Ketika Wanita Nasrani Mendoakan Nabi Saw

Tahun 9 hijriyyah dikenal sebagai tahun para delegasi (‘aam al-wufuud). Pada tahun ini delegasi dari berbagai kabilah di semenanjung Arab dan sekitarnya mendeklarasikan kepatuhannya kepada ajaran Nabi Muhammad Saw setelah mereka menyaksikan kemenangan demi kemenangan yang diperoleh Rasul Saw dan para sahabat. Beberapa buku sejarah menyebutkan pada tahun ini terdapat 73 delegasi.

Meskipun demikian, masih terdapat beberapa wilayah yang masih menunjukkan pembangkangan. Nabi mengirimkan utusan atau pasukan perang (yang disebut Sariyyah) ke wilayah tersebut dengan mengedepankan sikap persuasif kecuali apabila musuh menyerang atau menunjukkan sikap keras.

Di antara pasukan sariyyah yang diutus ialah pasukan yang dipimpin Ali ibn Abi Thalib kepada Kabilah Thayyi’ dengan pasukan sebanyak 150 orang Anshar.

Dari sariyyah ini Ali ibn Abi Thalib membawa puluhan tawanan ke Madinah. Di antara mereka terdapat seorang perempuan Nasrani bernama Saffanah binti Hatim Al-Thayyi’, putri pemimpin Kabilah Thayyi’. Hatim Al-Thayyi’ terkenal karena kedermawanannya.

Para tawanan ditempatkan di satu tempat dekat Masjid. Ketika Rasul Saw menuju masjid dan melewati tempat para tawanan, Saffanah berseru: “Wahai Muhammad, jika engkau membebaskan aku maka engkau tidak menjadikan orang Arab gembira atas kemalanganku. Ayahku telah meninggal dan waliku menghilang. Tolonglah aku, semoga Allah akan berbuat baik padamu.

Sungguh ayahku adalah seorang pemimpin bagi kaumnya, melepaskan orang yang menderita, memaafkan orang yang melakukan kesalahan, menjaga tetangga, melindungi kaum lemah, menghormati tamu, memberi makan, mengucapkan dan menyebarkan salam serta tidak pernah menolak orang yang meminta bantuan. Aku adalah putri Hatim Al-Thayyi’.”

Baca Juga: Rasulullah dan Penistanya
Nabi berkata pada Saffanah: “Apa yang telah diperbuat ayahmu adalah sifat kaum mukminin yang sesungguhnya. Jikalau ayahmu seorang Muslim, niscaya kami mendoakannya.”

Nabi kemudian memerintahkan kepada para sahabat agar memperlakukan Saffanah dengan baik karena ayahnya mencinta akhlak mulia dan Allah SWT mencintai akhlak mulia.

Namun pada saat itu permohonan Saffanah agar Nabi Saw membebaskannya belum dapat dipenuhi oleh Nabi. Nabi pun melanjutkan berjalan ke masjid.

Pada hari berikutnya terjadi dialog yang sama, tetapi permintaan Saffanah agar dibebaskan belum membuahkan hasil. Pada hari ketiga, Saffanah melihat ada seorang lelaki datang dari belakang Nabi (menurut cerita dari Adi ibn Hatim, lelaki tersebut adalah Ali Ibn Abi Thalib). Dia memberi isyarat agar ia mengulangi kalimat yang pernah disampaikan kepada Nabi sebelumnya. Saffanah berdiri dan menyampaikan kembali permohonannya untuk yang ketiga kali.

Nabi menjawab: “Jangan tergesa-gesa, saya telah memutuskan untuk mengembalikanmu bersama orang yang dapat dipercaya yang dapat membawamu pada tempat tujuan, dan juga sementara ini persiapan perjalanannya belum selesai”.

Kemudian ketika ada suatu kafilah akan berangkat dari Madinah menuju Suriah, Saffanah memohon kepada Nabi agar mengizinkannya ikut dengan kafilah tersebut untuk bergabung dengan kakaknya yang ada di Suriah. Nabi pun mengabulkan permintaannya dan mengatur semua fasilitas untuk perjalanannya.

Ketika Saffanah melihat semua pemberian Rasul yang begitu banyak, Saffanah berkata: “Wahai Muhammad, ini adalah pemberian orang yang tidak takut miskin.”

