Membangun Budaya Membaca

Budaya membaca masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat kampus, masih cukup memprihatinkan. Padahal, salah satu kunci kemajuan secara personal maupun sosial terletak pada tumbuh subur budaya membaca.

Perpustakaan, yang biasanya menjadi tolak ukur bagi mahasiswa kini kunjungan ke perpustakaan kampus hanya ramai saat mahasiswa sibuk mengerjakan tugas makalah atau skripsi. Diluat itu, kunjungan biasanya minim. Realitas ini merupakan salah satu indikator masih belum terbangunnya budaya membaca yang kuat dikalangan kampus.

Begitu juga jika kita tengok di lembaga-lembaga pendidikan, apakah budaya membaca sudah tertanam secara kuat? Pasalnya, di era milenial saat ini perkembangan zaman sudah semakin canggih.

Dengan adanya aplikasi dan fitur-fitur sosial media untuk menginformasikan sesuatu, kini masyarakat sudah menjadi penikmat dalam mengkonsumsi sebuah media. Ditambah lagi, informasi pada sosial media ada yang berbasis audio dan visual. Ini menjadi salah satu faktor masyarakat dan khususnya mahasiswa malas membaca.

Namun, seharusnya jika mahasiswa maupun masyarakat yang kini enggan membaca buku hanya menikmati di dalam dunia maya. Justru ini adalah salah satu kesempatan kita untuk mencoba menjadi peran dalam dunia maya itu. seperti mencoba belajar lestarikan membaca, kemudian jika sudah memahami isi dalam bacaan itu.

Kini bisa bermain peran dalam media itu, publik speaking misalnya. Berawal dari vlog di video, yang berawal dari melatih berbicara didepan umum. Nantinya akan jadi pemateri yang profesional di dalam sebuah forum.

Membaca bukan sebuah kegiatan yang sia-sia tanpa manfaat. Ada banyak manfaat luar biasa yang diperoleh dari aktivitas membaca. Secara lebih khusus dapat dikatakan bahwa membaca merupakan sebuah usaha “pemberdayaan diri”.

Dengan membaca, orang akan mampu mewujudkan segenap idealitasi hidup. Mungkin pendidikan formal seseorang tidak terlalu tinggi. Tetapi bisa jadi dia akan melebihi mereka yang menempuh pendidikan formal tertinggi sekalipun. Hal ini sangat mungkin terjadi bila seseorang memiliki tradisi membaca yang kuat.

Rendah minat membaca masyarakat Indonesia, termasuk di kalangan mahasasiswa memang menjadi perbincangan dan keprihatinan sejak lama. Minat membaca yang rendah memiliki banyak implikasi negatif.

Salah satunya adalah rendahnya kemampuan kompetisi di era global karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada kalah bersaing dengan negara-negara lain. SDM yang bermutu mungkin tercipta dalam masyarakat yang miliki tradisi membaca yang kokoh.

Bukti rendahnya kemampuan kompetisi orang Indonesia bisa dilihat dari berbagai penelitian yang ada. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index, HDI) berdasarkan angka buta aksara yang dirilis oleh UNDP pada tahun 2003 menempatkan Indonesia pada urutan ke-112 dari 174 Negara.

Posisi Indonesia ternyata kalah dibandingkan dengan posisi Vietnam yang berada pada posisi ke-109. Padahal, Vietnam merupakan negara yang selama puluhan tahun terbelit konflik berkepanjangan.

Indeks yang sama di rilis pada tahun 2010 menunjukkan posisi Indonesia yang tidak terlalu jauh bergeser. Indoensia berada pada posisi ke-108 dari 152 negara.

Tahun berikutnya, yaitu tahun 2011, posisi Indonesia kalah jauh dibandingkan negara-negara tetangga seperti Singapore yang berada pada urutan ke-33, Malaysia di urutan ke-61, Thailand di urutan ke 103, dan Filipina yang berada di urutan ke-112. Dikutip menurut Satria Dharma dalam bukunya Misteri di Balik Perintah Membaca 14 Abad yang lalu, Surabaya; Eureka Akademia, 2015.

Penulis kira, realitas kompetitif mahasiswa Indonesia tidak banyak berbeda dengan penelitian diatas. Sepanjang budaya membaca belum terbangun, mahasiswa Indonesoa akan berat bersaing dengan mahasiswa dari negara-negara lain di dunia.

Berbagai usaha untuk menumbuhkan budaya membaca memang sudah banyak dilakukan, mulai dari menyediakan anggaran pengadaan buku murah, kampanye lewat berbagai media hingga seminar ataupun pelatihan. Namun fakta menunjukkan bahwa sampai saat ini belum banyak perubahan signifikan dalam hal tradisi membaca.

Membaca memiliki korelasi yang cukup erat dengan menulis. Mahasiswa yang memiliki budaya membaca memiliki peluang yang lebih besar menghasilkan tulisan yang bagus. Menurut Mary Leonhardt, berkomunikasi secara tertulis itu cukup rumit. Penulis yang baik mampu mengekspresikan gagasan dan pemikirannya lewat kalimat yang bervariatif.

Kemampuan seperti ini tidak bisa dimiliki oleh semua orang. Hanya mereka yang telah memiliki budaya membaca yang kokoh saja yang akrab dengan teknik-teknik yang digunakan oleh para penulis yang baik. Semakin banyak membaca maka rasa kebahasaan juga akan ikut tumbuh dan berkembang. “Mary Leonhardt, 99 Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis.”

Memang pada dasarnya penulis sadari. Kegiatan membaca, jika kita cermati kelihatannya cukup sederhana. Hanya ada tiga unsur, yaitu teks bacaan, pembaca dan aktivitas membaca. Hanya itu saja, tetapi ternyata definisi membaca tidaklah sederhana itu.

Maka dari itu, mari dengarkan video Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa ”catatan untuk mahasiswa”; “jika idealisme ialah kemewahan yang hanya dimilikki pemuda, akan di isi apa periode kalian sebagai mahasiswa?

Belajar tentu keharusan yang tak boleh di abaikan, namun merugilah jika belajar disempitkan semata perkuliahan. Nikmati kehidupan kampus dengan terus mengasah, jangan habiskan waktu dengan terus berkeluh kesah karena kalian adalah anak-anak muda pilihan yang berkesempatan merenggup dalamnya sumur ilmu pengetahuan.

Bacalah sebanyak-banyaknya buku, jangan main gadget melulu. Kongko-kongko tentu boleh saja apalagi jika di sekertariat organ mahasiswa, kenali sebaik-baiknya teman-temanmu, hayati masyarakat di sekelilingmu agar kampus tak menjelma menjadi tembok yang membicarakanmu.

Beranilah mengambil pendirian dalam banyak persoalan. Tinjulah kemapanan dengan kepalan tangan, lawanlah kemujudan dengan kenekatan membuat trobosan. Jangan takut jatuh dan terantuk dengan terbentur kau akan terbentuk. Sebab Indonesia memang ditemukan dan diusahakan oleh anak-anak muda, kalian pulalah yang mestinya memperbaharui tanah air kita.”

Bahwa membaca memang memiliki dampak nyata dalam memberdayakan diri pembacanya. Oleh karena itu, sudah seharusnya seluruh komponen pendidikan, terutama mahasiswa, membangun budaya membaca secara baik.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply