Mendiskreditkan Islam

Sebagai sebuah agama, Islam memiliki kecocokan terhadap pelbagai bidang kehidupan. Terlebih lagi Islam merupakan agama samawi yang memiliki keunggulan dari berbagai agama lain – jika mau diadu. Islam merupakan agama yang universal yang memiliki seperangkat nilai terhadap segala apa yang dibutuhkan manusia untuk bisa survive di bumi ini.

Dari itu banyak pemikir Islam yang mengambil sari pati Islam sebagai sebuah konsep yang dikonstruk menjadi rancangan yang matang dalam menjalankan kehidupan. Semisal bernegara, ilmu dan sistem hukum. Dalam hal ilmu, Islam memiliki keunggulan yang berlebih jika dibandingkan dengan gereja abad pertengahan dan pra-modern.

Semisal thales di Yunani, sebelum Islam turun ke bumi, ia mendefinisikan kehidupan berawal dari air. Dan Islam membenarkannya dengan kalam ilahi dalam al Qur’an bahwa segala sesuatu berawal dari air. Di abad yang sama ketika al Qur’an telah sempurna turun sebagai wahyu yang memiliki kebenaran otentik menganjurkan bahwa akal adalah alat yang memungkinkan manusia untuk mencapai pengetahuan.

Abad-abad pertengahan, adalah abad di mana Islam telah mengekspansi Eropa dan berbagai karya-karya filsuf Yunani sebagai suatu sumber ilmu yang perlu untuk dipelajari. Islam tidak pernah membatasi dari mana ilmu itu datang, tidak ada istilah ilmu itu produk kafir yang layak untuk dibenci dan dijauhi. Lewat pemikir Islam abad pertengahan pengetahuan dikembangkan dengan menerjemahkan karya-karya Aristoteles, Plato dan Socrates. Lewat Sisilia, Theodore, dan berbagai tempat lainnya, karya-karya Yunani diterjemahkan. Cara berfikir yang benar yang digagas oleh filsuf Yunani memberikan dampak yang cukup kuat dalam perkembangan Islam itu sendiri.

Dalam teologi, misalnya, bahwa Islam mengadopsi sekian banyak istilah yang direduksi kedalam istilah Islam. Yang nantinya istilah-istilah ini yang akan mengisi Islam dan seluruh aspeknya. Kita mendengar “qiyas”, yang mana istilah tersebut adalah bagian dari filsafat. Seperti yang telah tersebut di atas bahwa tidak ada yang masuk dalam kategori ilmu kafir, sepanjang ia memberikan manfaat yang besar maka ia wajib untuk dipelajari dan digunakan sebagai pengetahuan.

Dari sini lahir berbagai karya filsafat Islam yang memenuhi masa kejayaan Islam di abad pertengahan. Ibn Sina, Al Farabi, Ibn Rusyd, Suhrawardi, dan Mulla Sadra, juga mistikus Ibn Arabi dan Jalaludin Rumi misalnya, ia adalah wajah Islam waktu itu. Kejayaan Islam dengan mengadopsi sekian banyak karya yang layak untuk dipelajari dan berkemungkinan memberikan manfaat yang besar. Memang dalam penerjemahannya karya-karya Yunani yang bernuansa dewa-dewa dan pembahasan yang kurang mampu bersinergi dengan Islam tidak diterjemahkan.

Karya Yunani yang memiliki basik kemampuan berfikir secara sistematis dan benar diadopsi oleh filsuf muslim. Filsuf muslim pun pada masa ini meraih hakikat tertinggi dalam kancah keilmuan, yakni melangit atau mencapai Tuhan. Filsafat pada masa ini adalah sebuah pembahasan yang dianggap tren. Siapapun yang tidak bersentuhan dengan filsafat dianggap ketinggalan zaman.

Islam telah lintas batas dalam meraih ilmu, Ibn Rusyd misalnya memiliki murid Yahudi yang bernama Maimodes. Inilah yang kemudian memiliki pengaruh untuk mewarnai keilmuan barat.

Di masa ini pula Imam Al Ghazali dengan karya filsafatnya menghentikan gerak filsafat di kalangan umat muslim. Hingga hari ini umat Islam terutama Sunni agaknya melihat filsafat sebagai bagian dari hal yang diharamkan oleh Islam. Sekalipun gerak Imam Al Ghazali ini berusaha dihentikan oleh Ibn Rusyd seketika itu. Berbeda di kalangan Syiah yang cenderung untuk mengusung besar-besaran cara berpikir sistematis ini. Sampai pada akhir abad pertengahan, Islam telah kehilangan tempat duduknya di Eropa. Dan terhenti pula gerak pemikiran Islam dengan basis rasionalnya.

Di abad sebelum modern, para pemikir Eropa mengalami kegelisahan yang dengan gereja. Gereja yang bersifat otoriter berusaha untuk mengatur segala-galanya dalam gerak kehidupan. Copernicus misalnya juga dihukum mati pada 1 januari 1600 M karena berbeda pendapat dengan gereja. Tokoh lain seperti Galileo juga ditolak mentah-mentah oleh gereja karena mencetuskan teori Heliosentris. Bahwa pusat dari alam raya ini adalah matahari, tentu ini bertolak-belakang dengan yang dikatakan oleh gereja waktu itu.

Baru-baru ini ditemukan bahwa apa yang dikatakan gereja telah salah dipahami, bahwa pusat alam raya adalah bumi bukanlah makna asli. Makna sesungguhnya bumi dihuni oleh manusia, dan manusialah satu-satunya makhluk yang mampu untuk berfikir dan memikirkan alam raya. Oleh karenanya ini dipahami secara salah oleh gereja yang mengakibatkan perbedaan pendapat di kalangan ilmuan waktu itu.

Atas alasan gereka mencampuri segala urusan terutama telah mengekang manusia dalam berbagai aspek kehidupan, maka lahirlah gagasan sekuler. Bahwa gereja bertugas menyampaikan hal-hal agama dan selain itu dikehendaki untuk berdiri-sendiri. Sementara Islam mengalami kemunduran yang cukup signifikan dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan.

Dari gagasan baru ini, banyak ilmuan barat yang berusaha untuk mengembangkan pengetahuan dan cara berfikirnya. Salah satu tokoh sentral sebagai pembuka gerbang kemajuan barat adalah Rene Descartes. Ia adalah filosuf rasionalisme yang meyakini bahwa untuk mencapai kebenaran pertama-tama segala-galanya harus diragukan. Rene Descartes diyakini terpengaruh oleh karya Al Ghazali Al-Munqid Min Al-Dhalal atau Terbebas dari Kesesatan. Karya ini mengulas perjalanan imam al ghazali dalam mencapai kebenaran yang hakiki, bahwa dirinya telah ragu terhadap segala sesuatu yang dipercaya selama ini.

Dalam temuan terakhir, Rene Descartes di perpustakaan pribadinya memberikan cacatan pinggir atas karya Al Ghazali ini. Rene Descartes mengadopsi ini sebagai cara berfikir untuk mendapatkan kebenaran, pertama segala-galanya diragukan, dan karena keraguan itulah maka dirinya dapat disebut sebagai berfikir cogito ergo sum.

Dari produk Rene Descartes ini muncul antitesis yang menyatakan bahwa bukan akal yang menentukan kebenaran, melainkan pengalaman indrawi-lah yang benar secara ilmiah (empirisme). Hingga berlanjut pada madzhab positivism yang menghendaki bahwa segala sesuatu dikatakan benar jika ia memiliki nilai ukur, terjadi berulang dan dapat diamati. Sintesis antara rasionalisme dan empirisme ini telah mengkerucutkan Islam di dalam kancah perkembangan ilmu pengetahuan.

Mukjizat misalnya, ia adalah sesuatu yang terjadi sekali, tidak dapat diprediksi dan tidak dapat diukur. Dari ini muncullah kegelisahan bahwa apakah positivisme ini bertujuan untuk melemahkan keilmuan bahwa agama Islam ?

Hari ini barat telah kehilangan spiritualitas, meskipun ilmu yang dikembangkan di barat mengadopsi Islam secara utuh namun dalam perkembangannya ia berbeda dengan Islam. Islam menganjurkan adanya amal dan buahnya adalah spiritualitas. Sedangkan barat bermuara pada empirisme sehingga jiwanya menjadi kering.

Masalah lainnya yang muncul adalah barat hingga saat ini tidak mau mengakui bahwa keilmuannya berawal dan bersumber dari Islam. Hal ini memang telah dapat dikatakan barat tidak mempelajari sisi historis perkembangan ilmu secara benar. Di lain sisi, Islam saat ini mengalami kemunduran dan perlu untuk belajar terhadap barat. Satu-satunya yang dimiliki Islam saat ini yang tidak dimiliki barat adalah spiritualitas. Hendaknya antara barat dan Islam memiliki sinergi yang cukup untuk mengantarkan pada kebenaran ilmu yang hakiki.

Ivan Hanafi

Sumber: https://www.qureta.com/next/post/mendiskreditkan-islam

 

No Comments

    Leave a reply