Nabi menjawab: “Demikianlah Allah Swt mendidik (mengajarkan) saya.” Saffanah berkata: “Izinkan saya mendoakanmu.” Nabi berkata pada para sahabatnya: “Dengarkanlah doanya dan aminkan.”

Kemudia Saffanah memanjatkan doa: “…semoga Allah menjadikan kebaikanmu tepat sasaran, semoga Allah tidak pernah menjadikanmu butuh pada orang durhaka dalam suatu apa pun, dan semoga Allah tidak mengambil karunia seorang yang mulia atas suatu kaum melainkan menjadikanmu sebagai sebab pengembalian karunia tersebut.” Nabi Saw berkata: “Amiiin..!”

Sesampainya Saffanah di Suriah dan bertemu dengan saudaranya, ‘Adi ibn Hatim, ‘Adi bertanya: “Bagaimana menurutmu tentang lelaki ini (maksudnya Nabi Muhammad Saw)?”

Baca Juga: Meneladani Sayyidina Imam ‘Ali, Memikul Tsaqal Rasulullah
Saffanah menjawab: “Demi Tuhan, menurutku engkau harus menyusulnya segera. Nika orang ini benar-benar seorang Nabi, maka orang yang pertama mempercayainya akan memiliki keutamaan; dan jika ia seorang raja, maka kamu tidak akan terhina dalam kemuliaan Yaman, sedangkan kamu akan tetaplah sebagai dirimu.”

Adi berkata: “Demi Tuhan, sungguh ini pendapat yang tepat.” Kemudian Adi ibn Hatim pergi menuju Madinah untuk menjumpai Nabi Saw. Akhirnya Adi ibn Hatim menjadi salah satu sahabat setia, demikian juga Saffanah, dan kaumnya.

Kisah di atas tercantum dalam Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibn Hisyam Vol.4, hal.1000-1002, Tarikh Ibn Katsir Vol. IV hal.123-132, Tarikh Ath-Thabari Vol.III hal.111-115.

Dari cerita di atas kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting, di antaranya:

Pertama, keagungan akhlak Nabi Saw dapat kita saksikan dalam dialog di atas. Beliau tidak menolak ketika ada orang yang ingin mendoakannya meskipun ia penghulu para Nabi, sosok yang paling mulia di sisi Allah Swt.

Kedua, perbedaan agama tidak menghalangi Nabi untuk berbuat baik dan membantu seseorang yang sedang membutuhkan, bahkan Nabi memberi lebih dari hanya sekadar memenuhi kebutuhannya, hingga Saffanah mengatakan ini adalah pemberian seseorang yang tidak takut miskin.

Ketiga, Islam memberikan perhatian yang tinggi pada wanita. Hal ini dapat dilihat bagaimana Nabi Saw tidak melepaskan Saffanah begitu saja, melainkan setelah memastikan keamanan dan keselamatannya agar sampai tujuan. Nabi harus menunggu adanya orang yang dapat dipercaya untuk membawa Saffanah ke Suriah.

Keempat, dari doa yang dipanjatkan Saffanah dapat diambil hikmah bahwa kebaikan, perjuangan, infak dan sedekah yang kita laksanakan harus sesuai pada tempat yang dikehendaki Allah Swt sehingga memperoleh ridha dan pahala-Nya.

Di antara beberapa yang akan ditanyakan pada seorang hamba di hari akhir nanti ialah dari mana harta tersebut diperoleh dan kemana ia infakkan harta tersebut, apakah tepat sasaran ataukah tidak? Hal ini sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi.

Kelima, dari aspek hukum dan akhlak, boleh bagi kita untuk menerima dan mengamini doa orang yang berbeda agama. Nabi Saw sendiri memberikan contoh dari kisah di atas. Nabi Saw tidak hanya mengamini, tetapi juga memerintahkan para sahabat untuk mendengarkan dan mengamini doa Saffanah.

Keenam, Nabi Saw sangat menekankan akhlak mulia (moral). Orang yang berbeda agama namun berbuat baik disebut oleh Nabi memiliki sifat kaum mukminin yang sesungguhnya.

Semoga kita dapat meneladani Rasul Saw dalam kehidupan pribadi, sosial kemasyarakatan, khususnya bagi kita sebagai masyarakat Indonesia yang plural.

Salam bagimu wahai rahmatan lil ‘alamin.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply