Manusia Pemakan Segalanya

Manusia itu pemakan segalanya. Tumbuhan dan hewan dilahap. Makhluk di darat dan di air disantap. Memang rakus manusia itu.

Dengan kekuatan akal dan hatinya, manusia mampu merekayasa semua makhluk tersebut menjadi pemuas dahaga kenikmatan. Tumbuhan dan binatang diolah, sehingga menjadi kebutuhan yang dikonsumsi sehari-hari. Dan manusia ketagihan.

Ketagihan yang menggumpal berubah menjadi kelaparan. Jika kelaparan sudah tidak bisa ditahan, naluri manusia akan memaksa manusia berbuat apa saja. Akhirnya manusia nekat untuk mendapatkannya.

Puasa adalah cara terampuh untuk meredam semua kelaparan itu. Semua keinginan negatif yang memang dilarang oleh agama dibuang karena manusia berpuasa. Stop berbuat keburukan dengan puasa. Puasa lahir dan batin.

Namun, setelah bulan puasa berlalu, apakah kita masih menjaga marwah puasa dengan sebenar-benarnya? Pertanyaan ini saya gubah dalam bentuk puisi berjudul “Lapar Setelah Idul Fitri” berikut ini.

LAPAR SETELAH IDUL FITRI

Lapar dan hausku di bulan puasa kemarin dapat kutahan. Beginilah rasanya menjadi orang miskin. Hanya perkara makan dan minum saja mereka sulit mendapatkannya. Kaki menjadi kepala atau kepala menjadi kaki. Tetapi aku tak demikian karena niatku memang berpuasa sebulan. Ketika ramadhan kemarin memang kuabaikan rayuan dan bisikan sembilan lubang.

Juga otak dan hatiku tak kubiarkan berlari kian kemari tanpa tujuan pasti. Karena puasaku menjadi kendali. Setan yang biasa berbisik dengan janji-janji menawan dan mengalir di dalam darah kuenyahkan. Kulawan. Dalam bulan ramadhan kemarin setan-setan meratap karena tersekap. Karena mangsa sulit diharap.

Akan tetapi, pada syawal ini meskipun aku tak lagi berpuasa rasa lapar itu gigih menggoda. Hingga aku tak mampu mengatasinya. Lapar menancapkan taring dan kukunya hingga aku harus mengikuti kemauannya.

Lapar menjadi panglima di seluruh sendi dan nadi. Mulutku kini tak hanya mau menerima kurma dan teh hangat nasi sayur bening lauk goreng tempe atau ikan sepat. Padahal itu kesukaanku paling sederhana ketika azan magrib menyapa. Berbuka puasa. Lapar di dalam jiwa dan ragaku kini telah berubah menjadi raksasa angkara yang siap mengerekah. Menjajah.

Aku lapar tanah. Karena aku memang berasal dari sari-sarinya hingga semua tanaman dari akar, batang, daun, dan buahnya kusantap tandas. Kalau tak ada racun dalam tumbuhan tentu akan kulumat habis hingga mulut dan perut berhimpitan.

Aku juga menyantap aneka daging seperti binatang buas karena nafsuku telah menjelma menjadi lapar yang ganas. Kuminum segala air dari yang putih hingga hitam atau warna pelangi di sore hari. Tak peduli haram.

Ingin kumiliki tanah-tanah yang berserakan di pelosok bumi. Ingin kumiliki rumah-rumah megah nan asri. Ingin kumiliki mobil-mobil berbagai merk tapi baru. Ingin kumiliki batu-batu bacan harga miliaran dari Maluku. Ingin kumiliki koleksi jam tangan mewah dari luar negeri.

Ingin kumiliki koleksi sepatu berbagai merk biar trendi. Ingin kumiliki gelar akademik berderet panjang. Ingin kumiliki istri-istri simpanan janda atau lajang. Ingin kumiliki banyak rekening di bank juga kartu kredit. Ingin kumiliki segalanya karena aku ingin seperti tingginya bukit.

Aku ingin memiliki dan menikmatinya selalu meski aku menipu. Tak peduli asli atau palsu. Aku ingin memiliki dan menikmati gegar meski itu tak benar. Dengan korupsi berkobar. Aku ingin memiliki dan menikmati sendiri meski aku mencuri. Atau menggadaikan dan menjual diri.

Aku ingin memiliki dan menikmatinya dengan rakus meski aku seperti Brutus. Teman pun kuringkus.  Aku ingin memiliki dan menikmatinya lahap meski aku seperti Firaun yang kalap. Walau berakhir gagap.

Aku ingin memiliki dan menikmatinya dengan narsis meski aku seperti Hitler yang sadis. Walau berakhir tragis. Aku ingin memiliki dan menikmatinya dengan tawa meski aku seperti Saddam Husein yang jumawa. Walau berakhir kecewa.

Bukankah sekarang zaman edan, kalau tak ikut edan tak kebagian? Bukankah sekarang era hedonis, kalau tak kaya tak akan digubris? Bukankah sekarang masa selebritas, kalau tak terkenal tak punya kredibilitas?

Bukankah sekarang kurun online yang hingar, kalau tak nyleneh tak akan didengar? Bukankah sekarang waktu tipu muslimat, kalau tak keren tak akan dilihat? Bukankah sekarang ordenya korupsi, Kalau tak mencuri tak akan makan nasi atau seksi?

Tuhan, lapar setelah Idul Fitri ini tak dapat kuakhiri. Karena hantu di dalam darahku telah bermukim di dalam hati. Tuhan, aku masih beriman kepada-Mu. Tapi lakuku mengingkari perintah-Mu. Tuhan, aku masih beriman bahwa Muhammad itu nabi utusan-Mu. Tapi teladannya hanya kuhapal dan kuwacanakan selalu.

Tuhan, aku rajin salat lima waktu dalam sehari. Tapi aku masih terbiasa berbuat keji. Tuhan, aku telah berzakat untuk membantu kaum kaum duafa. Tapi, Engkau pasti tahu karena asalnya dari merampok uang negara. Tuhan, aku sudah berhaji berkali-kali di Arab Saudi. Tapi ucapan dan tindakanku seperti air di daun keladi.

Apakah makna puasaku di bulan Ramadhan jika laparku setelah Idul Fitri tak dapat kutahan?

Cibinong, 13 November 2019

Mudah-mudahan kita menjadi insan yang senantiasa menjaga ketakwaan kepada Allah semata. Kesucian lahir dan batin hanya dapat terwujud jika kita dapat mengendalikan hawa nafsu yang bertahta di dalam jiwa. Semoga.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply