhadap umat Islam sebagai suatu masyarakat yang anti-modernitas dan dengan demikian merupakan rintangan bagi kemajuan sosial dan politik.

Oleh sebab itu, mereka “membantu” peradaban muslim dengan melakukan sekulerisasi, marginalisasi nilai-nilai Islam dan meredupkan aktivitas orang Islam sebagai suatu umat, agar dapat mewujudkan perubahan yang mereka anggap sesuai dengan modernitas.
Akan tetapi, kata Esposito, pada kenyataannya, para ulama dan aktivis gerakan revivalis Islam justru memanfaatkan teknologi modern untuk menggerakkan dukungan massa dan menyampaikan pandangan dan pesan-pesan kepada umat Islam, baik dalam skala nasional maupun transnasional.
Mereka berhasil membangun kekuatan dari dalam sehingga Islam menjadi penting kembali. Islam mendapatkan kembali prestige dan harga dirinya.

Mereka menunjukkan bahwa umat Islam tidak anti modernisasi. Di lain pihak, menurut Chandra Muzaffar dalam esai “Kebangkitan Islam: Suatu Pandangan Global dengan Ilustrasi dari Asia Tenggara”, kebangkitan Islam sering dipandang sebagai ancaman bagi mereka yang memegang nilai lain. Islam sebagai alternatif, dianggap tantangan terhadap sistem sosial yang dominan pada saat ini.

Beberapa Contoh Ketahanan Ideologi Islam

Sejak invasi peradaban Barat ke negara-negara muslim di Asia-Afrika sejak abad ke-15 hingga 20, serta runtuhnya Khilafah Ustmani pada 1922 akibat kekalahan dalam Perang Dunia I, umat Islam kehilangan kepercayaan diri terhadap tatanan hidup dan sistem nilai yang bersumber dari agamanya.

Kesultanan-kesultanan dan khilafah yang berdiri selama berabad-abad, runtuh tak kuasa menangkal serbuan peradaban Barat. Rakyat di negeri-negeri Asia-Afrika didiktekan apa yang baik untuk mereka, apa yang disebut dengan modernitas, apa yang disebut dengan moral yang beradab, apa yang disebut dengan toleransi, dan apa yang disebut dengan pemerintahan yang baik.

Semuanya berdasarkan pengalaman dan sudut pandang Barat.

Ketahanan ideologi Islam dapat kita temukan di berbagai negara, mulai dari Turki, wilayah-wilayah Maghribi hingga Indonesia. Pada 1970, revolusi Islam Iran berhasil menumbangkan rezim Shah. Adalah Imam Khomeini, pemimpin spiritual di Iran yang menjadi tokoh sentral yang mampu menggerakkan massa menuju revolusi.

Dua dekade kemudian, milisi-milisi jihad yang bersatu dibawah Komando Aksi Jihad Gabungan Afghanistan, berhasil menumbangkan rezim komunis dan mendirikan negara Republik Afghanistan yang berlandaskan Islam. Keberhasilan yang sama juga terjadi di Pakistan dan Checnya.

Di lain pihak, kita juga dapat menemukan gerakan revivalis atau Islamic resurgence yang berhasil membawa warna hijau di ladangnya masing-masing. Pada abad ke-18, terdapat tokoh Muhammad Abdul Wahhab yang sukses menyebarkan pahamnya—purifikasi konservatif yang biasa disebut dengan wahhabisme—di Saudi Arabia, dan Shah Waliyullah yang membawa gagasan penafsiran kembali Islam yang progresif di India.

Kemudian pada abad ke-19, empat tokoh besar dalam sejarah telah menaikkan prestige dan reidentifikasi umat Islam ke tingkat yang lebih baik dari masa sebelumnya, yakni Sayyid Muhammad bin Ali al-Sanusi di Libya, Jamaluddin al Afghani. Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridha di Mesir, dan Mulla Hadi Sabziwari di Iran.

Di abad ke-20, revivalisme Islam kembali mendapatkan momentumnya melalui pemikiran dan gerakan Hasan al Banna, Sayyid Hawa, dan Sayyid Quthb di Mesir. KetIganya merupakan think tank gerakan Ikhwan al Muslimin, sebuah organisasi Islam terbesar di dunia yang ada di 70 negara dengan nama yang berbeda.  Kemudian Badiuzzaman Said Nursi di Turki, ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) dan Darul Arqam di Malaysia, serta Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya dan

Gerakan Tarbiyah di Indonesia.

Ideologi Islam: Renewing Itself
Ideologi Islam berhadapan dengan loyalitas-loyalitas  baru yang muncul di setiap zaman. Ia pernah berhadapan dengan penguasa dan kelompok-kelompok yang meminggirkannya, bahkan memusuhinya dalam lingkup publik. Akan tetapi, ideologi ini selalu muncul kembali sebagai salah satu penentu loyalitas serta identitas masyarakat yang paling signifikan di dunia Islam. Atheisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, materialisme, nyatanya tidak berhasil menembus benteng keimanan dan kecintaan banyak muslim terhadap ideologi Islam, hingga kini.

Ideologi Islam muncul dalam berbagai tipe. Ia diperbarui kembali, memjelma menjadi sebuah gerakan kembali, menjawab tantangan zaman kembali, dan berpengaruh kembali. Ideologi ini didekap mulai dari yang menafsirkan Al-Qur’an secara dangkal, hingga yang telah mencapai ma’rifat dalam kesufian.

Ideologi ini tahan dari kelapukan, menyalahi tanggapan seorang orientalis yang mengatakan “Islam seharusnya berada di museum”.

“Ideologi tak hanya sekadar abstrakis yang dicari di belahan otak mana pun, di lipatan kulit mana pun, dan di sel darah mana pun, tidak akan ditemukan.

Ideologi itulah nyata yang lebih nyata daripada tinta. Nyata dalam darah yang tumpah di setiap peperangan. Nyata dalam kejatuhan-kejatuhan. Nyata dalam teriakan revolusi dari timur hingga barat. Nyata dalam pertemanan dan permusuhan.”

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply