Pangkal Keikhlasan

Keyakinan yang teguh, pemahaman ilmu yang benar, sikap dan perilaku yang baik, serta amal perbuatan yang bermanfaat akan menjadi kendaraan hidup yang mampu mengantarkan kita meraih kebahagiaan apabila landasannya adalah keikhlasan. Keikhlasan bagaikan akar pohon yang mana kehidupan pohon itu bergantung kepadanya. Meskipun sang akar tersembunyi di dalam tanah, tetapi ia berperan penting bagi kehidupan pohon itu. Jika kehidupan kita diibaratkan seperti sebuah bangunan, maka keikhlasan adalah pondasi yang di atasnya berdiri dengan kokoh seluruh bangunan kehidupan kita.

Secara etimologis, istilah “ikhlas” berasal dari kata Arab yaitu khalasha yang artinya suci, bersih, atau murni dari tercampur dengan sesuatu apapun. Berdasarkan hal ini, dapat dimaknai bahwa keikhlasan adalah kemurnian suatu hal yang mana halnya itu benar-benar bersih atau steril dari sesuatu apapun selain dirinya sendiri, yang dapat mencampurinya. Seperti dalam sebuah ungkapan, “cintaku ini murni untukmu”, maka “cintaku” adalah benar-benar hanya untukmu seorang apabila tidak ada satu orang pun selain dirimu yang membersamai mu atau bersekutu dengan mu dalam memiliki “cintaku” ini.

Lantas apa kaitannya dengan kehidupan manusia? Tentu saja, setiap hati sanubari manusia menyadari bahwa untuk bisa hidup bahagia mereka harus bisa menjalani kehidupan ini dengan penuh keikhlasan. Akan tetapi, banyak orang yang merasa sulit untuk bersikap ikhlas terhadap segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupannya.

Ketika seseorang ingin selalu bisa merasakan kebahagiaan, ternyata kenyataan hidup justru seringkali menghadirkan kekecewaan. Selalu ada sesuatu yang dirasa kurang dan tidak menyenangkan hati, baik sesuatu yang ada pada diri sendiri maupun yang datang dari luar diri. Selalu ada kesulitan yang datang bahkan tak jarang menggagalkan tekad dan langkah untuk meraih impian.

Ikhlas memang sering dianggap sesuatu yang sepele, namun ternyata, tidaklah mudah untuk bisa melakukannya. Sebab dengan bersikap ikhlas, berarti hati yang terdalam harus mau menerima apapun yang menimpa diri di dalam hidup. Ketika kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan atau bahkan menyakitkan, hati yang ingin memiliki rasa ikhlas mesti menerimanya dengan sepenuh hati, tetapi tanpa bersikap pasif, melainkan harus tetap aktif bekerja keras dan cerdas untuk meraih apa yang dicita-citakan dengan penuh kegigihan meskipun nyawa menjadi taruhan.

Suatu hal yang tak bisa dipungkiri, bahwa semua orang dalam melakukan segala perbuatannya pasti dilandasi oleh kehendak ingin memperoleh kebahagiaan. Tentu bukan hanya kebahagiaan sesaat, melainkan kebahagiaan yang sejati, atau kebahagiaan yang dapat dirasakan setiap saat sepanjang hidup, tanpa gangguan yang membuatnya menjadi tidak merasa bahagia lagi. Namun, apa sebenarnya yang menjadi sumber kebahagiaan sejati itu? Jalan mana yang mesti ditempuh untuk menemukannya? Dan bagaimana cara untuk bisa meraihnya? Setiap orang dengan naluri dan nalarnya masing-masing, selalu bergerak ke arah sumber kebahagiaannya yang sejati dan selalu mencari cara untuk bisa mencapainya.

Seringkali kita mendengar bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan kesenangan-kesenangan hidup seperti harta yang berimpah, pasangan hidup yang rupawan, karir yang lancar, ataupun kekuasaan yang hebat. Semua itu memang bisa menghasilkan kenikmatan, tetapi juga terbukti bahwa semua itu hanya memberikan kenikmatan yang bersifat sementara atau tidak memberikan kebahagiaan hidup yang berkelanjutan. Justru seringkali menjadi sumber kecemasan baru, mendorong diri untuk menjadi semakin rakus, bahkan menjerumuskan orang pada tindakan-tindakan yang tidak manusiawi.

Orang yang menyadari arti penting keikhlasan akan mengerti bahwa kebahagiaan yang sejati bukanlah dicapai dengan mengejar kesenangan-kesenangan duniawi yang sesaat. Melainkan dicapai dengan keikhlasan hati itu sendiri. Sebab dengan hati yang penuh keikhlasan seseorang tidak akan terpengaruh oleh beragam keadaan, pikiran, ataupun emosi diri yang muncul. Akan tetapi, orang yang cerdas akan terus berusaha agar mengerti lebih dalam lagi tentang arti keikhlasan, dengan bertanya kepada diri, keikhlasan seperti apa yang bisa menjadi pijakan untuk mencapai kebahagiaan sejati? untuk apa atau kepada siapa kehidupan yang ia jalani harus dipusatkan? kepada siapa ia mesti mengalamatkan keikhlasan hati dengan kepercayaan penuh?

Sebab, jika diri tak tahu apa atau siapa pusat kehidupannya, maka ia akan salah mengalamatkan keikhlasannya. Kerja secerdas dan sekeras apapun tetap akan menimbulkan rasa lelah dan kegelisahan batin tiada henti apabila keikhlasan hati tidak dialamatkan kepada yang semestinya. Jadi agar keikhlasan dapat dilakukan dengan sempurna, menenteramkan hati, dan benar-benar membuahkan kebahagiaan yang sejati dalam hidup, keikhlasan mestilah dialamatkan kepada dia yang dipahami dan diyakini sebagai pusat dari seluruh kehidupan.

Secara alamiah setiap diri manusia selalu memiliki rasa percaya, rasa ingin menyembah, dan menyerahkan segenap jiwa dan raga kepada Tuhan yang menciptakan alam raya ini. Manusia selalu cenderung memusatkan segenap hidupnya kepada sumber yang memberikan rasa damai dan kebahagiaan dalam hatinya.

Ketika mengalami kebuntuan dan menyadari bahwa tidak ada satupun faktor-faktor materi yang dapat membantunya terbebas dari segala macam kesulitan dan kebahagiaan yang menenangkan hati, maka manusia akan menyadari kebutuhannya terhadap sumber kekuatan non-materi, yang lebih besar dari makhluk apapun, yang mampu membebaskannya dari segala macam kebuntuan hidup.

Sumber : kompasiana.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply