Kelebihan tersebut adalah sejajar dengan sebab utama Rasulullah SAW diutuskan oleh Allah SWT yang bukan hanya sebagai rasul terakhir, tetapi juga untuk menyempurnakan akhlak dan membawa rahmat kepada seluruh isi alam.

Banyak amalan dan juga perbuatan harian yang dilakukan oleh Nabi SAW dan, antaranya adalah aspek etika atau tatacara pemakanan yang diamalkan oleh baginda.

 Dalam hal itu, Rasulullah SAW merupakan seorang yang amat mementingkan adab atau etika ketika menjamu selera, tetapi juga soal-soal khasiat pada makanan yang diambil agar dapat mengambil manfaat daripadanya.

Ini sejajar dengan hadis riwayat oleh Tirmizi bermaksud:

“Cukuplah bagi anak keturunan Adam agar makan sekadar untuk menegakkan tulang sulbinya (tulang punggung), melainkan jika dia tidak dapat mengelak. Maka isilah sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.”

Malah, etika Rasulullah SAW itu selari dengan firman Allah SWT dalam surah al-A’raf:31 bermaksud:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.”