Memahami Arti Kebahagiaan

Pekan lalu ada tulisan menarik dari Ledian Lanis di sini, mengenai makna kebahagiaan. Baginya, kebahagiaan merupakan sesuatu yang selalu hadir beriringan dan melingkupi dalam kehidupan manusia. Hanya saja manusia lupa untuk mendekapnya.

Pemahaman kebahagiaan yang dibawakan Ledian tersebut, ternyata mengantarkan kembali ingatan saya pada pencarian tema yang sesuai untuk penulisan skripsi. Usaha pencarian yang saya lakukan ketika itu adalah berkonsultasi kepada teman-teman yang telah lulus. Salah satunya Sholahudin yang kerap disapa Adin.

Adin merupakan alumnus Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, yang menyelesaikan tugas akhirnya (skripsi) dengan judul Konsep Kebahagiaan Menurut Kuntowijoyo dalam Novel “Khotbah di Atas Bukit”. Dari awal, Adin memang mengagumi Kuntowijoyo sebagai seorang penulis yang fokus pada sastra dan isu-isu kemasyarakatan.

Konsultasi awal saya kepadanya ialah mengenai tema apa yang harus saya tentukan untuk penulisan skripsi nanti. Hal ini penting disinggung karena menyangkut latar belakang datangnya inspirasi esai ringan ini.

“Dalam penulisan skripsi, tentunya tema yang harus kamu ambil itu harus tema yang kamu sukai dan sesuai dengan alur pemikiran kamu sendiri. Kalau bertentangan, di tengah-tengah penulisan kamu pasti akan menemukan berbagai kesulitan yang tak terduga,” katanya.

“Sekarang ini tema tersebut sudah saya dapatkan, tetapi ketika ingin memulai di bab 1, kesulitan tiba-tiba selalu muncul,” sahut saya.

Dengan perhatiannya ia pun kembali menjawab, “Sesuai dengan pengalaman saya, bab 1 itu berisi apa yang menarik dari tema yang kamu angkat, seperti pedagang yang ingin mempromosikan barang dagangannya. Tapi isi tersebut haruslah memiliki rangkaian historis.”

“Seperti tulisan awal saya yang menjelaskan kebahagiaan merupakan tujuan dari kehidupan manusia. Demi usaha mencapai tujuan tersebut manusia mencari landasan serta jalan agar mereka memahami dan merasakan apa yang disebut dengan kebahagiaan. Hal tersebut menyebabkan lahirnya beragam karakteristik pandangan kebahagiaan. Ini yang menarik dalam skripsi saya. Lengkapnya kamu baca sendiri,” tambahnya.

“Kebahagiaan secara kebahasaan berarti keadaan senang, tenteram, terlepas dari segala yang menyusahkan, atau dapat dikatakan kebahagiaan adalah lawan dari penderitaan. Ini artinya, kebahagiaan adalah suatu keadaan yang berlangsung dan bukanlah perasaan dan emosi. Secara umum kebahagiaan adalah kesenangan dan ketenteraman hidup bagi yang mendapatkannya.”

“Lalu rentetan historis yang dimaksudkan tadi seperti apa?” tanya saya.

“Maksudnya segala pemikiran tidaklah berangkat dari ruang kosong melainkan karena ada pemikiran sebelumnya. Dalam skripsi saya disebutkan bahwa tradisi filsafat Yunani telah melahirkan aliran etika yang membahas tentang kebahagiaan yang juga masih ada pengaruhnya sampai sekarang ini,” jawabnya.

Adin kemudian menjelaskan bahwa perkembangan pemikiran tersebut mengkristal menjadi aliran-aliran: Hedonisme, Eudaimonia, Utilitarian dan Deontologi. Penganut Hedonisme sebagai awal dari aliran tersebut, berpandangan bahwa kebahagiaan manusia terletak pada kesenangan yang didapat langsung melalui panca indera.

Penganut Eudaimonia memandang kebahagiaan diperoleh ketika manusia menjalankan fungsinya dengan baik. Misalnya tukang sepatu yang bahagia ialah ia yang mampu membuat sepatu yang baik. Jadi, kesadaran seseorang dalam menyelesaikan pekerjaannya menjadi kenikmatan tersendiri, dan itulah kebahagiaan.

Penganut Utilitarian juga berbeda dari yang lain. Bagi penganut ini, kebahagiaan merupakan hal yang mesti dinikmati bersama. Oleh sebab itu, tujuan aktivitas hidup manusia ialah kebahagiaan yang menyangkut dengan kemaslahatan orang banyak. Sedangkan, penganut Deontologi memandang bahwa kebahagiaan hanya dirasakan ketika perbuatan manusia dilaksanakan berdasarkan kewajibannya.

Menurut Aristoteles, kebahagiaan yang berada dalam taraf tertinggi hanyalah kebahagiaan spiritual dan bersifat otonom. Kebahagiaan tersebut diumpamakan dengan perjumpaan dengan-Nya. Nah, Kuntowijoyo memiliki pandangan yang sama di mana kebahagiaan tertinggi adalah perjumpamaan dengan Yang Transendental.

“Oh gambaran dalam bab 1 penulisan skripsi seperti itu?”sahut saya.

“Untuk lebih lengkapnya, kamu baca tulisan saya,” kata Adin.

“Kita akhiri dulu percakapan ini ya, saya ada janji,” lanjutnya.

“Terimakasih banyak atas waktunya, Din,” jawab saya.

Konsultasi tersebut ternyata memberikan pencerahan dan arahan yang tidaklah sedikit. Semangat untuk memulai menulis dimulai. Di samping itu, hasil dari konsultasi tersebut juga menunjukkan bahwa pemahaman kebahagiaan sebagai tujuan hidup manusia sangatlah beragam.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply