Menyelami Kedalaman Makna Sang Pencipta

Seperti tentang matahari dan bulan yang beredar menurut perhitunganNya, tentang dua lautan yang mengalir, yang satu asin dan yang satu tawar, lalu keduanya bertemu. Dan di antara keduanya itu ada batas sehingga tidak bercampur. Dan di antara keduanya keluar mutiara dan marjan. Semua ayat Alquran ini telah terbukti kebenaranNya secara ilmiah.

Pada ayat Alquran, banyak tersirat nikmat Allah SWT kepada manusia. Sangat berlimpah, bak air hujan yang tercurah dari langit. Allah mengingatkan hambanya bahwa tidak akan membiarkan makhlukNya menderita di dunia. Dan di antara kasih sayangNya adalah diturunkannya Alquran, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surah Ar-Rahman ayat 2 yang artinya: “Dialah yang mengajarkan Alquran.”

Alquran diturunkan pertama kali pada paruh kedua bulan Ramadhan, 14 abad yang lalu, melalui manusia pilihanNya, Muhammad SAW, di Gua Hira. Setelah Rasulullah SAW berkhalwat sekian lama, di usia Nabi yang ke-40, Allah SWT, melalui malaikat Jibril, menurunkan wahyu pertama, yang kemudian menjadi bagian dari surah Al-‘Alaq.

Waktu diturunkannya pun merupakan waktu yang mulia, yang juga merupakan bagian kasih sayangNya kepada manusia. Ini dapat kita ketahui dari Alquran, di dalam surah Al-Qadr, “Sesungguhnya kami menurunkannya pada Lailatul Qadr,” yaitu malam seribu bulan.

Sejak itu, selama 22 tahun 2 bulan 22 hari (23 tahun), Alquran diturunkan secara berangsur-angsur, 13 tahun ketika Nabi Muhammad SAW di Makkah dan 10 tahun lagi ketika beliau di Madinah. Alquran pun sempurna. Isinya mencakup semua bidang kehidupan. Bahasanya sangat tinggi, tidak ada sastrawan mana pun, baik dulu, sekarang, maupun yang akan datang, mampu menandinginya.

Meski sangat gamblang, Alquran diturunkan dalam formula bahasa yang sangat global, sehingga dibutuhkan beberapa penjelasan yang lebih terperinci. Terlebih dalam Alquran juga terdapat ayat-ayat mutasyabihat, yang memuat makna-makna tersirat yang tidak mudah dipahami. Penjelasan-penjelasan atas uraian ayat-ayat Alquran tersebut kemudian dinamakan tafsir, yang kemudian berkembang menjadi salah satu cabang ilmu keislaman.

Perbedaan latar belakang pendidikan seorang mufassir, mempunyai peran yang sangat dominan terhadap penafsiran seorang ahli tafsir. Akibatnya, seiring munculnya suatu tafsir, maka akan muncul pula corak yang menjadi ciri khas tafsir tersebut. Corak tafsir juga mengungkapkan latar belakang aliran, keahlian, bahkan motif dari ahli tafsir dalam menafsirkan Alquran.

Berdasarkan latar belakang ilmu pengetahuan mufassir, maka setiap penafsiran akan melahirkan berbagai corak, seperti latar belakang aliran, mazab fiqih, kecenderungan sufisme. Kecenderungan dalam diri seorang mufassir untuk memahami Alquran sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni sehingga meskipun objek kajiannya sama yaitu teks Alquran, namun hasil penafsirannya akan berbeda satu sama lain.

Tafsir diambil dari riwayah dan dirayah, yakni ilmu lughah, nahwu, tashrif, ilmu balaghah, ilmu ushul fiqh dan dari ilmu asbab an-nuzul, serta nasikh wa al-mansukh.

Tujuan atau ghayah mempelajari tafsir adalah memahamkan makna-makna Alquran, hukum-hukumnya, hikmah-hikmahnya, akhlak-akhlaknya, dan petunjuk-petunjuk yang lain untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka dengan nyatalah bahwa faedah yang kita peroleh dari mempelajari tafsir ialah terpelihara dari salah memahami Alquran.

Seseorang yang hendak menafsirkan Alquran, hendaklah ia mencari tafsir ayat tersebut didalam Alquran sendiri terlebih dahulu. Karena kerap kali ayat-ayat Alquran itu bersifat ringkas di suatu ayat, sedangkan penjelasannya di ayat lain. Lantaran yang lebih mengetahui kehendak Allah SWT dengan ayat-ayatnya adalah Allah SWT sendiri.

Jika tidak ada ayat yang dapat dijadikan tafsir bagi ayat itu, maka periksalah as-sunnah atau al-hadis. Mudah-mudahan kita mendapatkan tafsir ayat yang kita maksudkan dalam kitab-kitab As-sunnah itu. Setelah itu, hendaknya para mufassir memeriksa penerangan sahabat, karena mereka lebih mengetahui maksud-maksud ayat, lantaran mereka mendengar sendiri dari Rasulullah SAW dan mempersaksikan sebab-sebab nuzul-nya ayat, suasana yang mengelilingi turun ayat.

Akan tetapi, apabila para ulama ber’ijma’, maka tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Namun apabila mereka berbeda pendapat, tentu sebagian pendapat mereka tidak bisa dijadikan hujjah atau bukti untuk menolak pendapat orang lain. Dalam hal ini kita harus kembali ke Alquran dan sunnah atau pendapat para sahabat.

Ibnu Taimiyah tidak membenarkan jika ada yang menafsirkan Alquran dengan ijtihad seperti yang dilakukan Az-Zamakhsyari. Bantahan Ibnu Taimiyah ini dapat kita terima jika mengenai ayat itu ada hadis atau tafsir sahabat. Jika tidak ada, maka diperbolehkan orang menafsirkan Alquran dengan kekuatan ijtihad. Jika tidak membolehkan orang menggunakan ijtihad, di saat tidak ada hadis atau atsar sahabat, berarti menutup pintu untuk orang yang ingin memahamkan Alquran.

Tentang kebolehan menafsirkan Alquran dengan kekuatan ijtihad telah dibenarkan oleh beberapa ulama besar, di antaranya Al-Ghazali. Akan tetapi, dengan syarat jangan terlalu mencari-cari penafsiran supaya sesuai dengan mazhab yang dianut oleh penafsir, baik mengenai pokok ataupun cabang.

Apabila seseorang hendak memahamkan Alquran, maka hendaklah mengambil tafsir yang terpandang, kemudian memperhatikan penafsiran yang diberikan oleh beberapa tafsir lain untuk mengetahui pen-tahqiq-kan yang telah dilakukan ulama terhadap tafsir ayat yang dimaksudkan.

Sungguh buruk sekali jika kita dalam memahami suatu ayat Alquran, berpegang teguh pada satu tafsir saja, karena dengan demikian mungkin kita memegangi apa yang telah dibantah dengan alasan yang kaut oleh orang lain. Dan jika hendak menerjemahkan suatu ayat, maka hendaklah kita memperhatikan tafsir lafadz ayat yang kita maksudkan agar terjemahan kita tepat seperti yang dimaksud.

Sering kali orang menerjemahkan ayat berpegang kepada bahasa Arab yang telah ada dengan tidak memperhatikan makna-makna yang dimaksudkan dari kalimat-kalimat yang hendak diterjemahkan. Lantaran inilah sering kita menemukan terjemahan yang keliru.

Sebelum menafsirkan sebuah ayat, hendaklah memperhatikan tafsir-tafsir yang berdasar riwayah dan tafsir-tafsir yang berdasarkan dirayah. Jika pengajar seorang muhaqqiq, hendaklah ia menerangkan jalan pen-tahqiq-kannya.

Di tanah air kita ini, pada umumnya para pelajar mempelajari tafsir seorang mufassir, bukan mempelajari pen-tahqiq-kan-pen-tahqiq-kan dari tafsir-tafsir yang telah dikemukakan oleh para muhaqiqin.

Sumsbe : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply