Mere-visi Teologi Bencana  Bencana dan dosa

Indonesia tengah dirundung bencana bertubi-tubi, dari  Gempa di Lombok Nusa Tenggara Barat yang terjadi pada bulan juli 2018 lalu. Gempa dan likuifasi di Palu Sulawesi Tengah pada bulan September, disusul sunami di Banten dan Lampung di penghujung tahun 2018 ini. Tidak terhitung korban jiwa dan materi yang diakibatkan oleh rentetan bencana ini. Duka korban darikehilangan anggota keluarga, kehilangan rumah, tempat tinggal, tempat bermain, sekolah tempat belajar, mushola tempat mengaji dan luka kehilangan-kehilangan lainnya yang tidak mudah di redam untuk jangka waktu yang lama.

Dalam keadaan penuh duka nestapa, tidak sedikit saudara sesama anak negeri turun tangan ikut berempati membantu meringankan duka dan beban mereka. Dari berbagai sekolah, perguruan tinggi, ormas, perorangan, pejabat, partai, dan tentu juga pemerintah turun tangan dan kesemuanya ada dalam kapasitas dan bentuk kepeduliannya masing-masing.

Tetapi tidak sedikit bertebaran isu, meme, tulisan dan pikiran-pikiran yang kontra produktif bahkan profokatif bertebaran di tengah duka tersebut. Lebih memprihatinkan lagi, setiap kali ada bencana terjadi justru selalu dikaitkan dengan nalar yang naïf. Bagaimana tidak naïf? Gempa di Lombok misalnya dihubungkan dengan adanya pemihakan gubernur TGB dengan salah satu paslon pilpres, gempa Palu dan Sulawesi juga dikaitkan dengan dosa politik rezim. Lebih up date lagi adalah terjadinya  bencana sunami Selat Sunda di banten dan Lampung di hubungkan dengan penangkapan Habib Bahar Smith.

Tidak tertinggal mimbar-mimbar khotbah jum’at ikut bersuara lantang, dengan menampilkan data komparatif bencana pada beberapa rezim pemerintahan sebelum rezim berkuasa saat ini, seolah semakin menjadi dasar teologi kebencanaan yang menimpa bangsa ini. Racikan isu bencana dan agama menjadi bumbu “ngeri-ngeri sedap” di tengah gerahnya suhu politik menjelang pilpres.

Sayangnya, dagangan isu “begitu-an”, masih laku hangat di sebagian besar kalangan masyarakat, yang satu sisi baru mulai melek teknologi dengan menggenggam internet di tangan, tetapi sisi lain minus wacana kritis yang diakibatkan sempitnya horizon pemikiran sebagai sisa hegemoni ala orde baru.

Bencana dan Tantangan Tugas Ke-Khalifah-an Manusia 

Indonesia menjadi negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia berdasar data yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR).Tingginya posisi Indonesia ini dihitung dari jumlah manusia yang terancam risiko kehilangan nyawa bila bencana alam terjadi. Indonesia, menurut Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam sebuah wawancara dengan BBC Indonesia pada tanggal 11 gustus 2018, menduduki peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi.

Baca Juga: Bencana Alam Mewakili Lingkungan

Sutopo menambahkan Indonesia juga menduduki peringkat tiga untuk ancaman gempa serta enam untuk banjir. Dengan posisi geografis yang terletak di ujung pergerakan tiga lempeng dunia: Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik, Indonesia memang tidak banyak bisa mengelak, dari situasi kebencanaan.

Bencana di negeri tercinta ini dengan demikian dapat dimengerti sebagai bagian dari konsekuensi geografis kita, yang pada sisi lain memiliki nilai geo-ekonomi yang juga tinggi. Pada Negara-negara maju seperti Jepang, potensi bencana terus dapat diminimalisir dampaknya dengan semakin mengerahkan daya upaya di bidang teknologi. Pendekatan sains dan teknologi, membawa bencana di Jepang pada penemuan-penemuan ilmiah yang bermanfaat bagi manusia bukan hanya di negaranya tetapi juga di seluruh dunia.

Bencana adalah sunatulloh, yang harus dihadapi dan dicarikan jalan bagaimana menghadapi dan mengantisipasinya. Iqbal, tokoh modernis islam mengatakan bahwa sumber kemunduran islam adalah kebekuan berfikir dalam islam, sehingga perlu dinamisasi berfikir. Rasionalitas atau mengerahkan daya pikir untuk melaksanakan tugas kemanusiaan manusia adalah pilihan yang tidak bisa ditinggalkan agar manusia terbebas dari problematika kehidupan dan sebaliknya agar manusia menjadi pemakmur bumi dengan membawa misi rahmatan lil ‘alamiin.

Dalam puisinya Iqbal berujar : “Kau ciptakan malam, dan aku meneranginya dengan lampu-lampu yang kubuat sendiri. Kau ciptakan bumi, dan aku membuat tembikar indah darinya. Kau ciptakan gunung-gunung, hutan-hutan dan belantara, dan aku membuat taman-taman, kebun-kebun dan padang rumput. Akulah yang membuat cermin dari batu.

Akulah yang membuat racun dalam obat.”

Tuhan menciptakan malam, maka manusia dengan akalnya menciptakan lampu. Tuhan menciptakan bencana, maka manusia dengan akalnya menciptakan teknologi untuk menanggulanginya. Begitulah cara manusia memenuhi tugas kehambaannya, sebagaimana tertuang dalam al-Qur’an bahwa manusia dihadirkan ke bumi adalah untuk menjadi pemimpin (2:30), dan manusia adalah pilihan Tuhan (20:122).

Sebagai pemimpin, manusia dituntut untuk menjelmakan sifat yang melekat pada Tuhan sebagaimana yang tercermin dalam Asmaul Husna, yakni al-Khalik (mencipta). Manusia harus mencipta, karena ia bertugas untuk  mengelola bumi dan segala isinya dengan kekuatan akal yang dimilikinya. Diantaranya adalah mencipta teknologi menghadapi sunatulloh yang ada pada alam seperti bencana.

Nalar “Naif”, Ironi Bangsa di Era Post Thruth 

Adalah menjadi keprihatinan tersendiri, bangsa ini masih menempatkan bencana sebatas sebagai hukuman, punishment dan bahkan mengaitkannya dengan mitos ketokohan seseorang. Nalar naïf ini sungguh menyedihkan dan menggelikan. Bagaimana tidak menjadi geli, jika geliat anak Krakatau di Selat Sunda yang menimbulkan sunami di Banten dan Lampung, itu konon diakibatkan kemarahan laut karena seorang bernama habib Bahar Smith di “dzalimi” (dalam sudut pandang mereka). Wow, sebegitu kuatnya seorang habib Bahar Smith, bisa mengalirkan ilmu kanuraga-nya sehingga laut memuntahkan gelombangnya secara membabi buta?.

Sayangnya, nalar ini digiring dengan sistemik dalam kanal group jejaring di media sosial sehingga membentuk kebenaran tersendiri. Beginilah kebenaran di era post thruth, kebenaran menjadi komoditas yang dibentuk dan diperdagangkan. Kamus Oxford menyatakan, post-truth didefinisikan sebagai berkaitan dengan atau merujuk kepada keadaan di mana fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi.

Pada sisi inilah, kanalisasi wacana dan pemikiran yang digiring di media social seolah menjadi kebenaran tunggal dan jamak, berkelindan dengan ke-emosi-an atau sentiment kelompok, baik agama suku ras maupun ormas dan juga parpol, mengabaikan fakta-fakta objektif.

era post-truth kini semakin penuh aroma narsistik yang mengerikan. Dimana media sosial saat ini dapat dipakai untuk mengirim pesan yang lebih menonjolkan opini ketimbang fakta, dan setiap orang bisa mempublikasikan opininya sendiri, maka fakta apapun akan tenggelam oleh kerasnya suara pengirim pesan. Setiap orang dapat menerbitkan opininya, setiap orang menawarkan tafsirnya sendiri terhadap fakta, dan (yang paling repot) setiap orang mengklaim bahwa tafsirnya yang paling benar. Opini inilah yang diangkat sebagai ‘kebenaran’, bukan faktanya.

Keterpurukan nalar bangsa ini, yang baru bangun dari tidur panjang masa orde baru, dimana kebebasan berfikir di kebiri, arus informasi di monopoli dan kebebasan berekspresi di batasi menyisakan mental bangsa yang masih berfikir naïf dan pasif. Tingkat pendidikan yang rendah, lemahnya arus informasi yang di dapat selama ini dengan monopoli tafsir bernegara, berbangsa dan bermasyarakat juga membentuk cara berfikir yang abai dengan politik sehingga mudah digiring oleh opini-opini yang atraktif yang semu.

Menyedihkan memang, dan dibutuhkan terus penyadaran berpolitik jangka panjang. Dengan terus meningkatkan taraf pendidikan seluruh warga Negara serta meningkatkan kualitas pendidikan, diharapkan bangsa ini tidak mudah digiring pada isu murahan yang melenakan. Sebaliknya, sudah saatnya bangsa yang besar ini, menjadikan potensi ancaman pada dirinya sebagai kekuatan. Tentu dengan mengerahkan kemampuan akal pikiran dan memberikan porsi yang besar pada rasio, sehingga bangsa ini tidak terus berkutat dengan mitos dan kharisma. Sebaliknya bertindak atas pilihan-pilihah yang rasional dan kompetitif.

Me-re-visi Theologi Bencana

Bencana harus dipandang sebagai sunatullah, yang dalam al-Qur’an surat al-hadid ayat 22 disebutkan bahwa :”tidak ada musibah yang menimpa kalian di bumi atau menimpa diri kalian kecuali atasnya sudah tertulis di kitab lauh mahfudz sebelum kami (tuhan) menciptakannya”. Dengan demikian kita yakini bahwa musibah adalah takdir Allah swt.

Takdir atau ketetapan Allah ini dapat dimaknai sebagai batasan-batasan yang pasti akan terjadi dalam ukuran-ukurannya. Dalam hal ini dapat dimaknai, bencana sunami adalah takdir atau ketetapan yang akan terjadi pada tingkat tertentu jika terjadi gempa di kedalaman laut dengan skala tertentu. Ketetapan itu, dengan menggunakan alat pe-candra akal yang telah diberikan Allah pada manusia, maka manusia dapat mengukur takqdir (ukuran)-Nya.

Memandang suatu kejadian dengan cara demikian akan mendorong akal untuk terus berfikir dan memecahkan ukuran-ukuran dan batasan dari sebuah bencana sehingga manusia dapat mengantisipasi atau menghadapinya dengan kesiapan yang lebih baik, sehingga mengurangi resiko korban jiwa dan korban material.

Musibah tidak melulu dipandang sebagai hukuman Allah kepada masyarakat di daerah bencana. Pandangan ini tidak adil dari sisi korban dan tidak indah dalam hal mendekati tuhan sebagai sang pencipta bencana. Dari sisi korban, victimologi, masyarakat yang sedang berduka semakin berduka karena dipojokkan oleh berita yang menyudutkan mereka sebagai biang bencana.

Dari sisi theologi, cara pandang theologi yang menempatkan tuhan sebagai sosok pemarah, penghukum terasa sangat dangkal. Pengenalan kita pada tuhan masih sebagaimana siswa tingkat sekolah dasar (SD) yang rajin bersekolah dan melaksanakan tugas sekolah dengan baik karena takut kepada gurunya. Guru di alam pikiran siswa sekolah dasar adalah menakutkan, pemarah dan suka menghukum. Demikiankah tingkat pemahaman bangsa ini pada tuhannya yang di akui sebagai poin tertinggi dalam sila pertama pancasila, dasar negara ini.

Islam memiliki jejak cara mengenal tuhan dengan cara yang indah melalui jalan cinta, sebagaimana diajarkan Rabi’ah adawiyah ataupun Jalaludin ar-Rumi. Tuhan adalah maha rahmah, bahkan rahmah tuhan jauh lebih luas dari maha marah-Nya. Musibah pun, dapat dilihat dari sudut pandang ini. Sebagaimana dalam al-qur’an surat al-Anbiya disebutkan bahwa musibah hanyalah cara tuhan, untuk melihat siapa diantara hambanya yang bersyukur atau yang kufur, siapa yang sabar atau yang berputus asa. Maka indah kiranya, jika bencana di negeri ini menjadi cara cinta kita pada alam, dengan mengeksplorasi akal pikiran untuk memenuhi tugas kepemimpinan yang telah diamanatkan tuhan pada manusia. Pada saatnya bencana akan menjadi berkah bagi alam.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply