Ketika Kita Terlalu Banyak Bicara Syurga

Hampir semua agama mengajarkan bahwa setelah kehidupan yang sekarang ini, akan ada sebuah kehidupan yang baru, yaitu kehidupan yang kekal, yang berbeda sama sekali dengan kehidupan di dunia ini. Ada yang menyebutnya Nirvana, ada yang menyebutnya Surga, ada yang menyebutnya Firdaus.

Harapan akan “surga“ sebagai sebuah tempat yang sama sekali baru dan sama sekali berbeda dengan dunia ini dianggap memampukan umat beragama untuk menghadapi berbagai macam persoalan dan penderitaan yang ada dalam kehidupannya.

Nanti akan ada sebuah tempat baru di mana tidak ada lagi penderitaan, air mata, dan sakit-penyakit. Nanti akan ada kenikmatan yang tak habis-habisnya, yang mungkin tidak sempat dialami di dunia ini karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan. Betapa indah, betapa damai!

Di sisi lain, fokus agama yang terkadang cukup berlebihan mengenai surga bisa membahayakan. Saya akan memberikan dua opini mengenai hal ini. Pertama, jika kita terlalu berfokus pada surga, kita jadi kurang peduli dengan kehidupan saat ini.

Fokus yang berlebihan soal kehidupan kekal yang sama sekali lain dengan kehidupan sekarang membuat kita mengecilkan kehidupan yang sekarang, yang dianugerahkan Tuhan bagi kita. Kita sibuk berkhayal soal kehidupan yang sama sekali lain, tempat yang sama sekali baru, yaitu surga. Kita berpikir bahwa dunia yang sekarang ini fana (bahkan jahat dan sudah dikuasai Iblis), sehingga tidak ada gunanya kita peduli atau menjaga kehidupan di dunia ini.

Pada akhirnya, Tuhan toh akan menghancurkan bumi dan kehidupan yang ada di dalamnya, untuk apa kita susah payah menjaga dan melestarikan bumi ini? Tentu saja ini sikap yang membahayakan, mengingat bahwa dunia yang sekarang ini sangat membutuhkan peran manusia untuk menjaga dan melestarikannya.

Siapa yang akan peduli pada hewan-hewan yang terancam punah? Siapa yang akan peduli pada perusakan lingkungan? Siapa yang peduli pada menipisnya lapisan ozon? Siapa yang akan peduli pada nasib orang-orang miskin dan kelaparan di dunia ketiga? Tidak ada… Jika kita hanya berfokus pada Sorga.

Bukan hanya itu, fokus berlebihan terhadap surga juga menghasilkan sikap eskapisme. “Ah, biar saja saya miskin di dunia ini, toh yang penting saya masuk souga.” Tak jarang saya mendengar ungkapan ini dari orang-orang beragama.

Kita menyangkali hidup yang sekarang sebagai “hidup yang sementara,” sehingga kita hanya perlu menerima takdir tanpa perlu melakukan perbaikan. Toh hidup cuma sementara, tidak penting untuk memperjuangkan hidup yang fana ini. Yang penting kita terjamin di surga.

Alasan ini dipakai beberapa orang untuk menghindar atau berlari dari kenyataan yang ada, dan juga dapat dijadikan pembelaan terhadap keadaan hidupnya yang menyedihkan. Orang-orang ini kehilangan motivasi dan semangat untuk memperbaiki dirinya, juga hidupnya.

Ia berpikir memang selayaknya dia hidup menderita di bumi ini. Mereka hidup seperti zombie-zombie yang pasif dan tanpa semangat, menunggu hari kematian untuk “kembali ke surga.” Padahal Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang berbudi, juga dapat melakukan banyak hal secara kreatif.

Manusia bisa mengubah dan menentukan nasibnya sendiri. Tuhan tidak pernah mencegah manusia untuk berusaha mengubah nasibnya di dunia ini karena janji akan surga. Manusialah yang salah mengerti.

Kedua, fokus yang berlebihan terhadap surga juga otomatis menimbulkan fokus berlebihan terhadap neraka. Neraka dipercaya sebagai tempat yang buruk, lawan dari surga.

Di neraka, seseorang akan mengalami penderitaan tak henti-hentinya dan kekal. Ketika seseorang terlalu fokus pada surga, dia juga pasti akan merasa sangat takut pada neraka. Kehidupannya di dunia ini jadi dikontrol dan disetir oleh ketakutannya pada neraka, sehingga semua perbuatannya di dunia ini dilakukan atas dasar ketakutan.

Saya berbuat baik supaya saya masuk surga… dan supaya tidak masuk neraka.

Beberapa pemuka agama menganggap hidup yang disetir oleh ketakutan ini baik untuk menyetir kelakuan umat. Terbukti banyak sekali khotbah-khotbah para pemuka agama yang menyangkut surga dan neraka. Tapi apakah itu yang Tuhan inginkan?

Saya percaya Tuhan ingin umat-Nya berbuat baik, tetapi bukan atas dasar ketakutan, melainkan kasih kepada Tuhan. Rasa takut berlebihan akan neraka ini juga melahirkan orang-orang yang munafik, yang melakukan sesuatu untuk sesamanya bukan karena rasa tulus, melainkan untuk kepentingannya sendiri: masuk surga.

Kebaikan bukan lagi menjadi sesuatu yang memang seharusnya dilakukan manusia sebagai makhluk berbudi, melainkan dilakukan untuk kepentingan pribadi: masuk surga. Bukan hanya itu. Lebih parah lagi, ketakutan akan neraka dipakai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menyetir seseorang melakukan perbuatan yang sebenarnya tidak dikehendaki Tuhan.

Contohnya terorisme atas nama agama, pembunuhan atas nama agama. Motif dan polanya sama: mengorek ketakutan dalam diri manusia terhadap neraka, dan menjanjikan surga. Rasa takut yang berlebihan itu membutakan mata, bahkan membuat seseorang tidak mampu lagi melihat Tuhan yang sebenarnya.

Akhir kata, berharap akan sebuah tempat yang bebas dari penderitaan adalah sesuatu yang baik, bahkan memang diajarkan oleh Kitab Suci agama-agama. Namun, fokus berlebihan terhadap hal itu bukan sebuah hal yang baik.

Tuhan menciptakan manusia di dunia ini untuk menghidupi kehidupan yang sekarang: Hidupilah dengan ucapan syukur dan kebahagiaan. Tuhan juga bukan menciptakan manusia untuk hidup dalam ketakutan terhadap neraka: Mengapa harus hidup dalam ketakutan?

Tuhan ingin kita menghidupi kehidupan ini dengan penuh ucapan syukur, dan ucapan syukur itu kita wujudkan lewat kecintaan kita terhadap hidup saat ini dan juga pada dunia ini. Berapa banyak orang beragama sudah mempedulikan bumi dan orang-orang di dalamnya? Berapa banyak khotbah-khotbah berfokus pada imbauan untuk memelihara lingkungan dan mempedulikan kemiskinan, daripada berbicara soal surga? 

Sudahkah kita menyelidik Kitab Suci kita lebih dalam, bahwa kitab itu juga berbicara hal-hal lain selain surga? Jangan-jangan banyak perintah Tuhan yang terlewati oleh kita karena kita terlalu fokus pada surga.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply