LGBT DALAM ISLAM

Beberapa bulan yang lalu ramai diperbincangkan tentang LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) dan menjadi pembicaraan hangat dibeberapa stasiun televisi. Banyak orang yang menolak dengan LGBT karena dianggap menyalahi fitrah manusia dan menyalahi ajaran agama.

Namun tidak sedikit juga ada yang menyetujuinya, bahkan ada orang yang mengatakan LGBT ini terdapat dalam Al-Qur`an. Hal ini sempat menjadi titik perhatian beberapa golongan masyarakat sebab dianggap tidak mendasar dan membuat  para tokoh-tokoh Islam mengomentari tentang hal tersebut.

Sejatinya fitrah manusia diciptakan oleh Allah SWT disertai dengan dorongan naluri dan jasmani. Salah satu dorongan naluri manusia adalah naluri untuk menyukai lawan jenis yang menimbulkan rasa cinta dan dorongan seksual kepada lawan jenisnya tersebut.

Tujuan diciptakan naluri ini adalah untuk melestarikan keturunan dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh pasangan suami isteri dalam artian berlawanan jenis bukan sesama jenis.

Lantas, apakah LGBT memang ada dalam islam? Dan apa komentar para cendikiawan islam mengenai perihal tersebut?

Sebelumnya, istilah LGBT ini dikenal  dengan sebutan komunitas gay, karena komunitas tersebut lebih dominan dari kelompok yang lainnya. Namun pada tahun 1990-an istilah ini berubah menjadi LGBT untuk menekankan keanekaragaman budaya yang berdasarkan seksualitas dan gender.

Ternyata dalam ajaran islam juga ada istilah LGBT. Istilah ini lebih dikenal dengan istilah Liwath (gay) dan Sihaaq (lesbian). Liwath (gay) adalah perbuatan seksual yang dilakukan oleh sesama laki-laki untuk memuaskan hasrat keinginannya.

Istilah ini dinisbatkan kepada kaum Nabi Luth ‘Alaihis salam yang pertama kali melakukan perbuatan tersebut. Hal ini dijelaskan dalam alqur’an pada surah al-A`raf ayat 80-81:

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth. (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun sebelummu. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita,.”

Sedangkan Sihaaq (lesbian) menurut Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnahnya ialah hubungan cinta birahi antara sesama wanita dengan cara tertentu hingga keduanya merasakan kenikmatan dalam melakukan hubungan tersebut.

Hukum Liwath (gay) dan Sihaaq (lesbian) adalah haram sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Ahmad Muhammad Al Khidir. Hal ini berdasarkan hadits Abu Said Al Khudriy yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim, bahwa Rasulullah SAW berkata:

“Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Dan janganlah seorang laki-laki memakai satu selimut dengan laki-laki lain, dan jangan pula seorang wanita memakai satu selimut dengan wanita lain”.

Dari Hadits di atas dapat diketahui bahwa perbuatan gay dan lesbian tidak diperbolehkan atau bisa dibilang haram. Secara rasional jika praktek LGBT ini ditolerir maka tidak menutup kemungkinan manusia di muka bumi akan punah karena hubungan sesama jenis tidak akan pernah melahirkan keturunan.

Al-Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy berkata: “Sungguh Allah telah menyebutkan kepada kita kisah kaum Luth dalam beberapa tempat dalam Al Quran, Allah telah membinasakan mereka akibat perbuatan keji mereka. Dan para ulama sepakat bahwasanya tindakan homoseks termasuk dosa besar”.

Hal ini terbukti bagaimana Allah SWT menghukum kaum Nabi Luth yang melakukan penyimpangan tersebut dengan azab yang sangat besar dan dahsyat, sebagaimana disebutkan  dalam alqur’an surat Al-Hijr ayat 74:

“Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”.

Para pakar sosiologi Indonesia menyebutkan munculnya benih-benih LGBT dikarenakan ideologi sekularisme yang dianut dan berkembang di masyarakat. Sekularisme adalah ideologi yang memisahkan antara agama dan kehidupan.

Jadi hal ini membuat kesolidaritasan penganut agama menjadi hilang secara perlahan, sebab agama diperuntukkan hanya pada individualnya masing-masing dan agama tidak bisa dijalankan dari segala aspek.

Masyarakat sekuler memandang pria atau wanita hanya memiliki sebatas hubungan seksual semata dan hubungan seksual tidak terbatas hanya pada perempuan, Oleh karena itu, mereka dengan sengaja menciptakan fakta-fakta yang menyimpang dari ajaran agama.

Seluruh agama tidak ada yang membenarkan perbuatan LGBT. Dalam ajaran agama jika ingin menjalin suatu hubungan maka menikahlah. Karena dengan menikah manusia bisa mengaplikasikan hasrat kecintaan terhadap lawan jenisnya secara halal dan akan memperoleh keturunan sebagai tujuan relasi seksual dalam pernikahan.

Terlepas dari demikian, jika di lingkungan kita terdapat orang yang menyukai sesama jenis dalam artian dia seorang LGBT maka jangan kita jauhi apalagi membulinya, karena dengan begitu akan membuat mereka merasa terkucilkan dan menjauhi kehidupan sosial.

Akan tetapi hendaknya kita mendekati mereka dan memberikan pemahaman bahwa perbuatan tersebut menyimpang dan tidak dibenarkan dalam ajaran agama. Dengan demikian mereka akan menemukan jati dirinya sebagai laki-laki atau wanita sejati dan lebih percaya diri.

Sumber : Qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply