Nilai-Nilai Sufistik Gus Dur

Tasawuf merupakan sikap moral dan sikap hati dalam mencari  hakikat atau kebenaran yang sejati. Hakikat adalah hal yang tepenting dalam mengarungi kehidupan, tidak akan puas jika suatu amal hanya secara ceremoni atau dilakukan secara lahiriyah saja. Apalagi tasawuf mengajarkan bahwa tidak perlu adanya kekerasan dalam menyikapi sesama ciptaan Tuhan. Apalagi dalam menghadapi perbedaan, sikap toleran sangat baik dilakukan.

Dalam Islam nilai-nilai kemanusian harus dijunjung tinggi oleh umat manusia itu sendiri. Perbedaan keyakinan tidaklah menjadi alasan untuk tidak tetap menjaga persaudaraan. Perbedaan adalah sebuah anugerah untuk dapat dikelola oleh manusia tesebut. Tuhan menciptakan manusia tidaklah sekedar menciptakan, sedangkan dalam sufistik kata menciptakan tidak cocok untuk manusia. Paling cocok adalah menjadiakan, menginovasi, mewujudkan, menyusun dan sebagainya.

Tugas manusia di muka bumi ini, ada dua hal yang harus ditegakkan, yaitu berbuat adil dan tidak mengikuti hawa nafsu. Manusia diberi modal pengetahuan dalam kehidupan ini untuk mengelola semesta dan alam metafisika. Sebagai manusia yang dapat berfikir tentunya manusia harus dapat melakukan perubahan-perubahan untuk dapat mewujudkan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.

Manusia terkhusus umat Muslim diwarisi oleh Nabi Muhammad SAW tiga aspek yang harus dilakukan. Jika aspek itu memiliki kesatuan dan keseimbangan yang tidak dapat dipisahkan. Tiga aspek tersebut adalah Islam, iman dan ihsan. Aspek Islam adalah sebuah penyerahan atau sebuah sikap penyerahan terhadap Tuhan. Maksud aspek di sini bukan dilihat secara formalistik, hakikatlah yang terpenting. Aspek iman adalah kepercayaan yang memberi rasa aman, tenteram dan ketenangan kedalam jiwa. Bukan pengertian iman yang dimaksud oleh para pakar teologis. Aspek ihsan adalah ketajaman rasa dan intuisi dalam menghayati dalam menjalani kehidupan, terutama dalam beragama. Ihsan lebih mementingkan esensi dalam mencapai kepada Tuhan tidak harus terikat dengan aturan agama yang dilembagakan.

Gus Dur merupakan satu simbol perjuangan dan pembaharuan yang harus diteladani. Gerakan tajdidnya dilakukan dalam berbagai bidang, seperti terhadap politik, demokrasi, anti kekerasan, pribumisasi Islam dan pluralisme. Ajaran yang paling menonjolnya ialah konsep tentang humanisme dan pluralismenya. Dengan sikap keterbukaannya atau sikap pemikiran liberalnya, Gus Dur tidak hanya dihormati dan disegani oleh kalangan ummat Islam saja. Non Islam sangat menyayangi seorang Gus Dur, terutama agama minoritas yang sangat dilindungi oleh Gus Dur.

Dalam hidupnya Gus Dur memiliki banyak peran, termasuk sebagai agamawan, budayawan dan politisi. Sebagai agamawan, Gus Dur termasuk salah satu tokoh Cendikiawan Muslim. Banyak ajarannya yang disampaikan dan dilakukannya, Islam harus bangkit dan terbuka. Sebagai budayawan, Gus Dur sangat mencintai budaya-budaya Indonesia. Sebagai politisi, Gus Dur aktif dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk aktif di Nahdhatul Ulama sampai menjadi Ketua Umum, pendiri PKB dan menjadi Presiden RI yang keempat.

Gus Dur memiliki semangat kritis terhadap perkembangan sosial. Pada masa Orde Baru memiliki pembangunan yang teknokratis. Antara birokrasi dan rakyat memiliki kesenjangan dalam ideologi. Dimana masa ini pemerintah membungkam bagi yang mengkritik dan para oposisi. Namun Gus Dur tidak memiliki rasa takut dan gentar menghadapi beberbagai kecaman, termasuk pemerintahan Orde Baru demi terwujudnya negara demokrasi.

Gus Dur memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan luas yang diakibatkan perjalanan dan pengalaman intelektualnya. Ia selalu terbuka dengan berbagai ilmu yang ditemuinya, tidak memandang ilmu itu dari siapa pun. Ia selalu menyempatkan membaca buku ilmu-ilmu dari barat.

Gus Dur dalam pemikiran dan prakteknya mengandung nilai-nilai sufistik, seperti para sufi. Seperti konsep pluralisme, yang banyak dipraktekkan oleh Gus Dur. Karena sudah menjadi anugerah Tuhan bahwa dalam kehidupan ini memiliki banyak perbedaan. Manusia di hadapan Tuhan sama, yang paling mulia adalah menusia yang memiliki tingkat takwa yang paling tinggi. Dan Gus Dur sangat keras untuk menolak kekerasan yang terjadi atas nama hak azasi manusia.

Gus Dur juga mengajarkan tentang kejujuran, ketulusan, berjuang dan menghargai orang lain. Lebih dari itu Gus Dur mempraktekkan bukan sekedar menghargai dan menghormati manusia yang berbuat baik, melainkan menyambutnya dengan hangat. Menentang siapa saja yang selalu menindas dan merendahkan martabat manusia. Selalu membela kemanusiaan dan adanya hak yang sama. Karena manusia diciptakan oleh Tuhan dengan penuh kecintaan, hal yang wajar jika manusia harus mencintai sesama manusia karena Tuhan pun sangat mencintai dan memuliakan manusia. Pemikiran inilah yang dikenal dengan konsep humanisme Islam.

Dalam dunia politik Gus Dur tidak hanya mampu memberi sumbangan pemikiran saja. Beliau terjun langsung dapat merubah paradigma sosial. Di mulai perubahan terhadap tubuh NU sampai menjabat sebagai presiden. Setelah memiliki jabatan yang terpenting Gus Dur tidak lupa diri, beliau tetap kepada pribadinya yang kita kenal sebagai bapak pluralisme. Hal tersebut Gus Dur telah melakukan apa yang dilakukan para sufi. Karena para sufi walaupun dalam keadaan apapun tetap hatinya terkoneksi kepada Allah.

Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Zia Emil Ihsan, bahwa tasawuf mengajarkan untuk tidak cinta dunia. Bukan berarti tidak boleh memiliki dunia dan tidak boleh kaya raya. Boleh menjadi orang yang kaya raya akan tetapi tidak boleh untuk mencintainya denga berlebihan. Tasawuf juga menekankan agar manusia tidak cinta jabatan. Maksudnya bukan tidak boleh menjadi seorang pejabat. Boleh menjadi seorang pejabat tetapi jangan cinta terhadap jabatan tersebut hingga membuat lupa diri.

Akhlak inilah yang diterapkan oleh Gus Dur dalam kehidupan sehari-harinya. Beliau adalah orang yang besar bagi bangsa ini, yang berperan penting dalam perubabahan baik agama maupun negara. Walaupun beliau memiliki gelar dan jabatan akan tetapi tidak terlena dengan gelar dan jabatan tersebut.

Keterkaitan pemikiran dan perilaku Gus Dur yang penuh kontoversi, maka mengundang banyak yang mendukungnya dan  yang membencinya. Sebagaimana yang diambil dari berbagai refrensi dari buku dan jurnal mengenai pemikiran dan prilaku Gus Dur yang penuh kontroversi, maka penulis akan memberikan penilaian terhadap yang pro dan kontra terhadap Gus Dur.

Terhadap yang pro, yang mencintai Gus Dur, tentunya harus lebih giat dalam memahami dan mengamalkan serta mengajarkan kepada sesama manusia tanpa harus perbedaan agama. Karena penulis melihat dari fakta saat ini banyak yang tidak saling menghargai antar sesama sehingga timbul perpecahan. Terhadap yang kontra, ini sangat disayangkan oleh penulis. Mereka yang mencaci dan membenci Gus Dur. Harus dicatat juga bahwa Gus Dur mencoba untuk melakukan hasil pemikiran yang gemilang yang dilakukan dalam prilakunya yang dianggap kontroversi. Menurut penulis bahwa golongan yang kontra ini terlalu asyik dengan hal-hal yang syari’at saja, jadi jika tidak memahami pemikiran yang tak sesuai dengan keilmuannya maka harus dipelajari dan dipahami. Jangan dengan mudahnya menuduh langsung seseorang kafir dengan alasan tak sesuai dengan ajaran Islam dan tidak masuk akal.

Harus diketahui bahwa Gus Dur adalah seorang sufi, karena ia mendepankan nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang diajarkan dalam Tasawuf. Gus Dur adalah orang yang bersahaja, selalu menerima anugerah Tuhan yang diberikan kepadanya. Ia tak pernah gelisah dengan kehilangan kehormatan, kedudukan yang dimilikinya. Gus Dur percaya bahwa Tuhan akan menjamin kehidupannya, jadi tidak segan-segan untuk memperjuangan hak-hak manusia dan menantang terhadap orang-orang yang merendahkan martabat manusia. Walaupun ia tahu banyak yang akan mencintai dan membencinya.

Sebagimana yang sudah dikatakan bahwa Gus Dur memiliki jiwa sufistik. Beliau sering mendapatkan ilham untuk menjadi petunjuk hidupnya. Kejiwaan sufistiknya ada dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu beliau hidup dari latar budaya jawa dan pesantren.

Gus Dur yang penuh sikap kontroversinya karena di kalangan tokoh dan kiai memiliki pandangan yang berbeda dalam memahami tasawuf. Tasawuf Gus Dur dipengaruhi oleh tasawuf modern sedangkan tasawuf para kiai masih tradisional. Banyak pernyataan dan perilaku Gus Dur yang dianggap kontoversi. Seperti ucapan “assalamu’alaikum” diganti dengan “Selamat pagi” atau ‘Selamat sore”. Pembelaannya terhadap si Ratu Ngebor Inul Daratista yang banyak dihujat karena goyanagannya dan pembelaannya terhadap mantan tahanan PKI yang waktu itu sangat diskriminasi dengan mencabut TAP MPRS No. XXV/1966. Ketika mencoba untuk melerai permasalahan kekerasan pada masa Orde Baru. Juga dianggap nyeleneh oleh orang-orang yang mempertahankan kepentingan politiknya dengan mengatasnamakan ideologi Islam.

Pemikiran dan perilaku tersebut merupakan perjuangan yang dilakukan oleh Gus Dur dalam menyamakan hak-hak manusia. Tidak peduli label apapun yang dimiliki oleh manusia di mata Gus Dur semuanaya sama. Sikap toleransi adalah sikap yang sangat ditonjolkan oleh Gus Dur. Gus Dur sangat menghargai keragaman. Menurutnya bahwa keragaman adalah sebuah keniscayaan ciptaan Tuhan dan anugerah.

Akan tetapi masih banyak orang-orang yang belum memahami Gus Dur. Gus Dur dibenci, dicaci maki dan dikafirkan oleh mereka yang memiliki intelektual secara matang. Atau oleh mereka yang yang memiliki pemikiran formalistik, yang hanya yakin mutlak terhadap teks-teks keagamaan yang membuat ia lupa akan substansi.

Para tokoh bijak dalam sejarahnya banyak mengalami dibenci dan dicaci maki oleh orang-orang yang belum paham dengan pemikirannya termasuk para tokoh yang tergantung pada hal-hal formalistik. Al-Hallaj contohnya harus berakhir hidupnya di tiang gantungan. Eksekusi kematiannya karena fatwa ulama yang berkoalisi dan bekerjasama dengan penguasa. Para penguasa membodohi masyarakatnya dengan atas nama kemurnian ajaran agama lalu menyesatkan pemikiran al-Hallaj.

Hal ini terjadi juga pada tokoh-tokoh sufi lainnya yang gencar dalam memperjuangkan kebenaran. Contoh satu lagi Ibnu ‘Arabi yang harus meneriama cemoohan yang mengganggapnya seorang kafir dan sudah gila. Dalam membela kebaikan dan perubahan tentu harus menghadapi berbagai macam rintangan termasuk segala hinaan dari orang-orang sekitar. Ini juga menimpa seorang filsuf, Socrates dan juga Yesus mereka harus rela menanggung luka dan nestapa.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa kita tak perlu untuk takut dalam membela kebenaran. Seperti Gus Dur lakukan, beliau tidak takut dengan hujatan yang diterimanya walaupun hujatan itu datang dari kelompok tersendiri. Gus Dur tetap fokus terhadap tujuannya yaitu menjaga hak-hak manusia yang tertindas.

Kharisma Gus Dur sangat dirasakan oleh semua orang, berbagai golongan dan agama. Orang banyak yang mengatakan bahwa Gus Dur adalah seorang wali, hal tersebut harus disepakati, karena dalam kehidupan sehari-harinya Gus Dur memiliki akhlak seperti para sufi.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply