Menggali Kembali Sisi Esoterisme Islam

Belakangan ini pola beragama umat Islam Islam lebih mengarah kepada pola beragama yang mengurus masalah-masalah sepele. Seperti wacana hijrah, gerakan anti pacaran, membuka seminar nikah muda dan poligami, bahas kewajiban memelihara jenggot, celana cingkrang, dan berbagai masalah sepele lainnya yang akhirnya mengarah pada debat kusir.

Umat Islam belakangan ini malah cenderung menjadi umat Islam yang baperan dan sensitif. Contohnya  di media sosial, mereka lebih asyik mencaci maki dan menjustifikasi orang lain sebagai sesat, kafir, penista agama hanya karena berbeda dalam urusan politik dan madzhab. Alih-alih menjadikan Islam sebagai landasan moral dan spiritual, mereka justru tenggelam dalam kebencian.

Hal ini disebabkan karena masyarakat Muslim di Indonesia terjebak pada pemahaman keagamaan yang condong aspek zahir atau sisi eksoteris syariat. Orang lebih mementingkan penampilan luar dan asesoris ketimbang menghayati hakikat ajaran Islam. sehingga pola keislaman yang ditampilkan saat ini adalah Islam yang kering dari spiritualitas, sehingga membuat penganutnya menjadi bebal dan mudah tersulut oleh kebencian.

Mengenal sisi Esoteris Islam

Ajaran Islam memiliki  dua sisi yaitu sisi zahir dan batin, atau bahasa lainnya adalah sisi eksoteris dan esoteris. Eksoteris adalah ritual normatif seperti hukum syariat,  sedangkan esoteris adalah makna atau tujuan dibalik ritual atau syariat tersebut. William Chittik dalam buku Tafsir Esoteris Ghazali dan Sam’ani menukil sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin:

“ Sesungguhnya Al-Quran memiliki aspek lahiriah (eksoteris) dan aspek batin (esoteris), sebuah akhir (hadd) dan sebuah awal (matla)” 

Ini menunjukan bahwa Islam memiliki sisi esoteris yang merupakan hakikat atau inti daripada agama. Memang kita diwajibkan untuk melaksanakan perintah-perintah syariah yang bersifat eksoteris baik dalam bidang ibadah maupun dalam bidang hukum, namun dibalik hukum dan ibadat zahir terdapat hakikat dan makna tujuan yang tersembunyi dibaliknya. Contohnya Allah berfirman dalam surah Al-Hajj ayat 37 tentang maksud esoteris dari berkurban:

 “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Allah menerangkan tentang tujuan dari berkurban adalah simbol ketakwaan, dengan menyerahkan segala apa yang kita punya untuk mendapat ridha dan kedekaatan spiritual denganTuhan. Jadi berkurban hakikatnya bukan memperingati penyembelihan Ismail oleh Ibrahim dan bukan pula momen pesta pora dengan makan daging korban.

Dari sini sangat jelas bahwa setiap ritual syariah memiliki aspek hakikat atau esoteris.dalam contoh yang lain, Allah menyebut dalam surah Al-Ma’un “celakah orang-orang yang shalat” yang dimaksud adalah orang-orang lalai tidak memahami makna sejati shalat. Dalam Kitab Ta’wil al-Da’a’im, Qadhi Nu’man, seorang ahli  hikmah di era Kekhalifahan Fathimiyah, menjelaskan bahwa ritual shalat memiliki sisi esoteris, dan sisi esoteris shalat adalah mengakkan dakwah dan syiar Islam, yaitu mengamalkan serta mengajak orang pada jalan yang lurus.

Sisi esoterisme Islam yang dibawa oleh para ahli ma’rifat akan mengajak kita untuk jatuh kedalam nikmatnya beragama, menyelami lautan hakikat dan memahami indahnya Islam. Melalui tasawuf, kita akan dikenalkan kepada inti agama, yaitu cinta. Dunia berputar karena cinta, dan karena cinta Tuhan pada manusia itulah Allah menurunkan Nabi Muhammad kedunia.

Secara keseluruhan, sisi esoteris atau hakikat agama Islam adalah cinta kasih pada sesama. Dan cinta kasih inilah yang sering diabaikan oleh umat Muslim Indonesia yang saat ini terbuai oleh ratusan praktik keagamaan yang lebih mementingkan sisi zahir (eksoterik) ketimbang merenungkan inti dan tujuan agama yang sejati (esoteris).

Dalam sebuah hadits, Rasulalah bersabda:

 “Kelak akan muncul orang-orang dari sebelah Timur, mereka membaca Al Qur’an namun hanya sebatas kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari agama (sesat) sebagaimana halnya anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali hingga anak panah kembali ke busurnya” (HR. Bukhari)

Hadits di atas menerangkan pada kita bahwa Rasulallah mengecam orang yang membaca kitab suci namun hanya sebatas di tenggorokan, maksudnya adalah mereka membaca Al Quran dan memahami ajaran Islam secara zahir atau literal, tanpa memahami makna Al Quran. yang menyebabkan mereka menjadi orang sesat dalam beragama.

Hadits ini sangat relevan dengan kondisi umat Islam saat ini. Banyak orang mengaku dirinya sebagai ulama dan banyak orang mengaku sebagai pemurni ajaran Islam tapi tingkah laku dan dampak yang mereka lakukan justru menyimpang dari nilai-nilai Islam. Banyak generasi muda Islam yang berusaha mengamalkan sunnah nabi, namun hasilnya justru mereka merasa dirinya paling benar sehingga mengkafirkan kelompok lain hanya karena beda pandangan.

Alih-alih membawa perbaikan umat dan peningkatan spiritual, justru yang dihasilkan malah sebaliknya, umat saling mencaci maki, berbuat konaran, hingga bersikap ekstrim  yang merusak keharmonisan bangsa. Orang-orang yang mengabaikan akhlak dan inti ajaran Islam sebagai agama cinta inilah yang disebut dalam hadis diatas sebagai orang-orang yang tersesat.

Jikalau kita mencontoh para ulama sufi dan filosof Muslim, mereka tidak memusingkan apakah wajib bercelana cingkrang atau tidak, harus berjenggot atau tidak, wajib cadar atau tidak. Para ahli hikmah tidak melihat persoalan sepele seperti itu, sebab hal tersebut tidak akan mengantar manusia kepada kesempurnaan spiritual.

Tren keagamaan di Indonesia yang belakangan berkembang sayangnya justru jatuh pada pola keagamaan mereka hanya mementingkan sisi zahir saja yaitu melaksanakan formalitas fiqh  tanpa melihat sisi spiritual. Sibuk menjalankan praktik zahir tapi mengabaikan aspek esoteris yang terkandung dalam ajaran Quran, yaitu mengamalkan Islam yang rahmatan lil alaminWallahu a’lam.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply