LGBT, Sudahlah

 Isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender menjadi isu yang paling hangat untuk dibahas pada era modernisasi ini. Pertimbangan HAM dan kultural suatu negara menjadi bahan untuk memperdebatkan persoalan tersebut.Dalam satu sisi, pandangan bahwa kebebasan manusia untuk berkehidupan, termasuk didalamnya perihal aktivitas seksual, menjadi salah satu bahan untuk pro terhadap perkembangan LGBT. Namun di sisi lain, Indonesia sebagai negara berperadaban tentu tidak menginginkan penyakit masyarakat baru tersebut hadir dan berkembang di Indonesia.

Berbagai aktivitas adu pemikiran sudah sering dilakukan, baik secara tertutup maupun terbuka. Proses dialektika dan dinamika pemikiran bukanlah hal yang tabu (lagi) dalam merespons setiap kebijakan bagi para intelektual muda maupun pemikir-pemikir ulung untuk menciptakan suatu sintesis baru.

Banyak yang menganggap bahwa pemberian “ruang” bagi para pelaku LGBT adalah kebijaksanaan tertinggi yang dilakukan oleh suatu oknum. Di sisi lain, membiarkan hal itu berkembang menjadi catatan kelam bagi suatu negara. Salah satunya di Minangkabau.

Minangkabau adalah daerah yang selalu menjadikan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai falsafah berkehidupan. Pelarangan terhadap LGBT bukanlah sebuah tindakan pendiskriminasian terhadap suatu ras atau golongan tertentu.

Aksi penolakan terhadap LGBT yang dilakukan pada berbagai tempat bukanlah tindakan gendersida terhadap kaum-kaum LGBT. Melainkan hanyalah menjaga identitas Minangkabau dan Indonesia yang sesuai dengan UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan UU No.23 Tahun 2006 tentang administrasi kependudukan yang menjelaskan bahwa Indonesia hanya mengakui 2 jenis gender; laki-laki dan perempuan.

Isu LGBT beberapa tahun belakangan menjadi hangat diperbincangkan di ranah Nasional maupun Internasional. Kebebasan yang diinginkan oleh setiap manusia merupakan produk barat yang selalu dikabulkan oleh otoritas tertinggi dunia.

Hanya beberapa Negara yang berani menentang setiap aturan yang dibuat oleh lembaga-lembaga tertinggi di dunia. Seperti Arab Saudi yang menentang kebebasan dalam permasalahan pernikahan dan perkawinan ketika merespons undang-undang perkawinan yang dikeluarkan United Declaration of Human Rights (UDHR) pada tahun 1948.

LGBT sangat berkaitan dengan Hak Asasi Manusia. Setiap aktivitas pendiskriminasian terhadap kaum LGBT merupakan permasalahan juga bagi lembaga internasional yang menaungi kasus HAM. Dunia seakan-akan melindungi setiap pergerakan perluasan LGBT dengan motif latar belakang memberikan kebebasan berkreasi bagi seluruh manusia yang hidup. Namun bagaimana dengan Minangkabau atau Sumatera Barat khususnya?

Masyarakat Minangkabau saat ini telah melakukan sebuah upaya meminimalisir perluasan LGBT. Karena secara kajian ilmu sosial dan politik, LGBT merupakan sebuah permasalahan. Faktor psikologis adalah penyebab utama eksisnya LGBT di dunia.

Layaknya pengguna narkoba yang memilih jalan mengkonsumsi narkoba untuk mengurangi dan menghilangkan masalah yang menjadi beban hidupnya. Begitupun para penikmat LGBT. Mereka seakan-akan tidak menikmati takdir dan kodrat mereka sebagai seorang laki-laki ataupun perempuan.

Keinginan untuk merubah gender aslinya atau memiliki gender ganda sekaligus bukanlah keinginan yang bisa diterima secara rasional dalam kehidupan masyarakat dunia bagian timur. Indonesia (dalam pandangan selama ini) merupakan Negara dunia bagian timur yang mestinya diusahakan untuk terpengaruh pada dunia Westernisasi, yaitu proses penerimaan budaya barat ke budaya negara-negara timur seperti Asia dan Oceania.

LGBT adalah produk Negara barat. Hal itu tidak bisa dipungkiri. Sejarah mencatat bahwa Negara seperti Amerika Serikat menganut asas demokrasi liberal. Asas yang memberikan kebebasan mutlak bagi seluruh masyarakat yang berada di Negara tersebut, temasuk berekspresi dan mengkreasikan seluruh aktivitas kehidupannya. Kebebasan itulah yang menjadi budaya dan dianggap sebagai perjuangan HAM Universal bagi mereka yang mestinya (juga) dianut dan diterpakan oleh seluruh Negara yang ada di dunia.

Namun dunia tidaklah datar. Setiap tindakan persuasif dari barat selalu menimbulkan pertanyaan besar. Proses penolakan terhadap masuknya budaya barat sangat beraneka ragam. Ada yang melalui penolakan secara resmi (pernyataan), seperti yang dilakukan oleh Negara-negara Islam di Timur Tengah.

Atau bahkan dengan cara yang radikal, kita mengenal bagaimana kelompok terorisme boko haram di Nigeria yang menjadikan budaya pendidikan masyarakat barat yang mengarah kepada imperialisme dan kolonialisme sebagai motif latar belakang pergerakan mereka untuk menghancurkan sistem tersebut. Slogan Western Education is Sin (pendidikan barat adalah dosa) menjadi semangat mereka untuk menolak setiap budaya barat yang masuk ke Negaranya.

Kita tidak bisa mencerna bagaimana pemikiran orang-orang yang sangat pro terhadap perlindungan dan perluasan serta perkembang-biakan masyarakat LGBT. Moralitas adalah kunci mereka untuk melindungi para pelaku LGBT. Indikasi bahwa kampus terlalu fasis dan otoriter serta mendiskreditkan suatu golongan tertentu tidak terlepas dari tanggung jawab moral dalam melindungi para pelaku. Bahkan jika itu semua dicerna melalui pemikiran akal sehat tetap akan selalu dikalahkan oleh moral yang didominasi oleh permainan perasaan.

Saya menganggap tindakan LGBT sebagai suatu kesalahan psikologis. Latar belakang kehidupan yang berisikan permasalahan sexualitas adalah penyebab utamanya. Mengasihani dan memberikan perasaan iba tidak akan menyelesaikan permasalahan.

Layaknya pengguna narkoba, tanpa adanya proses rehabilitasi yang serius dari pemerintah, maka para pengguna tidak akan sadar betapa bahayanya narkoba tersebut. Begitu juga dengan LGBT, tanpa adanya tindakan serius dari pemerintah untuk memberantas penyakit psikologis ini, maka perluasan dan perkembang-biakan generasi selanjutnya tidak akan terkontrol.

Tanpa dikaji lebih jauh pun kita mengetahui bahwa aktivitas LGBT akan menyebarkan dampak negative kepada para pelaku dan lingkungan. Penyakit kelamin yang menular adalah salah satu dampak bahayanya. Oleh karena itu pencegahan dan pemberantasannya adalah solusi utama supaya tidak terjadi penyebaran dampak secara luas. Bukankah selama ini kita telah memahami slogan “mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Pada tulisan ini saya menekankan bahwa pemberian rasa iba dan kasihan kepada pelaku LGBT bukanlah solusi akhir. Mayoritas kita mengetahui secara rasional bahwa itu adalah penyakit.

Penyakit harus diberantas dan bagaimana upaya pemberantasannya merupakan usaha dari kita. Karena pada intinya penolakan dan atau mengikuti budaya luar mesti dikritisi terlebih dahulu dengan mengacu kepada budaya yang berkembang di daerah kita. Semoga bermanfaat.

 

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply