Menelusuri Akar-Akar Kekerasan

Sejak homo sapiens menjejakkan kakinya di atas muka bumi ini, rasanya sejak itu pulalah sejarah kekerasan benar-benar dimulai – dan barangkali tak akan kunjung selesai. Beraneka ragam literatur tak putus-putus mengisahkan pedihnya riwayat pertumpahan darah dari zaman ke zaman. Bahkan skriptur agama Islam pun tak luput mengabadikan satu kisah perihal peristiwa kekerasan, lebih tepatnya kisah pembunuhan pertama anak manusia dalam sejarah.

Adalah Qabil putra Adam yang tega melenyapkan nyawa saudaranya sendiri yang bernama Habil. Peristiwa itu bermula tatkala kurban persembahan Qabil tak diterima oleh Yang Maha Kuasa. Merasa murka, Qabil kemudian menghabisi nyawa Habil dengan tangannya sendiri. Tragedi berdarah semacam itu juga tercatat dalam Alkitab Kitab Kejadian, yakni kisah Kain dan Habel.

Terlepas soal benar atau tidaknya kisah-kisah yang tercantum di dalam literatur keagamaan tersebut, namun cerita tentang Qabil dan Habil ataupun Kain dan Habel cukup dapat merefleksikan sejarah kekerasan dari masa ke masa. Bertolak dari kisah itu, kita kemudian dapat memetik satu pelajaran bahwa ternyata kekerasan juga dapat dipicu oleh hasrat akan pengakuan atau eksistensi.

Mengharapkan satu pengakuan tentu saja merupakan hal yang sangat wajar. Siapa pun menginginkan eksistensi. Ketika eksistensi telah diperoleh, seseorang cenderung akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya.

Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, hasrat yang berlebihan dalam upaya meneguhkan eksistensi itu justru sering kali berujung kepada konflik. Persis seperti apa yang terjadi pada kisah Qabil dan Habil di atas.

Sebagai sesuatu yang langka dan diburu-buru oleh banyak orang, eksistensi akhirnya menjelma menjadi bahan bakar paling ampuh untuk meledakkan tragedi. Sejarah telah mencatat begitu rupa peristiwa berdarah yang dilandasi oleh dorongan nafsu semacam itu. Nafsu untuk menguasai dan mengokohkan eksistensi diri, baik itu berlatar belakang ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun agama.

Kembali pada kisah Qabil & Habil. Sosok Qabil sebenarnya juga dapat menjadi perumpamaan paling jitu bagaimana kaum lelaki kerap menganggap maskulinitas segala-galanya: merasa paling kuat, paling sempurna, dan paling berhak atas segala sesuatu.

Sikap arogansi semacam itu lantas mampu menjadi racun yang membinasakan, baik bagi sesama golongannya sendiri maupun golongan yang lain. Maka, serupa Qabil, kaum lelaki pun akan meneguhkan eksistensinya dengan segala upaya, meskipun itu berarti dengan cara mengekang, mendominasi, memerkosa, bahkan membunuh.

Fanatisme dan mayoritanisme kelompok agama juga memiliki titik persoalan yang tak jauh berbeda. Demi mengukuhkan eksistensinya sebagai kelompok yang berkuasa dan paling benar, mereka lantas merasa berhak untuk mendominasi, bahkan mengenyahkan eksistensi kelompok lain.

Apabila melihat kasus-kasus kekerasan yang semakin marak terjadi belakangan ini, tampaknya sejarah kekerasan tak akan lekas berakhir. Dan selama masih banyak keturunan-keturunan Qabil di luar sana yang haus akan kekuasaan dan eksistensi, maka impian akan kedamaian ibarat perjalanan panjang yang tak akan pernah berujung.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply