MENGGUGAT MANUSIA MODERN

Dahulu, anak perempuan masih ragu untuk keluar malam dan anak laki-laki lebih memilih beristirahat dirumah pada malam hari setelah seharian menjalankan kewajibannya dikebun, sawah, ataupun laut. Itu masa ketika kata, yang keluar dari mulut orangtua masih terasa sakral untuk tidak dipatuhi, dan batas-batas, belum dirobohkan. Ketika dunia yang disebut modern, masih dalam wujudnya yang malu-malu.

Sumber-sumber kedekatan tidak hanya dilihat pada hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga manusia dengan alam sekitarnya. Dan budaya, yang didalamnya ada keterkaitan antara ajaran moral dengan penghormatan pada leluhur, masih dirawat dengan baik. Sebab apa yang di pegang oleh masyarakat dahulu untuk di kukuhkan adalah kepercayaan, dan dengan percaya, mereka menyimpan harapan.

Tetapi sekarang dengan semakin berkembangnya pengetahuan, dan berbagai penemuan semakin banyak, ”membuat dongengan leluhur,” seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “sampai malu tersipu.” Dunia modern yang dulunya asing dengan wujudnya yang masih malu-malu, kini kian hadir dalam wujud aslinya. Orang jarang lagi mau untuk  mengenali batasan moral dalam hukum adat istiadat, sebab batasan telah hadir dalam bentuk kelas (strata) sosial.

Tidak salah ketika Jean Baudrillard, dalam bukunya Masyakat Konsumsi, menyatakan bahwa “pertumbuhan adalah fungsi dari kemiskinan, pertentangan didalamnya akan mengarahkan manusia pada kemiskinan psikologis.” Lebih lanjut akibat dari pertumbuhan pula, yang banyak menghasilkan barang-barang yang berguna dengan jumlah yang terlalu banyak, bagi Marx , akan menghasilkan terlalu banyak orang-orang yang tidak berguna.

Kemiskinan psikologis mengakibatkan hilangnya kepekaan dari manusia-manusia modern terhadap alam dan lingkungan sekitarnya. Akibat tingginya sekat yang diciptakan oleh kelas (strata) sosial, bisa menghalangi serta membutakan penglihatan seseorang untuk bisa berguna bagi orang lain.

“Manusia modern itu sangat enerjik,” kata Jean Baudrillard, “tidak sedikitpun merasa letih. Sebab kelas tertinggi tidak dicapai dengan cara diam atau berkah dari alam, tetapi melalui pelatihan-pelatihan yang selektifitas.”

Dengan itu kita melihat, bahwa dunia modern memang menuntut seseorang untuk memiliki sifat yang individualistik. Dimana untuk mencapai kelas tertinggi, maka hubungan atau relasi kemanusiaan, identik dengan persaingan hingga kepentingan dipertuankan. Maka dari itu, Apa yang hilang dari tubuh masyarakat modern sebagian besar, adalah sesuatu yang paling esensial dari manusia, semacam keikhlasan.

Rasa ikhlas memang disebut sebagai keikhlasan justru ketika tidak dipertanyakan. Hanya saja, ketika dunia sudah dipenuhi dengan manusia-manusia yang individualis, dimana kepentingan kian jadi tuntutan dan dan tontonan, tidakkah tindakan mempertanyakan menjadi terasa penting?

“Sains modern telah membunuh perasaan ingin tahu kita dengan mengatakan kepada kita bahwa kita tahu segalanya.” kata Jonathan Black (dalam bukunya Sejarah Dunia Yang Disembunyikan), “Sains modern telah membunuh filsafat, dengan menganjurkan pada kita untuk tidak memberikan pertanyaan-pertanyaan besar tentang mengapa.”

Jangan sampai kita yang awalnya dituntut untuk membiasakan diri dengan perubahan, pada akhirnya, lupa dengan apa yang nantinya akan membinasakan diri kita sendiri. Sebab,  “ilmu pengetahuan dan tekhnologi,” kata Herbert Marcuse, “dalam dirinya mengandung kekuasaan, hanya berkembang sesuai dengan ketentuannya sendiri sehingga akan memperbudak manusia dengan segala ketergantungannya pada produk-produknya.”

Saya merasa, para pemikir-pemikir kontemporer—seperti Jean Baudrillard dan Herbert Marcuse—dalam menyampaikan keresahannya, merujuk pada rasa kemanusiaan yang coba dihilangkan oleh benda-benda (reifikasi). Sikap yang afirmatif, pada akhirnya berujung menjadi hilangnya sebuah negasi pada yang berlebihan-lebihan (hedonisme).

Dengan menjadi manusia modern, dalam laku yang tak dapat dihindari akibat tuntutan zaman, jangan sampai membuat kita kehilangan arah. Kita dilahirkan dari masa lalu agar bisa menjadi penentu perubahan menjadi lebih baik.

Perubahan yang kita rasakan dengan terburu-buru ini, bukanlah alasan untuk kita tidak melihat kembali ke masa lalu sebagai bentuk perenungan juga penghargaan pada apa yang harusnya kita rindukan. Dunia modern seringkali harus kita pertanyakan kembali.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply