Megurai Aspek Egaliter Haji

 Banyak ummat Islam berkeinginan menunaikan ibadah yang cukup menguras kocek kantong ini. Adalah memenuhi panggilan Allah SWT berupa haji sebagai kewajiban karena merupakan rukun Islam. Tetapi banyak umat muslim yang menganggap remeh, meskipun dalam segi bekal dan kondisi keamanan memungkinkan, namun ada sebagian yang enggan melaksanakannya.

Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup melaksanakan perjalanan ke Baitullah.

Banyak ulama’ menafsirkan kata-kata “manistatho’a” yang di dalamnya terkandung pegertian mampu jasmani, rohani, bekal, dan mampu melaksanakan amalan-amalan ibadah haji. Tidak sekali-kali mengandalkan bantuan orang lain, tidak mengandalkan uang (diupahkan) dalam melaksanakan ibadah haji.

Mampu dalam” rohani” maksudnya mengetahui, memahami cara-cara melaksanakan ibadah haji. Mampu “bekal” maksudnya mampu membayar biaya perjalanan haji dan biaya keluarga yang ditinggalkan. Sehingga selama berangkat haji tidak sampai kekurangan, atau setelah pulang haji tidak menjadi lebih miskin.

Dalam era yang semuanya didasarkan kepada realitas ilmiah, ritual ibadah haji mendesak untuk dimaknai dengan pengertian-pengertian realistis yang semakin memperkuat keyakinan umat Islam, bahwa haji sebagai tiang Islam yang mengandung urgensi kebersamaan dalam realitas sosial.

Haji dan Kebersamaan Sosial

Berjuta juta manusia berkumpul di satu tempat untuk melakasanakan ibadah. Kebersamaan itulah harus dipupuk untuk menumbuhkan rasa persaudaraan sesama muslim. Haji adalah momen penting untuk pertemuan akbar bagi kaum muslimin untuk membicarakan nasib dan keadaannya di berbagai belahan dunia.

Dalam pelaksanaannya, ketika berada di pesawat, di pemondokan, di masjid, dan tempat-tempat lainnya dalam ibadah haji, akan timbul rasa kebersamaan dengan sesama jamaah. Kebersamaan dalam persaudaraan itu dapat dirasakan di mana saja, seperti ketika ngantri di kamar mandi, makan makanan ketering bersama, thawaf atau lempar jumrah bersama, dan lain sebagainya.

Tidak jarang setelah pulang haji, terbentuk keakraban dengan sesama jama’ah di mana sebelumnya belum pernah terjadi.

  1. Chunaini Saleh (2008) mengatakan, siapa pun yang melaksanakan ibadah haji, mengerjakan ritual-ritualnya, akan merasakan sebuah kesederhanaan, kesucian, dan kebersihan diri. Bagi orang kaya yang biasa mengenakan baju bagus dan bermerek, saat ibadah haji harus ditinggalkan untuk mengenakan kain ihram.

Semuanya serba putih. Sederhana dan suci, pakaian dan ibadah-ibadah dalam haji akan membersihkan dan menyucikan kita. Sepulang di tanah air akan menyingkirkan rasa sombong berganti menjadi kesederhanan.

Adapun makna kemanusian dan pengamalan nilai-nilainya adalah persamaan yang mencakup seperangkat nilai-nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa pemiliknya.

Kemanusiaan menjadikan seseorang bermoral, mampu memimpin mahluk lain dalam mencapai tujuan penciptaan, menyadari bahwa ia adalah mahluk dwi dimensi yang harus melanjutkan revolusinya hingga mencapai titik akhir. Makna-makna tersebut dipraktikkan di dalam pelaksanaan ibadah haji yang mencakup berbagai amalannya.

Menurut kenyataan, pakaian merupakan pembeda antara seseorang dengan yang lainnya. Pembedaan tersebut dapat membawa antara lain kepada perbedaan status sosial, ekonomi, atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh kepada pemakainya. Dengan demikian pengaruh-pengaruh psikologis yang negatif dari pakaian pun harus ditinggalkan sehingga semua merasa satu dalam kesatuan dan persamaan.

Sejarah mencatat, dalam membangun peradaban baru di Madinah, Rasulullah SAW juga menghimpun zakat, infak, dan sedekah, serta wakaf dalam berbagai bentuknya. Tujuannya adalah memberdayakan umat mengentaskan kemiskinan dan mengambangkan dakwah Islam (Badri Yatim, 2010).

Rasulullah SAW mewajibkan kaum agniya (orang kaya), yakni orang-orang yang memiliki kelebihan harta, untuk mewakafkan sebgian harta miliknya. Kewajiban ini menjadi salah satu motivasi bagi kaum muslim untuk meningkatkan solidaritas dan kesalehan social.

Allah SWT mensyariatkan ibadah haji sehingga umat islam berkumpul di suatu tempat dengan berbagai jenis suku dan bangsa, suku atau ras yang berjauhan asal negara dan daerahnya. Mereka datang dari berbagai negara, mereka berjuta-juta membanjiri tanah haram.

Aspek Egaliter Haji

Meningkatnya animo keberagaman harus sejalan dengan meningkatnya kesadaran sosial kita. Apalah artinya beribadah, jika orang-orang yang berada di sekeliling kita masih terlantar dan tidak bisa mendapatkan makanan yang layak.

Mekkah yang begitu dermawan kepada siapapun harus menjadikan pribadi kita sebagai pribadi yang senantiasa mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap mereka yang lemah dan tertindas.

Mekkah senantiasa akan dikenang dari masa ke masa. Sejarah sudah membuktikan hal tersebut. Hal ini akan menjadi kiblat perubahan sosial, sehingga kita betul-betul mewujudkannya.

Memahami dengan baik jejak-jejak perjuangan Ibrahim dan Muhmmad SAW akan memberikan kita satu motivasi yang sangat kuat agar misi itu bisa disalurkan kepada masyarakat. Pesan ini semakin menegaskan perihal titik temu antara agama-agama yang dibawa oleh Ibrahim dan Muhammad SAW.

Keduanya menekankan dimensi ketauhidan dan penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Secara lebih khusus ka’bah merupakan monumen titik temu yang paling nyata karena semua sepakat bahwa Ka’bah itu di bangun oleh Ibrahim dan Ismail.

Jika dikaji secara filosofis, dengan perkumpulan yang berasal dari berbagai Negara dan bangsa yang jauh itu sudah barang tentu terjadi perkenalan yang jauh dan persahabatan. Misalnya bangsa arab berkenalan dengan bangsa Indonesia, bangsa mesir, bangsa Pakistan, bangsa turki, bangsa Cina dan bangsa Iran, bangsa India, begitu setarusnya dan sebaliknya.

Dengan pertemuan dan perkenalan ini mereka menjalin persaudaraan seagama bagaikan saudara kandung seayah dan seibu tanpa ada perbedaan suku atau pun ras.

Ibadah haji, dengan berihram akan melahirkan musawah (persamaan) umat islam seluruh dunia tanpa pandang bulu. Apakah ia berpangkat sebagai kepala Negara, sebagai menteri, gubernur atau rakyat biasa.

Di tempat yang suci ini, seluruh umat Islam yang menunaikan ibadah haji ditunjukan bahwa dalam Islam status sosial, harta kekayaan, jabatan dan lain-lain di hadapan Allah SWT merupakan sesuatu yang tidak bermakna.

Dari sebab itu Islam meletakkan ajaran-ajarannya bahwa status sosial, jabatan, dan lain-lain tidak boleh menggeser prinsip persamaan yang diajarkannya.

Asep Abdurrahman

http://www.qureta.com/post/megurai-aspek-egaliter-haji

No Comments

    Leave a reply