Pekik Fanatik

Makin tinggi ilmu seseorang, makin besar rasa toleransinya. ~  Gus Dur

Tidak ada ruang yang bisa dimasuki akal sehat di kepala seorang fanatik. ~  Napoleon Bonaparte 

Denis Diderot dalam Essai sur le mérite et la vertu mengatakan, fanatisme berada dalam satu langkah menuju barbarisme. Dia melihat bahwa fanatisme akan membutakan realitas sehingga menutup hati nurani serta hal-hal yang dipercaya akan dilindungi bahkan dengan melakukan apa saja untuk melindungi kepercayaannya.

Maka tidak heran jika orang-orang yang terjangkit fanatisme tak segan menyerang dengan asal menuduh dan mencaci bahkan membunuh yang berseberangan untuk melindungi kepercayaannya demi ilusi kebenaran atau pahala dari Tuhan. Mereka selamanya tidak akan berubah jika pemikiran mereka tetap tertutupi tirai pekat, di mana nilai sebuah kebenaran dipercaya mutlak dengan menggunakan logika tanpa memahami dan memaknai.

Fanatisme yang kerap diberitakan di media massa dalam negeri mungkin disebabkan oleh buruknya budaya literasi dalam negeri, seperti minimnya distribusi bacaan buku-buku berkualitas, pembatasan ruang diskusi dan kebebasan berpendapat. Persekusi diberi dalih, kebencian tampak halal, mitos tercipta, serta teori konspirasi segitiga mata satu yang memperkeras kepala.

Maraknya penuduhan opini sesat tanpa dialog yang sehat juga pelarangan dan razia buku-buku melengkapi buruknya literasi di masyarakat kita. Ini semua akan menjadi sebuah garis awal terbentuknya kebudayaan.

Hasilnya bisa dirasakan berupa membuasnya kekerasan intoleransi di dalam negeri. Kekerasan yang dipicu oleh pemaksaan identitas tunggal yang penuh permusuhan dan kebencian kepada orang-orang awam yang digelorakan oleh para penebar kebencian, mulai dari profesi buzzer politik, politikus, dan penceramah agama, terutama melalui informasi digital.

Kita sibuk bertikai identitas kolektif satu sama lain ketimbang sibuk beribadah ritual maupun sosial dalam batas-batas kemewaktuan dan kemenduniaan kita. Ikatan kolektif yang cenderung meleburkan kepribadian individu-individu ke dalam campuran dari kepercayaan, kebohongan, kenyataan, dan fiksi yang bercampur-aduk membentuk lautan kekacauan tanpa bisa dibedakan lagi sehingga lebih mudah untuk terprovokasi ketimbang meminta pandangan dan berdialog satu per satu di antara mereka.

Rasa kemanusiaan kita dicabik-cabik oleh pengelompokan orang berdasarkan agama, komunitas, budaya, pandangan politik, dan bahkan oleh pose jari antara telunjuk dan jari tengah. Keragaman identitas yang seharusnya kita nikmati malah menciptakan kesan membingungkan dan menakutkan.

“Maaf, Tuhan, kami sibuk bertikai” adalah slogan yang nyata untuk saat ini. Tak ada yang lebih ganas dari seorang fanatik yang tak menyadari bahwa dirinya fanatik.

Nietzsche sangat peka tentang hal ini. Ia menyebut bahwa seorang fanatik menyempitkan dirinya sendiri, baik fanatik terhadap kepercayaan agama, ateis, ideologi.

Kepercayaannya lebih ditentukan oleh mekanisme internal; kebutuhan akan kepercayaan pada diri individu tersebut; kebutuhan akan kesandaran atau kepercayaan yang stabil.

Menurutnya, orang fanatik adalah orang yang pucat, tanpa darah, bagai mayat hidup di dunia ini. Ia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan akan kebutuhan terhadap kepercayaanya tersebut.

Makin fanatik dan keras dalam kepercayaan yang dipegangnya, maka di baliknya adalah kepucatan dan pesimisme yang bermental budak; primitif dan dekaden. Orang yang tidak bisa menyatukan dirinya, sebentuk kematian dalam hidup.

Fanatisme menemukan tempatnya dalam zaman ketika keyakinan-keyakinan menjadi kuat bilamana orang dipaksa untuk memperlihatkan suatu keyakinan yang berbeda. Kebutuhan untuk percaya ini, kepercayaan metafisis, agamis, ideologis merupakan obat bagi kehendak yang lemah, bagi mereka yang tidak mampu mengutuhkan dirinya. Obat yang memberi kegembiraan dan kenikmatan hidup bagi orang yang terserak-serak dan tidak memiliki orientasi.

Ia memberi kemungkinan baru untuk menghendaki, untuk hidup, untuk lebih bersemangat lagi menjalani kehidupan. Obat yang akan berguna bagi kehidupan, selama digunakan secara tepat dan sesuai kebutuhan. Namun, jika dosisnya tak tepat, maka obat yang semula berguna bisa menjadi narkose yang menyimpang. Bahkan menjadi candu yang merusak bila dikonsumsi tanpa moderasi.

Dalam hal beragama, Al-Ghazali menjelaskan dalam kitabnya Ihya Ulumuddin bahwa agama adalah layaknya sebuah obat. Obat yang harus diberikan secara tepat sesuai dosis dan penyakit kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Akan tetapi, obat ini dapat berpotensi menjadi candu, menyimpang dan berbahaya jika digunakan secara sembarangan tanpa dipandu oleh dokter ahli atau dengan kata lain para alim ulama yang tepat dan lebih paham.

Fenomena mabuk agama, membela secara membabi buta terhadap kepercayaannya, menjadi budak secara sukarela terhadap sebuah ideologi atau agama atau campuran dari keduanya; agama-politik merupakan salah satu dampak akibatnya.

Terdapat alasan kuat untuk beranggapan bahwa manusia secara fitrah adalah Homo Religious(makhluk beriman/beragama). Manusia selalu berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan paling mendasar dalam hidupnya untuk memahami arti kehadiran diri di dunia serta bagaimana menjalani hidupnya, baik secara sosial maupun individu. Dia sadar diri atas watak kemanusiaanya serta keterbatasan-keterbatasan di luar eksistensinya.

Manusia pada dasarnya lemah. Di sinilah peran sebuah kepercayaan yang dipilih secara sadar oleh manusia adalah untuk memberikan arah dan kekuatan yang menunjang eksistensinya untuk berkuasa mengalahkan nasib tragisnya. Dengan itu, ia akan menemukan nilai-nilai, tujuan-tujuan yang akan memberi makna pada dirinya sendiri.

Untuk melampaui fanatisme, maka diperlukan suatu upaya untuk merobohkan dinding imajiner yang telah membatasi kita sekaligus menjadi musuh bersama, yakni kebodohan yang muncul dari fanatisme. Yang merupakan salah satu bentuk dari kejamnya sebuah ilusi. Ilusi tentang adanya sebuah identitas tunggal dan tanpa pilihan.

Ilusi ini bahkan bisa mengalahkan rasa simpati dan kebaikan manusiawi. Melawan musuh tak terlihat, yakni pikiran kita sendiri, angan-angan kita sendiri dengan mengubah cara pandang dan pemahaman terhadap diri kita sendiri, tentang hakikat diri.

Marilah kita menginterogasi-diri kita sendiri secara serius: Mengapa kamu tidak mau salah? Mengapa pikiran kamu begitu sempit hingga tak menyadarinya?

Kamu tak bisa mengetahui apakah dirimu termasuk golongan ‘’yang baik’’ dan ‘’yang selamat’’ tanpa melihat pihak luar yang disebut ‘’sesat’’ dan ‘’munafik’’. Melampaui fanatisme dengan berbagi pengalaman kepercayaan atau iman, bukan dengan memberi klaim-klaim kebenaran sepihak antar kepercayaan masing-masing.

Kita bukan iblis yang selalu ada dalam keburukan, bukan pula malaikat yang selalu berada dalam kebaikan. Manusia ada di antara persimpangan keduanya. Ia bisa berpotensi menjadi buruk atau baik. Maka tugas manusia adalah untuk saling merangkul satu sama lain. Bukan gemar mencaci dan menghukumi atau bahkan menoleransi terhadap intoleransi itu sendiri.

Diharapkan dengan cara ini dapat menghaluskan kepekaan kita terhadap perbedaan dan memperkuat kemampuan toleransi. Membawa kita menjauh dari pertikaian identitas sehingga hidup dengan keberagaman dalam masyarakat global yang majemuk.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply