MENGHILANGKAN KENAIFAN BERAGAMA

Sebagian dari kita mungkin tak merasakan krisis kemanusiaan secara global. Mungkin karena secara global adalah sesuatu yang secara universal yang sangat sulit untuk dijelaskan. Itu disebabkan adanya keterkaitannya dengan hal yang partikular atau pun yang spesifik. Secara kasat mata, kita tak bisa membentangkan mata ini dengan luas. Namun, itu merupakan sesuatu yang bersifat naif sekaligus hal yang wajar sebagai manusia.

Di sisi lain, agama yang mengajarkan kita makna hidup di dunia menjadi sangat berarti dari pada ilmu apa pun yang ada di dunia ini. Namun, mengapa kita bertengkar atas nama agama bukan berarti agama kehilangan esensinya. Yang menarik justru agama memiliki dimensi lain yang kita abaikan semenjak era sekularisme. Dan itu menandakan sifat kenaifan kita dalam beragama.

Era sekularisme adalah era di mana agama dan negara berpisah secara hukum. Di jaman Paus Gregorius ke-7 terkenal dengan konfliknya dengan raja Hendrik pada saat itu. Tujuan Paus Gregorius sangatlah baik karena dapat dinilai ingin membersihkan kepentingan politis para kaum yang pro raja dalam menjalankan misinya. Konfliknya terbentuk berbagai macam tragedi. Dimulai dari pengasingan raja, sampai pada taraf sebaliknya, yang di mana Paus Gregorius harus diasingkan.

Ketegangan ini tentunya kita rasakan akhir-akhir ini. Agama dipakai sebagai alat politik oleh kaum tertentu. Bahkan sampai seorang mantan salah satu ormas besar Islam di Indonesia sempat menyatakan dengan tegasnya jika agama digunakan sebagai politik, justru kita menggunakan Tuhan sebagai alat. Itu pun terjadi pada saat isu sang penista agama.

Agama yang dialami pada era gejala sekularisme di atas tentulah berbeda dengan saat yang dirasakan pada aksi damai 212 yang kemarin itu. Kristen dan Islam, keduanya agama yang berbeda, tapi toh kita harus menyadari bahwa ada sesuatu yang menjadi kenaifan kita. Itu tak lain dimensi yang dimiliki agama. Ada yang mengatakan agama sebagai dimensi yang sangat sensitif, atau subjektif, di mana kita memang tak baik membahas agama secara besar-besaran. Apalagi menyatakan bahwa agama yang kita pegang itu paling benar di antara agama yang lainnya. Sedangkan dimensi objektifnya adalah di mana kita menggunakan segala macam daya untuk menjelaskan bahwa agama kitalah yang paling benar, baik melalui pembuktian kitab-kitab maupun secara logis dan tidak logis (atau spiritual).

Namun, secara objektif agama tak dapat dipaksakan karena pada akhirnya kita akan berujung kepada dimensi spiritual. Dimensi spiritual sendiri bukanlah dimensi subjektif melulu melainkan sebuah dimensi di mana kita berdialog sendiri dengan Tuhan. Di sinilah sesuatu yang sangat sulit dijelaskan di dalam agama.

Pengaruh era pencerahan juga membuat sekularisme menjadi lebih subur. Agama dinilai sebagai sesuatu yang takhayul, dan patut dijauhi. Sedangkan apa yang rasional dan masuk akal diikuti. Jadi seperti praktik aborsi dan lain-lainnya diperbolehkan di negara-negara barat. Namun, di sisi lain ada juga negara yang menganut sekularisme yang membiayai pembangunan rumah-rumah ibadah, seperti masjid dan gereja.

Namun, dimensi yang manakah membuat kita naif dalam beragama?

Sekularisme memang tak bisa dihindari. Agama Kristen sebagaimana dijelaskan di atas sangat mendukung sekularisme dengan alasan yang sangat bijaksana yaitu membersihkan kepentingan lain selain alasan agama. Jadi secara garis besar sekularisme agama adalah pemisahan yang politis dan yang agama di dalam agama. Itulah sekularisme agama.

Di dalam agama Islam, kita akan menemui berbagai macam pendapat pedas dan kritis. Ada yang mengatakan bahwa agama Islam tak lepas dengan alasan politis, ada juga yang mengatakan sebaliknya.

Salah satu yang sepakat bahwa agama Islam tidak lepas dari kepentingan politik adalah Bernard Lewis. Bernard Lewis merupakan seorang sejarawan yang berfokus pada orientalisme yang berkebangsaan Amerika. Sejarawan itu menjelaskan bahwa tidak ada pemisahan antara agama dan politik di Islam. Keduanya sealur dan tak dapat dipisahkan.

Namun, pendapat ini justru mengurai banyak kritikan dari banyak pemikir Islam, seperti Muhammad Ayyub. Sebenarnya proses sekularisme di dalam Islam dimulai ketika Nabi Muhammad SAW meninggal. Di era Nabi Muhammad SAW, agama Islam merupakan sesuatu yang ideologis yang bertujuan untuk menyatukan semua orang. Karena pada saat itu, terjadi berbagai macam kelompok dengan kepentingan-kepentingan tersendiri yang memecahkan umat.

Setelah kematian Beliau, agama Islam tidak lepas dengan berbagai macam kepentingan politis. Salah satu buktinya terjadi perpecahan, Sunni dan Syiah. Kedua kelompok ini memiliki kepentingan yang berbeda. Sedangkan di dalam agama Kristen juga merasakan hal yang sama, Protestan dan Katolik.

Ketika agama Islam kehilangan daya politisnya, agama Islam pun tak lepas menjadi sasaran politik. Misalnya apa yang terjadi di liga arab (atau Arab spring). Liga arab ini merupakan kumpulan negara-negara timur Islam, tapi ada yang mengatakan bahwa sebenarnya yang terjadi adalah ada sebuah doktrin diciptakan oleh negara lain sehingga arab yang menjadi pemotornya padahal pada kenyataannya hanyalah boneka, seperti ideologi persaudaraan muslim (Ikhwanul muslimin) dan masih banyak lagi.

Namun, yang membuat kita kecewa akan hal ini adalah tindakan Arab. Memang tak bisa dipungkiri arablah yang menjadi pemotor Arab Spring, tapi di sisi lain mereka seperti terlihat menyombongkan diri dengan kekayaan yang dimilikinya, yaitu minyak. Sedangkan negara-negara lain misalnya Pakistan, Suriah, dan Afghanistan, menjadi korban ideologisnya. Akibatnya semangat agama mereka memang tinggi, namun dari segi ekonomi sangat tak mendukung.

Di sisi lain, komunisme sibuk menghancurkan kaum kapitalis borjuis. Dan dengan senang hatinya mengatakan bahwa agama sebagai opium. Memang tak dipungkiri, agama yang tak memiliki daya politis itu justru mudah dimasuki kepentingan-kepentingan politik. Di sinilah kesalahan terbesar komunisme dan Islam, mereka berpisah. Padahal pada kenyataannya, mereka memiliki kesamaan yaitu tentang keadilan dan kesejahteraan.

Krisis kemanusiaan pun tiada akhirnya padahal agama sendiri mengajarkan kita bagaimana kita memaknai kehidupan ini. Di sinilah kenaifan terbesar kita beragama, yaitu dengan menyatakan bahwa agama bukanlah politik. Sehingga kita mudah dirasuki berbagai kepentingan-kepentingan politik. Ideologi agama meningkat namun dari segi ekonomi, kita mengabaikan rakyat-rakyat yang tertindas.

Jika seseorang mengatakan agama bukan kepentingan politis, itu justru menandakan kenaifan kita. Namun, itu tidak selamanya terjadi ketika kita memahami apa itu sekularisme, dan mengapa itu ada. Kita harus memahami proses-proses sekularisasi agama, pemisahan antara yang politis dan agama, agar kita dapat dengan cepat membedakannya, dan dapat membersihkan alasan-alasan politis yang ada di agama. Kenaifan yang seperti inilah yang patut kita hilangkan. Jika agama adalah sesuatu yang berbau politis, maka jangan lupakan kalau agama mengajarkan kita kebaikan bukan kejahatan.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply