Pandangan Islam Terhadap Perayaan Tahun Baru

Perayaan tahun baru adalah suatu tradisi tahunan di seluruh penjuru dunia. Hal ini sudah menjadi suatu kebiasaan bagi sebagian besar masyarakat untuk merayakannya. Perayaan tahun baru biasanya dilakukan pada malam di akhir tahun atau ketika memasuki tanggal 1 Januari. Tradisi penyambutan tahun baru ini biasanya sering di meriahkan oleh kawula muda dengan berbagai aktivitas yang menghibur.

Aneka kemeriahan disiapkan untuk menyambut malam pergantian tahun, bahkan tidak jarang pemerintah dan para pedagang bekerja sama guna memfasilitasi dan mencari peluang usaha pada perayaan tahun baru tersebut.

Beberapa persiapan dilakukan mulai dari penghiasan taman-taman atau tempat pusat perayaan tahun baru. Acara ini biasanya dimeriahkan dengan bunyi petasan, trompet, pesta kembang api, dan panggung hiburan. Acara puncak pada perayaan tahun baru adalah ketika saling menanti jarum jam berada tepat di angka 24.00, kemudian saling mengucapkan “selamat tahun baru”.

Kebanyakan pada perayaan tahun baru ini selalu diisi oleh kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat dan bahkan bertentangan dengan apa yang diajarkan dalam Agama Islam. Padahal Allah SWT sudah menjelaskan yang demikian itu dalam firman-Nya: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”. (QS. Al-Furqan: 72)

Dari ayat diatas, Allah Swt menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan menjaga kehormatannya, mereka akan menghindarkan diri mereka dari mengikuti orang-orang yang melakukan suatu perbuatan yang tidak bermanfaat serta sia-sia.

Pada dasarnya perayaan tahun baru ini bukanlah perayaan umat Islam, melainkan adalah suatu perayaan dari non-muslim (Nasrani). Beberapa pendapat ulama mengatakan bahwa tahun baru masehi merupakan sebuah prosesi atau perayaan yang tidak di anjurkan bahkan dilarang oleh Agama Islam.

Bahkan dalam proses perayaannya tidak jarang terdapat unsur-unsur hedonisme, hura-hura dan berfoya-foya. Hal demikian tadi termasuk pada perbuatan yang harus dijauhi.

Mengenai hukum dari perayaan tahun baru ini, ada dua pendapat ulama. Pendapat yang pertama adalah melarangnya. Pelarangan terhadap perayaan tahun baru ini didasarkan pada dua argumen, yaitu pertama adalah larangan Islam bagi umatnya untuk menyerupai non-muslim. Argumen pertama ini telah dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah “Unzhurna” dan “dengarlah” dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih”. (QS. Al-Baqarah: 104)

Seorang ahli tafsir, yaitu Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan larangan bagi orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Pada argumen kedua terdapat larangan merayakan tahun baru. Dalam Hadis: “Rasulullah Saw datang ke kota Madinah, sedang mereka (umat Islam) mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main. Rasulullah Saw bertanya, “Apakah dua hari ini?”, mereka menjawab “Dahulu kami bermain-main pada dua hari itu pada masa jahiliyah”. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha”. (HR.Abu Dawud)

Dari Hadis diatas, maka jelaslah bahwa umat Islam dilarang untuk mengikuti perayaan tahun baru non-muslim beserta segala kegiatan yang ada di dalamnya.

Dalam pendapat kedua, juga ditemukan bahwa tidak ada pengharaman perayaan tahun baru, tetapi pendapat ini bisa digunakan dengan syarat tidak menganggap perayaan tahun baru sebagai suatu hal yang bersifat sakral, tidak melakukan aktivitas yang mengandung kemaksiatan, mengambil hikmah dan evaluasi dari pergantian waktu, dan tetap meyakini bahwa tahun baru Islam hanyalah tahun baru Hijriah, bukan mengikuti tahun baru non-muslim.

Namun, yang menjadi permasalahannya adalah kebanyakan dari umat Islam masih kerap mengikuti perayaan tahun baru non-muslim. Mayoritas mereka juga mengikuti semua tradisi dan perilaku yang dilakukan orang non-muslim dalam perayaan ini. Selain itu, tak jarang perayaan tahun baru ini juga diwarnai dengan beberapa aksi yang dapat memicu perselisihan, bahkan memicu tawuran antar beberapa geng anak jalanan.

Hal seperti tadi yang menjadikan Islam melarang umatnya untuk ikut merayakan tahun baru Masehi dikarenakan kebanyakan mereka pada saat itu lalai dan melupakan Allah, sehingga hal tadi menjadikan mereka tidak lagi menghiraukan aturan serta norma yang ada dalam Agama. Hal tadi menjadikan mereka seolah-olah menyerupai non-muslim. Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, bahwasanya Islam melarang umatnya untuk meniru atau melakukan perbuatan yang menyerupai non-muslim serta melarang umatnya untuk ikut merayakan pergantian tahun, karena Allah Swt telah menggantinya dengan hari-hari yang lebih baik.

Salah satu penyebab orang Islam pada masa sekarang mengikuti perayaan ini adalah karena lemahnya iman. Selain itu kebanyakan dari mereka di zaman sekarang sudah mulai melupakan norma dan aturan-aturan dalam bersosial serta larut dalam kehidupan duniawi yang hanya membahagiakan sesaat.

Dari berbagai fenomena tadi, sebagai umat Islam perlulah banyak belajar dalam memahami Agama guna menjaga dan membentengi diri agar tidak mengikuti tradisi perayaan pergantian tahun karena itu adalah suatu perbuatan yang sia-sia serta dapat menjerumuskan kita kepada hal-hal yang diharamkan oleh Agama.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply