Muhammad: Akhlak dan Keadilan

Lahir di tahun dimana ketidakadilan dan penindasan begitu massif, pada masa yang dikenal dengan tahun Gajah. Suatu situasi sosial dimana perang berkecamuk. Sejak kecil Ia telah ditempa oleh banyak kehidupan yang mengundang kesedihan. Lahir dari kalangan rakyat kecil, hingga menjadi yatim piatu, di tengah situasi sosial feodal yang begitu timpang.

Perlahan ia menyerap situasi yang ada. Menepi di Gua Hira hingga menemukan petunjuk. Setelah sampai pada puncak pencapaian, Ia lalu turun dengan membawa dua hal yang tergenggam rapat di tangannya: Akhlak dan keadilan.

Akhlak dan keadilan. Dua perkara yang tidak bisa dipisahkan dalam ajarannya. Ia tidak datang untuk sekadar berkhotbah tentang akhlak individual, namun juga berbicara tentang tatanan sosial yang berkeadilan. “Manusia berserikat dalam perkara rumput, tanah, dan air,” katanya. Rumput, tanah, dan air, mewakili faktor-faktor produksi pada saat itu. Suatu pernyataan ‘subversif’ yang sangat bertentangan dengan sturuktur sosial pada saat itu yang hidup dalam suasana feodalisme dan monopoli faktor produksi yang diterima sebagai kelaziman.

Penegasan bahwa ia (Muhammad) membawa misi untuk merubah struktur sosial kapitalistik semipurba saat itu. Ada keterkaitan antara konsepsi akhlak yang dibawa Nabi Muhammad dengan tujuan menciptakan struktur sosial yang egaliter dan berkeadilan. Sesederhana ketika kita mengatakan bahwa keserakahan adalah urusan akhlak yang membawa dampak sosial yang menindas.

Karena itu, perkara ini pulalah yang membuat ajarannya mendapat penentangan begitu massif  oleh para pembesar-pembesar Quraisy saat itu. Tidak sedikit dari mereka menolak ajakan Muhammad bukan lantaran mereka menolak konsep akhlak semata, melainkan karena kepentingan (monopoli kekuasaan) mereka yang terusik oleh ajaran kesetaraan, keadilan, sebagai konsep kemanusiaan utuh yang dibawa oleh Muhammad.

Ini seperti ketika Yesus atau Isa pendahulu sebelumnya tidak hanya berkhotbah tentang moralitas, tapi juga mengkampanyekan penolakan pembayaran upeti (pajak) yang mencekik rakyat kecil, dituduh sebagai tindakan subversif yang membuat dirinya mendapat siksaan dari begawan berkuasa saat itu.

Keberpihakannya pada keadilan terlebih pada kepada orang tertindas, karena itu tidak heran ketika, basis massa para nabi ini pertama-tama ditopang oleh kalangan rakyat kecil, terlebih para budak. Ia bergerak dari bawah ke atas, menciptakan tatanan sosial yang berkeadilan, berjuang untuk menghapus segala bentuk perbudakan yang mewakili sistem sosial yang menindas saat itu (feodalisme).

Ia Muhammad tidak hanya datang membebaskan para budak-budak di pasar-pasar perbudakan, tapi juga merangkul mereka. Bilal contohnya, seorang budak Afrika yang menjadi orang kepercayaan Muhammad yang bahkan dikenal sebagai muazin pertama di kalangan Muslim.

Ini seperti menjadi pengejawantahan dari konsep kesetaraan yang dibawah Muhammad bahwa manusia tidak dilihat dari ras atau sukunya melainkan akhlaknya. Dan ingat, akhlak sesempit yang saya paham dalam ajaran Muhammad bukanlah perkara yang terpisah dari urusan-urusan keadilan.

Kalau saja Muhammad hanya berbicara tentang akhlak sebagai suatu konsep yang terpisah persoalan-persoalan sosial yang terjadi pada saat itu, saya yakin ia tidak akan dipuji oleh banyak pengikutnya saat itu hingga lebih satu milyar penduduk bumi sekarang ini.

Ia adalah sang Pembebas. Ini seperti dengan Musa, sembari ia berbicara tentang 10 perintah Tuhan, ia juga dengan tegas melawan kesewenangan-wenangan Firaun yang menindas rakyatnya.

Tidak sulit untuk memahami bagaimana urusan akhlak itu bersatu dengan perkara keadilan di tangan Muhammad. Bahkan hingga abad ke-19, kita bisa melihat itu misalnya pada sosok seperti Gandhi dari India. Gandhi tidak hanya dikenal sebagai bapu karena akhlaknya, terlebih ia adalah pemimpin sosial-politik yang mendorong penghapusan diskriminasi dan penegakan keadilan bagi rakyat india. Ia adalah pembela para buruh tani yang tercekik. Gandhi bahkan berperan melakukan reditstribusi ulang faktor produksi (tanah) kepada petani-petani kecil yang melarat pada zamannya.

Di hari kelahirannya (Muhammad), ada dua hal yang menurut saya penting untuk kita tegaskan dalam narasi-narasi tentang Muhammad. Yang pertama, penolakan terhadap segala unsur pembida’h-bida’han terhadap perayaan hari kelahiran Muhammad. Dan yang kedua, menjembatani makna kesalehan dalam ranah profetik ideologis, pada upaya mendorong terciptanya struktur sosial yang adil.

Mewarisi apinya Muhammad bukan sekadar abunya, adalah memahami misi kesetaraaan, kemanusiaan, keadilan, sebagai syarat terciptanya perdamaian bagi seluruh umat manusia sebagai ruh ajaran Muhammad, melampaui dari sekadar ritual peribadatan dalam makna individual semata.

Maka karena itu serulah, katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil (QS Asy syura: 15). Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (QS An Nahl: 90). Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat dengan takwa (QS Almaidah: 5).

Allahu masyalli ala Muhammad. 

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply