Kiamat Bukan Kehendak Tuhan

Siang itu, matahari menyengat lalu langit sebentar rinai, tiba-tiba terik, kemudian pun berawan kembali. Jika Malam terasa dingin menusuk tulang, siang tak seperti biasa, begitu terik.

Alam telah bicara, pelan tapi pasti, mengalir terasa menyiksa. Sampai kita nyaris lupa, bahwa gambar di selembar daun cantik itu tak tertahan, lunglai bersama sebatang pohon tumbang, kata lain mengatakan jika kesewenang-wenangan telah terjadi. Penembangan pohon pertanda tak bersahabat dengan alam, apa pun itu alasanya.

Kata khilaf sebagai alasan kebutuhan manusia. Langit pun memaafkan. Namun waktu tetap mengutuknya. Sulit untuk mengembalikan alam seperti sediakala, anggun, rimbun juga lestari. Bukan semakin membaik, jagad semakin rapuh. Paru-paru bumi banyak bertumbangan. Daun-daun hijau bertebaran.

Demikianlah alam, perubahan jelas terlihat. Ketika para oknum telah merusak alam, jagad raya ini bermuram durja. Banjir bandang sebagai konsekuensi atas penebangan liar, dan pembakaran lahan gambut menjadi catatan merah bagi kita semua. Akhir-akhir ini semakin merajalela di negeri nusantara. Dan telah terjadi pembiaran.

Manusia takut ketika alam menjadi bencana. Adanya berbagai bencana musabab awal adalah pengrusakan oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab. Rakyat keci merasakan bencana, para durjana menikmati eksploitasi, lalu mengerluarkan isu global warming atau apalah, bahkan kiamat.

Seperti berita di berbagai media, mengabarkan tahun depan kiamat, suku maya mengungkapkan kiamat, film juga demikian. Intinya mereka semua mengatakan setahun dua tahun ke depan adalah menjelang hari akhir.

Itu sebagai bentuk rasa ketakutan yang berlebihan. Merusak alam, lalu mengambinghitamkan bahwa kiamat sudah dekat. Bukankah setiap hari kita sudah merasakan kiamat? Jika kita menebang satu pohon itu sama halnya kiamat. Semakin dekat menuju hari akhir. Selangkah demi langkah semakin terasa.

Ungkapan lain menuliskan, bahwa kiamat bukan kehendak mutlak Tuhan. Sang Pencipta tak pernah memberi acaman sedikit pun tentang kiamat. Karena illahi tak pernah merencanakan merusak bumi. Manusialah perusak alam tak tahu diri.

Kiamat itu pengahancuran bumi. Kiamat adalah pengrusakan alam, musabab tindakan manusia serakah, tamak, rakus, yang selalu mengeksploitasi bumi.

Jadilah insan sebagai manusia bijak nan bestari melestarikan alam, tak merusak, memelihara dengan sepenuh hati, pastilah kiamat tidak akan pernah datang. Kita hidup bersama dunia keabadian. Jagad ini tak akan hancur. Itu sebuah keniscayaan jika kita mampu menjadi khalifah bumi yang menjaga alam.

Jagad ini akan menjadi syurga dalam keabadian. Dengan keindahan-keindahan pohon yang selalu menaungi bumi dari matahari, hujan memberikan air dan siklus kehidupan tak sempurna adalah keadilan Tuhan untuk menyelamatkan alam dan seisinya.

Buktinya, kini telah hadir kemarau basah, Jika di musim kemarau ada hujan, itu hak tanah untuk menerima air. Hak pohon untuk berkembang. Banyak yang lupa jika Tuhan telah memberi kesempatan kepada kita, untuk menanam kembali, karena hujan di musim kemarau hadir untuk mendukung berbagai tanaman tumbuh kembali. Ini pertanda kiamat belum dekat, Allah telah memberi kesempatan kepada kita, betapa mulia kasih Allah.

Marilah kita bicara pada bumi. Belum terlambat. Hujan masih sering mengguyur. Menanam, menanam seribu pohon, seribu lagi, seribu hinggu tak pernah kita menebang lagi. Walau telah terluka, alam telah memberi kesempatan, belum terlambat

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply