Musibah Itu Bukti Cinta, Bukan Azab

Baru-baru ini kembali terjadi musibah dengan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat. Ada beragam respons dari masyarakat menyangkut tragedi tersebut, yang paling menyedihkan tentu saja orang yang mengatakan tragedi jatuhnya pesawat Lion Air tersebut sebagai azab politik yang ditimpakan oleh Allah swt. Respons yang sama juga pernah terjadi saat musibah gempa di Lombak NTB dan tsunami di Palu, Sulawesi.

Pertanyaannya adalah benarkah musibah merupakan azab dari Allah swt? Berikut jawaban Imam Izzuddin bin Abdissalam dalam kitab Fawâ’id al-Balwâ wa al-Mihn. Dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan faedah-faedah di balik tragedi musibah.

Pertama, agar manusia mengetahui kekuasaan Allah swt. Dengan diberi musibah, kita akan sadar bahwa kita hanyalah makhluk lemah dan hanya Allah swt yang Maha Kuasa atas segalanya. Ia bisa kapan saja menimpakan musibah kepada kita sehingga hal itu akan membuat kita terus waspada.

Kedua, belajar ikhlas kepada Allah swt. Di mana pun, orang yang terkena musibah akan berusaha dengan keras berdoa dan meminta kepada Allah dengan ikhlas. Tersebab, ia sadar bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat menolongnya kesuali Allah swt.

Ketiga, supaya kembali kepada Allah swt. Betapa banyak orang yang tersesat dan melupakan Allah swt, lalu ia kembali kepada-Nya saat ia terkena musibah. Seperti sudah termaktub di dalam Alquran bahwa ketika seseorang mendapat kenikmatan, ia akan cenderung melupakan Allah swt dan ketika ia terkena musibah, ia akan kembali ingat kepada Allah swt.

Keempat, bersabar atas musibah yang menimpa. Orang yang terkena musibah dan bersabar menghadapinya, maka ia akan memperoleh cinta Allah swt dan pahala yang amat besar. Banyak disebutkan dalam hadis bahwa ketika Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan mengujinya. Dan, Allah swt akan memberikan pahala yang besar terahadap hamba yang bersabar menghadapinya.

Kelima, berbahagia dan bersyukur atas musibah yang menimpa. Bagi orang yang tahu hikmah dan manfaat yang dapat dipetik di balik musibah maka ia akan bahagia dan bersyukur saat musibah menghampiri. Hal tersebut sama halnya dengan orang sakit disuruh minum obat yang pahit. Meski pahit ia tetap senang meminumnya dan menyukurinya tersebab ia dapat sembuh dari sakit yang diderita.

Keenam, sebagai penghapus dosa. Setiap musibah yang menimpa kita dapat menghapus dosa-dosa kecil kita. Oleh karenanya, kita tidak boleh mengeluh dan putus asa saat musibah menimpa tetapi kita mesti bersabar serta mengambil manfaat yang terkandung di dalamnya.

Ketujuh, guna mengetahui kadar kenikmatan yang kita miliki. Lumrahnya, orang akan sadar bahwa betapa bernilainya nikmat yang ia miliki ketika nikmat tersebut telah pergi. Kita tidak akan pernah tahu rasanya kenyang kecuali setelah lapar. Pun, kika tidak akan tahu kadar suatu nikmat kecuali ia telah hilang.

Kedelapan, Allah swt menyiapkan berbagai pahala di akhirat kelak seleras dengan musibah yang menimpa kita. Menurut Imam Izzuddin bin Abdissalam, musibah tidak mengandung pahala karena ia tidak bisa kita peroleh melalui usaha. Oleh karenanya, pahala tersebut kita dapat sebagai kompensasi kesabaran dan kerelaan kita di dalam menyikapi suatu musibah.

Kesembilan, mencegah perbuatan jelek, sombong, dan berbangga diri. Allah swt memberi musibah kepada kita, terkadang agar kita tahu diri dan sadar sehingga kita tidak melakukan perbuata jelek, tidak sombong, dan tidak berbangga diri.

Kesepuluh, agar kita rida sehingga nanti kita akan mendapat rida Allah swt. Sebagaimana kita lihat sendiri, musibah tak pandang bulu, ia bisa menimpa orang yang culas dan juga orang yang baik. Karenanya, orang yang tidak rida terhadap musibah tersebut, ia akan mendapat murka Allah serta kerugian dunia dan akhirat. Sebaliknya, orang yang rida dengan musibah tersebut maka ia akan mendapatkan rida Allah swt.

Nah, sudah jelaskan? Musibah yang menimpa kita bukanlah bentuk azab dari Allah swt melainkan wujud cinta Allah agar kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Lebih dari itu, dunia bukanlah tempat pembalasan melainkan tempat pengujian dan penyeleksian. Camkan itu!

Sumber : qureta. com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply