Kisah Lockdown Nabi Yunus dan Nabi Ayyub

NABI Yunus Alaihissalam pernah kesal dan menjauhi (distance) kaumnya karena mereka tidak mau beriman kepada Allah dan risalah-Nya yang ia bawa. Beliau keluar dari negeri itu dan menaiki bahtera kapal.

Allah ta’ala menghukum Nabi Yunus dengan lockdown di dalam perut ikan paus. Itulah kisah nyata yang direkam oleh Allah dalam Qur’an Surah al-Anbiya: 87-88, Surah As-Shaffat: 139-148, Surah Yunus: 98.

Peristiwa isolasi dan lockdown ini termasuk peristiwa paling mengerikan dalam sejarah manusia. Beliau hidup sendirian tiada kawan. Gelap tiada cahaya. Panas lemak ikan paus tiada ventilator. Sepi senyap tiada sinyal apapun. Tak ada listrik apalagi internet.

Mau berteriak minta tolong? Mustahil didengar manusia karena lockdown 3 lapis kegelapan: malam hari, dalam perut ikan dan di dasar lautan dalam. Apa yang terjadi?

Nabi Yunus hanya pasrah kepada Allah, dia berdzikir dengan penuh keyakinan. Pertama melafalkan tauhid, laa Ilaha Illa anta. Kedua, Malafalkan tasbih, subhanaka, dan terakhir melakukan pengakuan dosa dan taubatan nasuha, “Inni kuntu minazzalimin”.

دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: Laa Ilaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minaz Zalimin. (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 3505).

Al-Qudan juga mengutip hal ini.

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” (QS: Al Anbiya’: 87-88)

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ (٨٤)

Kisah Nabi Ayyup

Nabi Ayyub dikenal ketakwaannya, kekayaannya dan kedermawanannya. Selain keluarga yang sempurna, beliau dikaruniai harta yang berlimpah.

Namun setelah itu, beliau diuji Allah dengan penyakit yang menimpa badannya, juga mengalami musibah yang menimpa harta dan anaknya, semua pun sirna.

Beliau diuji terkena penyakit kulit, yaitu judzam (kusta atau lepra). Yang selamat pada dirinya hanyalah hati dan lisan yang beliau gunakan untuk banyak berdzikir pada Allah sehingga dirinya terus terjaga.

Semua orang ketika itu menjauh dari Nabi Ayyub hingga ia mengasingkan diri di suatu tempat. Hanya istrinya sajalah yang mau menemani Ayyub atas perintahnya. Sampai istrinya pun merasa lelah hingga mempekerjakan orang lain untuk  mengurus suaminya. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 349)

Karena sikap Nabi Ayub yang bersabar, berserah diri danbertawakkal kepada Allah dalam menyikapi penyakit yang menimpa dirinya, maka Alllah akhirnya mengabulkan doa-nya. Allah juga melenyapkan berbagai penyakit yang ada padanya sehingga sembuh lahir batin. Allah mengembalikan keluarganya kepadanya untuk lebih sempurna kebahagiaannya. Dan terakhir,  Allah telah melipatgandakan jumlah keturunan Nabi Ayub sebagai suatu rahmat kepada hamba-Nya yang sabar.

Al-Qur’an telah mengungkapkan kisah-kisah para nabi untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi semua orang yang beriman dan beribadah kepada Allah, bahwa:

Pertama, Allah memberi rahmat dan pertolongan kepada hamba-Nya yang mukmin, bertakwa, saleh dan sabar.

Kedua, orang-orang yang mukmin pun tidak luput dari cobaan, berat atau pun ringan, sebagai ujian bagi mereka.

Ketiga, orang yang beriman tidak boleh berputus asa dari rahmat Tuhannya.

Maka saatnya kita perbanyak membaca doa Nabi Yunus dan Nabi Ayyub baik yang ODP, PDP atau yang positif Covid-19.

اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ ۚ

“(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

Semoga Allah menyembuhkan penyakit kita dan menjauhkan kita dari berbagai wabah penyakit. Amin

Sumber : hidayatullah. com

No Comments

    Leave a reply