Menangkal Virus Islamofobia dengan Prinsip Pluralisme

“What we see is shaped by what we already know, by other things we see, and by what we expect” (William C. Placher). Ungkapan Placher tersebut cukup memberikan pesan bahwa apa yang kita harapkan, lihat, dan ketahui akan menentukan posisi kita. Baik dalam berargumen ataupun menentukan sikap.

Islamophobia tidak dapat dipisahkan dari problema prasangka terhadap orang muslim maupun orang yang dipersepsikan sebagai muslim. Sejak pasca tragedi WTC 11/09 di New York, dan seruan-seruan peperangan terhadap terorisme. Komunitas, identitas, maupun entitas Islam seolah-olah selalu menjadi bagian penting untuk dibicarakan.  Islam dipandang sebagai penyebab segala akar permasalahan dan secara stereotip, mereka menjadi sasaran atas tuduhan tersebut.

Akhir-akhir ini juga, banyak terjadi intimidasi maupun Islamophobia di negara Indonesia ini. Berawal dari penolakan tempat acara kegiatan Muslim United dimasjid Gede Keraton Yogyakarta, hingga penolakan ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS) dimasjid kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).

Berbagai respon dari peristiwa ini memicu perdebatan dan pertentangan antar masyarakat Indonesia, terutama pada masyarakat Islam itu sendiri. Padahal kita tahu, negara Indonesia adalah negara yang sangat mengedepankan sebuah perbedaan. Baik dari segi budaya, etnis dan agama tentunya.

Nilai-nilai islam memang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh individu-indvidu yang mengaku Islam. Hanya saja penerapannya harus didasarkan kepada sikap sukarela, bukan dengan meminjam tangan-tangan negara untuk memaksakan pelaksanaannya. Jika itu terjadi, maka kemungkinan Islam hanya akan menjadi alat propaganda kekuasaan, sehingga akan menghilangkan nilai-nilai kesakralannya.

Perbedaan adalah Rahmat, dan juga media untuk selalu mengoreksi pemahaman, tentunya jika perbedaan tersebut disikapi secara dewasa. Namun jika tidak, perbedaan akan menjadi sumber bencana yang akan selalu menimpa negri kita tercinta ini. Pertanyaannya, kenapa virus Islamophobia semakin marak dikampanyekan di negri ini? Apa yang salah dengan Islam?

Apakah karena berbeda, kemudian salah? Ataukah salah karena berbeda?

Bukankah sebuah pemikiran dan sikap keberagaman yang termanifestasikan dalam ritualitas merupakan respon terhadap apa yang dipahami sebagai Dzat Yang Serba Maha? (ulimate reality). 

Prinsip-prinsip pluralisme tentunya bertentangan dengan ajaran-ajaran agama yang ada di Indonesia. Karena, tiap-tiap agama memiliki ritual yang berbeda-beda.  Adalah suatu bentuk penistaan ketika ritual keagamaan yang suci digabungkan dengan ritual agama lain, meskipun sama-sama diklaim suci terhadap agamanya masing-masing.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh M. Rasjidi, bahwa agama adalah masalah yang tidak dapat ditawar, apalagi berganti. Ia mengibaratkan agama bukan sebagai (seperti) rumah atau pakaian yang kalau perlu dapat diganti. Jika seseorang memeluk sebuah keyakinan, maka keyakinan itu tidak dapat pisah darinya.

Berdasarkan keyakinan inilah, menurut Rasjidi, umat beragama sulit berbicara secara objektif dalam soal keagamaan. Karena manusia dalam keadaan involved (terlibat). Sebagai seorang muslim misalnya, ia menyadari bahwa ia terlibat dengan Islam. 

Namun, Rasjidi mengakui bahwa dalam kenyataan sejarah, masyarakat adalah multi-complex yang mengandung religious pluralism, atau bermacam-macam agama.  Hal ini adalah realitas sosial, karena itu mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri dengan mengakui adanya religious pluralism dalam masyarakat Indonesia.

Beragam pemahaman keagamaan menyebabkan munculnya ekspresi keber-agamaan yang berbeda pula, baik dalam bentuk persepsinya terhadap realitas mutlak (ultimate reality) maupun dalam ranah sosial keagamaannya.

Menurut ajaran Islam, setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah, dan orang tua, serta lingkungan yang akan membentuknya, mau jadi apa bayi yang lahir tersebut? Sehingga tidak mengherankan apabila muncul anggapan kalau orang tuanya beragama Islam, maka si bayi akan menjadi orang Islam. Begitupun jika orang tuanya beragama Kristen, Hindu, Buddha, Konguchu, dan lain-lain.

Pada posisi ini, keberagaman seseorang tampaknya dipandang sebagai hasil dari proses konstruksi sosial masyarakatnya. Nilai dan tradisi, juga agama dilembagakan dan diwariskan, maka jadilah individu tersebut sebagai cerminan dari masyarakatnya.

Perkembangan keagamaan seseorang oleh masyarakat dilingkungan tempat tinggal, ditempat belajar, maupun ditempat kerja dengan fenomena sosial yang hadir silih berganti dengan berbagai penyikapannya.

Nilai-nilai agama akan diperoleh pertama kali dalam lingkungan terdekat, yakni keluarga. Sementara pengembangan lebih mendalam, akan diperoleh melalui hubungan-hubungan dan proses dialektika  yang terjadi dalam komunitas keagamaan dilingkungan tempat tinggalnya.

Sikap keagamaan ini akan di uji dan dimatangkan ketika dikemudian hari bertemu dengan para penganut agama yang berbeda, atau walaupun seagama tetapi mempunyai persepsi yang berbeda, serta berbagai peristiwa sosial yang hadir dalam kehidupan.

Dengan memahami proses konstruksi sosial dalam keagamaan, maka setiap orang akan mengetahui mengapa ia mempunyai pemahaman dan sikap keagamaan yang berbeda dengan orang lain.

Alwi Shihab mengemukakan bahwa pluralisme adalah sikap toleransi untuk menahan diri agar potensi konflik dapat ditekan, dan pluralisme sesungguhnya tidak semata-mata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan, namun adanya keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut.

Tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tetapi terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan dalam bhinneka tunggal ika. 

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply