Larangan Berlebihan dalam Memuji, Ini Enam Bahayanya Menurut Imam Ghazali

Pujian, dalam beberapa kondisi perbuatan ini dilarang. Pujian merupakan salah satu bahaya yang berasal dari lidah yang tidak berucap sesuai dengan porsinya.

Itulah sebabnya rasulullah sangat melarang seseorang sering-sering melontarkan pujian. Beliau mengatakan kepada orang yang menyampaikan pujian,

ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR. Bukhari)

Pujian, menurut Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, mempunyai enam sisi kejelekan yang berbahaya bagi si pemuji dan yang dipuji. Empat bahaya di antaranya bersarang pada orang yang memuji dan sisanya terletak pada orang yang dipuji.

Adapun empat poin tercela yang terdapat pada orang yang memuji adalah sebagai berikut;

Pertama. Jika pujiannya cenderung berlebih-lebihan, sehingga menyebabkan sang pemuji harus berdusta karenanya.

Kedua. Jika dimasuki unsur riya’ karena di balik pujian yang ia berikan terselip keinginan agar mendapatkan imbalan.

Ketiga. Terkadang dalam pujian yang disampaikan ia mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya sendiri secara pasti dan masih memiliki berbagai kemungkinan.

keempat. Hanya ingin menyenangkan hati orang yang dipujinya meski sebenarnya pihak yang dipuji adalah seorang yang zalim. Perbuatan tersebut jelas-jelas dilarang. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda

إن الله تعالى يغضب إذا مدح الفاسق

“Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat murka jika mendengar orang yang fasik dipuji.” (HR. Tirmidzi)

Sedangkan dua poin yang sangat membahayakan bagi pihak yang dipuji adalah sebagai berikut;

Pertama. Dapat memunculkan kesombongan dan kebanggaan terhadap diri sendiri dan meremehkan pihak lain.

Kedua. Jika dipuji dengan kebaikan, maka ia merasa sangat bangga, sehingga ia lupa atas kekurangan dirinya dan hal itu berdampak pada mengurangi usahanya untuk mendapatkan kebaikan di masa mendatang.

Sumber : BincangSyariah.Com 

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply