KRONOLOGI PEWAHYUAN AL-QUR’AN DALAM KESARJANAAN ISLAM DAN BARAT

Dalam tradisi Muslim, sudah sangat masyhur pembagian surat atau ayat berdasarkan periode turunnya, yakni Makki dan Madani. Makki adalah suatu ayat atau surat yang turun sebelum Nabi saw. hijrah, walapun ayat atau surat tersebut turun selain di Mekah. Adapun Madani adalah suatu ayat atau surat yang turun setelah Nabi saw. hijrah, baik yang turun di Mekah ataupun Madinah. Memang masih terdapat pendapat yang lainnya mengenai definisi Makki dan Madani, akan tetapi pendapat tersebut adalah pendapat yang paling masyhur.

Pembagian antara surat atau ayat Makki dan Madani tersebut merupakan salah satu alat bantu yang digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an. Mengetahui masa atau tempat diturunkannya suatu ayat akan memudahkan seorang mufassir untuk menafsirkan suatu ayat dengan benar. Selain itu, ilmu Makki-Madani dapat membantu seorang mufassir untuk mengetahui dan membedakan mana nasikh dan mana yang mansukh apabila terdapat makna yang kontradiktif. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa mempelajari kronologi pewahyuan Al-Qur’an sangat penting, khususnya untuk memahami Al-Qur’an.

Dalam tradisi kesarjanaan Islam, terdapat tiga riwayat yang umum digunakan untuk melacak kronologi pewahyuan Al-Qur’an. Riwayat-riwayat tersebut antara lain adalah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas, riwayat yang bersumber dari manuskrip karya Umar ibn Muhammad ibn Abd al-Kafi dari abad ke-15, dan riwayat yang bersumber dari Ikrimah dan Husain ibn Abi al-Hasan.

Selain ketiga riwayat tersebut, masih terdapat beberapa riwayat lain, seperti riwayat dalam Tarikh al-Khamis, riwayat Atha’ dari Ibn Abbas, riwayat dari al-Kalbi Abu Shalih, riwayat dari Muhammad ibn Nu’man ibn Basyir, dan lain-lain. Riwayat-riwayat tersebut secara umum di urutkan berdasarkan nama surat, bukan diurutkan per-ayat.

Selain itu diantara riwayat-riwayat tersebut, terdapat perbedaan urutan diantara riwayat satu dengan yang lain. Misalnya dalam riwayat Ibnu Abbas dan al-Kafi yang mana sama-sama menyebutkan bahwa susunan kronologis surat Makkiyah yang ke-42 adalah surat al-Fathir. Sementara itu, dalam riwayat Ikrimah dan al-Hasan disebutkan bahwa yang berada dalam urutan nomor 42 adalah surat Thaha. Selain perbedaan tersebut, masih ada beberapa perbedaan urutan diantara ketiga riwayat tersebut.

Mengenai adanya perbedaan tersebut, saya berasumsi bahwa hal tersebut disebabkan bahwa di masa Nabi SAW. atau setelahnya, belum ada suatu kesepakatan umum antar ulama’ mengenai kronologi pewahyuan Al-Qur’an. Perbedaan tersebut bisa jadi disebabkan oleh perbedaan sudut pandang para sahabat dalam menerima ayat-ayat yang disampaikan oleh Nabi SAW.

Hampir mustahil seorang sahabat selalu menerima ayat dari nabi secara langsung. Bisa jadi ia menerima suatu (atau beberapa ayat) Al-Qur’an melalui sahabat yang lain, dan bukan langsung dari Nabi. Boleh jadi juga suatu ayat turun dua kali di tempat dan waktu berbeda, sehingga  terjadi perbedaan pendapat di antara para sahabat mengenai mana ayat yang duluan turun. Dari sini saya menyimpulkan, di masa tersebut penyusunan Al-Qur’an secara kronologis masih belum menjadi kebutuhan yang mendesak, sebab para Sahabat masih paham dan mengetahui dengan baik konteks turunnya suatu (atau beberapa) ayat.

Kajian kronologi pewahyuan Al-Qur’an tersebut ternyata menarik perhatian para sarjana non-Muslim Barat. Kajian yang demikian bermula pada pertengahan abad ke-19, yang mana pada masa tersebut mulai gencar-gencarnya penelitian Al-Qur’an berdasarkan metode kritik sejarah dan sastra. Menurut Taufik Adnan Kamal, titik awal kajian kronologi Al-Qur’an oleh sarjana non-Muslim bermula pada karya Gustav Weil yang berjudul Historisch-Kritische Einleitung in der Koran yang terbit pada tahun 1844.

Dalam karya tersebut, ia membagi periode turunnya surat menjadi empat periode, yaitu periode Makkah awal, Makkah tengah, Makkah akhir, dan Madinah. Pembagian yang demikian juga diadopsi oleh sarjana setelahnya, seperti Theodor Noldeke dan Schwally dalam karyanya yang berjudul Geschichte des Qorans Teil, dan juga Regis Blachere dalam terjemahan Al-Qur’annya, Le Coran:Traduction Selon un Essai de Reclassement des Sourates.

Adapun Sir William Muir menawarkan pembagian yang berbeda dengan ketiga karya tersebut. Dalam karyanya yang berjudul Life of Mahomet, ia mengelompokkan kronologi pewahyuan Al-Qur’an berdasarkan enam periode. Periode pertama disebut oleh Muir sebagai surat-surat rapsodi (kegembiraan), periode kedua merupakan surat-surat yang membahas pembukaan tugas kenabian, periode ketiga permulaan tugas kenabian, kemudian periode hijrah ke Abisinia, selanjutnya periode “duka cita”, dan yang terakhir periode setelah hijrah.

Sementara itu, Hartwig Hirscfeld dalam karyanya, New Researches into the Composition and Exegesis of the Qur’an membagi kronologi pewahyuan Al-Qur’an menjadi enam periode. Dalam pembagian ini ia mengklasifikasikan wahyu-wahyu sebagai konfirmatori, deklamatori, naratif, deskriptif, legislatif, dan wahyu-wahyu periode Madinah. Selain itu, masih ada beberapa sarjana yang mencoba membahas kronologi pewahyuan Al-Qur’an, seperti Hubert Grimme dan Richard Bell.

Terlepas dari kontroversi kelemahan-kelemahannya, kajian para sarjana Barat terhadap kronologi pewahyuan Al-Qur’an setidaknya dapat menjadi pemantik bagi para sarjana Muslim untuk senantiasa mengkaji ulang teori-teori klasik, yang seakan-akan sudah final dan tidak perlu dikaji lagi. Dengan demikian, kajian keislaman di kalangan Muslim akan senantiasa berkembang dan terbebas dari kebekuan.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply