ORANGTUA BERPISAH, ANAK LARI KE MANA?

Keluarga yang harmonis merupakan idaman semua orang. Sebuah keluarga dikatakan harmonis apabila terlihat tidak ada percekcokan dan kehidupan berjalan mulus-mulus saja. Keluarga harmonis ini bisa tercapai karena keinginan atau cita-cita saat pernikahan bisa dirasakan oleh seluruh anggota keluarga tanpa terkecuali. Dan juga, semua tugas dari masing-masing anggota keluarga dilaksanakan sebagaimana mestinya seperti seorang ayah yang mengayomi, ibu yang menyayangi, dan anak-anak yang mematuhi orang tuanya.

Banyak yang ingin menjadi keluarga yang harmonis. Namun apakah kita sadar bahwa untuk menjadi sebuah keluarga yang harmonis tidak cukup hanya dengan bersikap jujur dan terbuka terhadap pasangan, saling berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, menghindari sikap egois dan emosional dalam keluarga, membuat komitmen jangka panjang dengan pasangan, selalu mengutamakan kebersamaan dan keluarga, bijak dan tegas dalam menghadapi masalah, memberikan perhatian yang penuh, serta menjalin silaturahmi yang baik, namun juga dengan tegar menghadapi masalah yang ada.

Masalah dalam Berumah Tangga

Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan tentang Family goals atau Relationship goals. Julukan ini terlebih sering diajukan kepada keluarga public figur yang pastinya lebih banyak mendapat sorotan dari masyarakat.

Namun tahukah kita jika semat Family goals ini berbeda-beda setiap orangnya. Pada dasarnya, semua keluarga adalah Family goals. Tak mungkin jika sebuah bahtera rumah tangga tak ada masalah ataupun tak ada percekcokan di dalamnya. Namun kembali lagi kepada opini masyarakat masing-masing, yaitu pandai atau tidaknya seseorang menanggapi segala masalah yang ada. Rumah tangga yang harmonis justru bukan tanpa masalah, namun bagaimana cara menyikapi masalah itu yang menjadi pembuktian sebuah kedewasaan.

Dalam kehidupan berumah tangga, ada banyak sekali masalah yang bisa saja terjadi, bahkan ada yang menjadi hal lumrah untuk terjadi. Masalah tersebut bisa terjadi antara lain karena adanya orang ketiga atau perselingkuhan, masalah ekonomi, tidak bisa mendapatkan anak, kurang pandainya suami atau istri dalam menjalankan tugas, komunikasi, perbedaan, dan yang terakhir adalah pendidikan dan pengetahuan dari masing-masing individu, dan masih banyak lagi masalah yang lebih spesifik lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Jika tidak pandai dalam menghadapi berbagai masalah tersebut, maka dalam sebuah hubungan pernikahan akan terjadi perceraian.

Sebuah perceraian dapat menjadi jalan keluar dan dapat pula menjadi mimpi buruk. Menjadi jalan keluar, yaitu kedua belah pihak memutuskan untuk bercerai jika merasa bahwa berpisah adalah jalan satu-satunya, kemudian satu atau dua belah pihak memutuskan untuk saling meninggalkan dan berhenti melakukan tugas sebagai pasangan suami istri.

Namun, disadari atau tidak, ini adalah hal yang sangat buruk bagi anak korban dari sebuah perceraian. Akan berbeda rasanya jika awalnya memiliki keluarga yang utuh lalu kemudian hilang begitu saja. Tak ada bedanya sebuah perceraian dengan kematian. Anak akan merasa ada sesuatu yang tidak utuh lagi. Anak akan merasakan keterpurukan, kecemasan, dan tidak percaya diri.

Dampak bagi Anak

Berdasarkan pengamatan penulis dengan lingkungan sekitar, anak yang orang tuanya sudah bercerai lebih banyak memberikan dampak negatif kepada hidup mereka dibandingkan dengan yang merasa biasa-biasa saja. Dengan adanya hak asuh anak setelah perceraian membuat anak harus tinggal dengan salah satu dari ayah atau ibunya, kemudian akan sulit untuk bertemu dengan salah satu diantara mereka. Hal ini yang akan menimbulkan kerinduan yang amat sangat dan bisa memicu masalah psikis pada anak. Selain itu, anak akan ditelantarkan jika kedua orangtuanya memiliki ego yang sangat besar.

Dalam kehidupan bermainnya, anak akan merasa iri atau minder kepada teman-temannya yang memiliki keluarga utuh sehingga anak tersebut akan malu untuk bergaul. Sikap malunya ini akan membuat dia tidak mempunyai teman dan menjadi anak yang introvert. Masalah ini juga dapat muncul karena pengaruh lingkungan. Jika lingkungannya buruk dan teman-temannya tidak memiliki sifat empati maka hal ini akan terjadi.

Dampak lainnya adalah banyak anak yang menjadi putus sekolah karena ayah atau ibunya tidak ada yang ingin mengasuh  dan menelantarkan anak begitu saja (ini apabila perceraian yang terjadi akibat masalah ekonomi). Tak berhenti disitu, sebuah riset juga menunjukkan bahwa anak yang merupakan dari keluarga broken home akan mengulangi apa yang dilakukan orang tuanya di saat dia memiliki hubungan. Tak jarang anak yang lahir dari sebuah perceraian akan memiliki rumah tangga yang tidak harmonis di kemudian hari, dalam artian bercerai.

Sangat memprihatinkan dan miris sekali melihat kenyataan yang terjadi di lapangan mengenai sebuah dampak dari perceraian. Keputusan yang diambil sesaat bisa memicu masalah besar pada anak yang menjadi korban. Setelah orang tua bercerai, anak akan merasa tidak punya siapa-siapa kemudian akan lari kepada orang lain dan berdampak buruk bagi kehidupannya.

Penulis teringat akan sebuah pepatah lama yang berbunyi Lebih baik mencegah daripada mengobati. Sepertinya pepatah ini cocok disematkan untuk masalah perceraian. Sebuah pernikahan merupakan awal dari diikrarkannya janji dan komitmen dari kedua belah pihak.

Namun, jika sebuah masalah sudah terjadi dalam hubungan maka akan sulit untuk mengatur komitmen dan memperbaiki ulang kembali. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika adanya konsultasi pra nikah demi kelanggengan hidup berumah tangga. Pada konsultasi pra nikah, pasangan akan diajak untuk mengetahui kepribadian masing-masing sebelum menyatukan dua jiwa dalam ikatan pernikahan.

Cinta tidak menciptakan pernikahan. Pernikahan yang sadar, terencana, menciptakan cinta. Hal yang sama terjadi dalam semua hubungan.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply