Memilih Kehidupan Dunia atau Akhirat?

Bila ada yang bertanya kepada kita siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat, pasti kita semua sepakat sangat mendambakannya. Hanya yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana caranya untuk meraih keduanya?

Mengenai kehidupan dunia dan akhirat, Islam sebagai agama yang sempurna serta agama yang rahmatan lil ‘alamiin telah mengingatkan kita dengan firman-Nya:

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid: 20).

Perumpamaan kehidupan ini bak seorang musafir yang sedang bernaung di bawah sebatang pohon, yang sejenak kemudian pergi dan meninggalkan pohon itu. “Sesungguhnya dunia ini manis lagi hijau.”

Ada tiga sikap manusia dalam memandang kenikmatan dunia: Pertama, mereka yang memandang kesenangan dunia sebagai tujuan hidupnya. Oleh karena itu, mereka bekerja keras siang malam untuk mencari harta.

Kedua, mereka yang memandang kesenangan dunia sebagai sesuatu yang tercela dan hinaPaham seperti ini dianut oleh sebagian kalangan sufi. Sebagian lagi ada yang menghindari penggunaan teknologi, dan sebagainya.

Ketiga, mereka yang memandang dunia sebagai sarana meraih akhirat. Bagi mereka, akhirat adalah tujuan hidup, tetapi bukan berarti meninggalkan dunia. Mereka bekerja mencari dunia dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. Akan tetapi itu semua bukanlah tujuan akhir. Tujuan mereka adalah meraih ridho Allah dan surga-Nya. Inilah cara pandang yang sesuai dengan tuntunan Islam.

Tertipu dengan Kesenangan Dunia

Sejak dahulu hingga kini tidak sedikit orang-orang yang tertipu oleh dunia. Demi kenikmatan hidup di dunia, manusia rela mengorbankan segala-galanya. Padahal terpedaya oleh dunia akan mendatangkan banyak petaka.

Sesungguhnya tujuan Allah menciptakan manusia dan jin adalah agar mereka beribadah kepada-Nya. Inilah tujuan hidup yang sejati. Akan tetapi para pemburu dunia lupa dengan tujuan besar ini karena terbius oleh kelezatan dunia. Sehingga, keadaan mereka tak ubahnya binatang ternak. Allah SWT berfirman: ”Orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan makan seperti makannya binatang ternak. Neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad:12).

Rasulullah SAW bersabda: “Kelak pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling senang hidupnya di dunia dari kalangan penghuni neraka. Kemudian ia dicelupkan ke neraka sekali celup lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesenangan ketika di dunia dahulu?’

Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku. ‘Lalu didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari kalangan penghuni surga. Kemudian ia dicelupkan ke surga sekali celup lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesusahan atau penderitaan ketika di dunia dahulu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakan kesusahan atau penderitaan sedikitpun.” (HR. Muslim).

Peringatan pesona dunia

Di dalam Alquran berulang kali Allah SWT mengingatkan kita agar tidak terpedaya oleh pesona dunia yang memang memukau. Sesungguhnya kehidupan dunia ini sangatlah fana dan singkat, sedangkan di akhirat kelak tersedia surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan segala penyiksaannya. Kampung akhirat adalah kehidupan yang sejati, kekal dan tidak ada akhirnya. Allah SWT berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia ini memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah,” (QS. Faathir:5)

Dan firman-Nya: ”Allah meluaskan rizki dan menyempitkan bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibandingkan dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’du:26).

Yakin kepada hari akhir

Pesona dunia dan kemilaunya berpengaruh pada jiwa-jiwa yang tidak meyakini hari akhir dengan segala peristiwa dahsyatnya. Padahal pesona dunia ini jika dibandingkan dengan pesona akhirat tidak ada artinya. Akan tetapi pesona surga tersebut tidak nampak, tidak bisa dibuktikan di dunia, dan tidak bias dilukiskan dengan kata-kata. Nah disinilah pentingnya beriman pada hari akhir. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al Baqarah:4)

Dalam hal ini para sahabat Rasulullah SAW adalah contoh yang baik. Mereka semua bekerja mengurus dunianya. Kaum muhajirin bekerja sebagai pedagang sedangkan mayoritas kaum Anshar bekerja sebagai pekebun. Diantara mereka ada yang kaya raya seperti Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab r.a, dan lain-lain. Akan tetapi mereka menjadikan dunia itu ditangan mereka, bukan di hati mereka.

Sehingga, mereka kaya raya namun tidak sanpai cinta dunia. Bagi mereka harta adalah sarana untuk meraih pahala. Kekayaan adalah jalan untuk meraih ridho Ar-Rahman.

Dengan menyakini hari akhir maka jiwa seorang muslim tidak terlalu silau dengan gemerlapnya dunia, sebab dia yakin bahwa setelah kehidupan dunia ini ada suatu kehidupan yang jauh lebih bermakna lagi kekal. Dan itulah kehidupan yang sejati. Betapa remehnya kesenangan dunia jika dibandingkan akhirat.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply