METAMORFOSIS KEABADIAN

Terbuka terhadap segala perspektif yang kacau itu sebenarnya adalah iman yang sesungguhnya, Karena ada semacam beban etika bagi tuhan untuk menjelaskan sesuatu kepada malaikat bahwa ada begitu banyak misteri yang belum terpecahkan dalam alam semesta ini dan jika dijelaskan dengan bahasa tuhan sendiri maka tak kan mampu alam serta malaikat untuk memaknainya.

Jika kita perhatikan secara dalam bahwa kebesaran Tuhan yang paling besar adalah Kata, karena ada sabda yang berbunyi “Pada mulanya adalah Kata dan Kata bersama Allah, dan Kata adalah Allah”, maka diciptakan tuhanlah manusia sebagai pesan daripada makna yang kacau.

Kepada manusialah ditiupkan roh rasa ingin tahu tersebut, sehingga manusia ditugaskan mencari dan memecahkan kebekuan dari kedunguan atas kebingungan perihal Ada tersebut dengan menggunakan rasionalitas dan akalnya.

Dalam pencarian akan hakikat tersebut manusia tak akan dapat menemukan seutuhnya di kitab-kitab, karena kitab-kitab sudah diberi label akan kesucian sehingga bagaimanapun untuk mencapai sensasi ketuhanan agama harus dipisah sementara waktu dari pencarian akan filsafat tersebut, dan manusia hanya dapat menemukannya dari bacaan-bacaan yang sulit dicerna dari penulis yang tak pernah ia pahami maksud dan tujuannya.

Kita butuh satu gebrakan pemikiran kritis baru yang menyadarkan pemahaman kita akan keyakinan dan kepercayaan, bahwa orgasme intelektual itu akan terangsang apabila manusia mampu berdikari diluar keyakinannya terhadap agama tanpa mencaci maki agama maupun dan tanpa melecehkan orang yang tak beragama.

Karena berbeda pemahamannya orang yang beragama dengan orang yang bertuhan, ada orang yang bertuhan tanpa agama dan ada orang yang menuhankan agamanya. Ini memang agak rumit sedikit namun sudah tanggung jawab kita memikirkannya bahwa hidup bukan sekedar joget sana-sini. Jika kita sudah berdiri di suatu universitas dan akademisi maka keyakinan kepercayaan itu dialihkan sejenak dan yang diutamakan adalah akal.

Di universitas tidak dipertanyakan apa agama anda melainkan apa buku terakhir yang tengah kau baca, bagaimana revolusi itu, karena inspirasi pada ujungnya yang ditanyakan adalah apa buku rekomendasi untuk bulan ini. Dan ini tidak didiskusikan di dunia publik maupun dunia Maya, dan yang dihebohkan hanyalah kontroversi tentang apa yang terjadi belakangan ini, apa yang sedang viral dan siapa masuk trending topik sehingga konsumsi publik kita membengkak pada penciptaan karya yang cepat saji bukan yang menjiwai dan mendalami.

Takkan ada karya yang baik tanpa bacaan yang berat, dan ini telah diaminkan oleh banyak para seniman, penulis dan kreator lainnya. Kita bisa saja santai-santai megang gawai nunggu inspirasi kapan mut ada, tetapi kita tak bisa berkarya tanpa proses pematangan dari pikiran yang artinya inspirasi tak jauh dari bacaan yang berat, jika bacaan kita ringan maka karya kita ringan juga Di mata pengamat.

Saya sangat terinspirasi dengan perubahan, bahkan perubahan itu menunjukkan suatu kemajuan bahwa hidup harus terus berjalan, di dalam suatu pengalaman, manusia memiliki kisah awal dan akhir yang dimana selalu terdapat cerita suka dan duka, bahkan menumbuhkan keyakinan dan semangat hidup.

Kita hidup disini bukan mencari ketakutan dengan mengukur sudah berapa periode dunia ini telah kita jalani atau berapa kecil harapan yang kita punya di tahun mendatang, karena jika pemikiran itu terus tertanam di dalam diri maka yang kita dapat adalah rasa sakit, dan itu akan menjadi penyakit yang menjalar ke seluruh ingatan, yang tanpa sadar membunuh diri sendiri dengan menanamkan rasa keputus-asaan.

Jika kita perhatikan, Kupu-kupu terbang menggunakan sayap, manusia terbang dengan menebar gagasan. Karya itu akan menjadi abadi, dan tulisan lah yang mengantarkannya. Dari telor, ulat, kepompong, hingga menjadi kupu-kupu yang terbang, suatu metamorfosis yang menunjukkan bahwa kehidupan memiliki fase yang terus menerus berlanjut tanpa henti.

Maka akan timbul satu pertanyaan filosofis yang sedikit mengganggu pikiran kita “Apakah Tuhan Bermetamorfosis”? Seakan ia membagi-bagi dirinya dengan menciptakan beragam makhluk hidup, lalu dari makhluk hidup itu beragam kisah dan cerita sering terjadi. Memperbanyak pikiran itu penting karena banyak diantara kita lebih besar ambisi namun jarang refleksi

Tuhan telah mempercayakan kepada manusia untuk kreatif dalam menjalani kehidupan tanpa harus terbebani akan perihal dosa, karena bagi Immanuel Kant, semenjak manusia lahir dimuka bumi dalam keadaan bayi semua dosa manusia sudah diampuni. Tentunya ada kontradiksi dari tanggapan tersebut melihat semakin berkuasanya peran agama dibandingkan peran intelektual.

Ketajamanan analisis manusia itu bisa tumpul atau tak bisa diasah kembali karena banyaknya tekanan dari agama yang mengatasnamakan kafir kepada tokoh intelektual, misalnya ingin membuat sesuatu takut dosa, jika jarang beribadah bisa tak dapat pahala, sementara dalam kehidupan yang terus maju ini membaca adalah salah satu ibadah intelektual yang harus sering dijalankan seluruh umat manusia.

“Metamorfosis Keabadian” yang menunjukkan bahwa semangat berkarya itu tetap utuh membara tanpa terbebani masa. Lihatlah mata para tokoh bangsa, Berawal dari mata, sebuah tatapan tajam dari seseorang itu menunjukkan bahwa ia memiliki energi yang besar.

Daya intelijensi seseorang akan disegani dari cara ia memandang, belum berbicara tapi dari tatapan itu membuat seseorang bisa disegani, mata seorang pemikir ialah mata yang penuh pemborantakan motivasi, anti galau namun mengerti bagaimana membantu merek yang membutuhkan, aka kalau ingin tatapan kita tajam perbanyaklah membaca buku, karena dengan membaca alis mata dan sorot saraf mata kita dilatih untuk jeli dalam melihat persoalan sehingga mudah dalam membanding yang mana kekeliruan dan mana keseriusan.

Usia boleh berumur namun tatapan harus tetap tajam, sehingga tidak menunjukkan adanya penuaan, bahkan orang tidak menyangka dan melihat seseorang penuh energi dari tatapan matanya, mata yang ia asah dengan membaca bacaan berat adalah yang mengalahkan ketajaman burung elang, disinilah yang menunjukkan keabadian pemikiran tersebut.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply