PEMBUMIAN AQIDAH ASWJ DALAM MASYARAKAT NUSANTARA

Oleh: Prof. Dr Sudirman M. Johan

Proses pembumian mazhab Ahlussunnah Wal Jama’ah ke lingkungan masyarakat Melayu Nusantara bersamaan dengan perkambangan Islam ke kawasan Asia. Mengenai perkambangan Islam ini, ada beberapa pendapat sejarahwan tentang penyebaran Islam ke Alam Melayu. Pendapat sejarahwan ini dapat dirumuskan kedalam tiga teori. Teori yang pertama menyatakan proses tranformasi agama Islam ke Nusantara dari Tanah Arab. Menurut Ahmad Shalaby (1981_56-59) hubungan bangsa arab dengan penduduk Nusantara telah terjalin semenjak sebelum kedatangan Islam. Para pedagang Arab yang berlayar ke kawasan ini pada peringkat awalnya datang dari Yaman, Hadramaut dan Oman dibagian selatan dan tenggara semenanjung dataran Arab. Penduduk Yaman telah menganut agama Islam sejak tahun 630-631 M. Peng-Islaman penduduk Yaman ini mempunyai implikasi yang sangat besar terhadap penduduk Nusantara. Karena para pedagang dan pelaut Yaman yang beragama Islam itu, menyebarkan agama Islam di area pelabuhan tempat mereka melakukan transaksi perdagangan di sepanjang pantai Nusantara. Hubungan perdagangan ini telah berlangsung semenjak abad pertama Hijrah atau bertepatan abad 7 M. hal ini diperkuat dengan bukti historis dengan ada perkampungan Islam disekitar Sumatra Utara diawal abad 7 M. perkampungan ini dikenal dengan Ta-Shih. Menurut versi sejarah China, Ta-Shih telah membangun jaringan perhubungan dengan dataran china selatan tahun 650 M.

      Teori yang kedua menerangkan bahwa Islam disebarkan ke Nusantara melalui China. Menurut S. Fatimi dalam bukunya Islam Gomes To Malaysia, mengemukakan bahwa terjadi mobilitas penduduk besar-besaran dari Canton ke kawasan Nusantara sekitar tahun 876 M. mobilitas penduduk yang bergerak dari Canton ke Nusantara ini akibat terjadinya pemberontakan di Canton yang menewaskan sekitar seratus ribu orang sampai seratus lima puluh ribu jiwa. Akibat dari pembunuhan masal itu, memberi dorongan kepada orang Islam untuk meninggalkan kawasan tenggara China dan pindah ke kawasan Malaysia dan daerah Palembang Sumatera ada juga sebagaian mereka memilih kawasan Champa, Brunai, Patani, Kelantan, Teranggano, Pahang dan ke Jawa Timur. Di pemukiman baru di Nusantara inilah mereka berdomisili dan menyebarkan agama Islam kepada penduduk tempatan. Sebagai fakta sejarah atas kedatangan dan bermukimnya mereka di kawasan Nusantara ini antara lain, Batu Nisan Syeh Abdul Qadir bin Husin Syah Alam terdapat di Langgar Kedah dengan Tarih 903 M. batu bersurat Phan-rang di kamboja 1025 M. batu nisan di Pekan, Pahang tanggal 1028 M. Batu Nisan Ahmad bin Abu Ibrahim bin Abu ‘Arradah al Rahdar, Abu Kamil di Phan-rang 1039M. Batu nisan Fatimah bin Maimun bin Hibat Allah di Leran, Jawa Timur 1082 M. dan Batu nisan bersurat Teranggano 1303 M.

      Melalui batu-batu nisan yang terdapat di berbagai tempat kawasan Nusantara dapat dijadikan bukti bahwa Islam telah meyebar kelingkungan penduduk Nusantara disekitar tahun 903 – 1303 M. Akan tetapi sebahagian sejarawan menyatakan sebelum abad 13 M ini Islam telah menempati kawasan Nusantara. Kedua teori yang telah dikemukakan ini disanggah sarjana Belanda Pijnappel, dengan mengemukakan suatu teori bahwa penyebaran Islam ke kawasan Nusantara adalah dari India, bukan dari Persia dan Arabia. Ia menghubungkan asal muasal Islam Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar. Menurutnya orang-orang arab yang bermazhabkan Syafi’i yang bermigrasi dan menetap di India tersebut kemudian membawa Islam ke Nusantara.

      Teori ini kemudian dikembangkan oleh Snouck Hwiqronje dengan mengumukakan bahwa setelah Islam semakin kuat kedudukanya dibeberapa kota anak benua India, Muslim Deccan_ banyak diantara mereka yang menjadi pedagang perantara antara pedagang Timur Tengah dengan Nusantara_ dan mereka menyebarkan agama Islam dilingkungan penduduk dunia Melayu. Baru kemudian mereka disusul orang-orang arab dan diantaranya menghubungkan silsilahnya dengan Nabi Muhammad SAW dengan menempatkan kata Sayyid atau Syarif di pangkal nama-nama mereka. Mereka berperan sebagai “Guru spritual” maupun sebagai pembimbing penguasa Sultan. Dalam hal ini Snouck H, tidak menyatakan wilayah mana di India Selatan yang dipandang sebagai daerah asal Islam di Nusantara.

      Ada juga sarjana Belanda yang menyatakan bahwa asal mula Islam adalah Gujarat kemudian terus ke Nusantara. Pendapat Moguette ini didasarkan atas batu nisan yang terdapat di Sumatera, terutama daerah Pasai yang bertulis Tanggal 17 Dzul al-Hijjah 831 H/ 27 September 1428 M. batu nisan ini hampir sama dengan batu nisan Mawlana Malik Ibrahim (W822M/1419H) yang terdapat di gersik Jawa Timur, bahkan mirip dengan batu nisan yang ditemukan di Bumbay dan Gujarat. Kemiripan bentuk dan model Batu nisan yang terdapat di Sumatera dan Jawa ini, ada hungangan batu nisan itu diimpor dari Gujarat, dan ini merupakan pertama bahwa Islam datang ke Nusantara berasal dari Gujarat. Teori Moquette ini disanggah oleh Fatimi, ia menyatakan tidak wajar mengaitkan batu nisan di Pasai dengan batu nisan yang terdapat di Gujarat. Hasil penyelidikannya mengukapkan bahwa batu nisan Malik Al- Shelih sangat berbeda dengan batu nisan yang ditemui di Gujarat, dan batu nisan di Nusantara. Bahkan ia menyimpulkan bahwa batu nisan yang ditemui di Nusantara sama dengan batu nisan yang terdapat di Bengal. Dengan itu Fatimi memperkuat pendapatnya, bahwa Islam datang ke Nusantara berasal dari Bengal.

      Dari permulaan perkembangan Islam di Nusantara, pada umumnya masyarakat Islam menganut Mazhab Syafi’i, tentu saja mazhab ini datang dari kawasan yang bermazhab sama. Hal ini menunjukkan tidak mungkin Islam di Nusantara berasal dari Bengal. Karena penduduk Bengal adalah penganut mazhab Hanafiah jika demikian halnya, kemungkinan besar Islam di Nusantara berasal dari Gujarat. Karena penduduk Gujarat pada umumnya bermazhab Syafi’i. terlepas dari perbedaan mazhab ini, sebagaian sarjana Belanda seperti Kern, Winstedt dan lainnya mendukung teori Moquette, Winstedg umpamanya, mengungkapkan tentang batu nisan yang mirip bentuknya dengan bentuk batu nisan di Bruas pusat kerajaan kuno Melayu Perak. Argumenya, bahwa batu nisan yang terdapat di Bruas, Pasai dan Gersik berasal dari Gujarat, dan ini bukti sejarah bahwa Islam datang dari Gujarat.

      Teori yang mengatakan tentang wilayah asal Islam Nusantara dari Gujarat di tolak oleh Morrison, ia mengemukakan meskipun batu-batu nisan di Nusantara kemungkinan datang dari Gujarat atau dari Bengal. Tidak lantas berarti Islam juga berasal dari kawasan ini. Morrison menunjukkan fakta tentang masa Islamisasi di Sumatera-Pasai 698/1297 penduduk Gujarat terutama Raja-rajanya masih merupakan Kerajaan Hindu. Baru setahun kemudian (699-1298) bombay dan Gujarat ditalukkan oleh kekuatan dan kekuasaan Muslim. Kalau Gujarat telah menjadi pusat penyebaran Islam, tentulah wilayah ini telah mempunyai kesempurnaan dalam melaksanakan ajaran Islam, setelah mampu tentulah Islam yang berasal dari Gujarat disebarkan ke Nusantara. Dalam hal ini Marrison mengemukakan teorinya bahwa Islam Nusantara bukan datang dari Gujarat, tetapi Islam datang dari pantai Goromandel pada akhir abad 13.

      Teori yang dikemukanan oleh Morrison ini sejalan dengan teori yang dipaparkan oleh Arnold, Arnold menyatakan perkembangan Islam di kawasan Nusantara sangat berhubungan dengan Islam yang terdapat di Goromandel dan Malabar. Ia mendukung teori ini dengan suatu fakta historis tentang persamaan mazhab fiqh diantara kedua wilayah terebut. Mayoritas penduduk Nusantara adalah pengikut mazhab Syafi’i, sementara itu wilayah Garomandel dan Malabar juga penduduknya menganut mazhab Syafi’i. Menurut Arnold, para pedagang dari Goromandel dan Malabar mempunyai peranan yang penting dalam perdagangan antara India dengan Nusantara. Para pedagang dari India ini mengunjungi centra ekonomi di pelabuhan-pelabuhan dagang dunia Melayu. Dalam kegiatan berdagang itu tersisip misi penyebaran Islam ke penduduk Nusantara.

      Arnold mengungkapkan juga bahwa pusat penyebaran Islam bukan hanya Goromandel dan Malabar, tetapi terdapat juga didaerah – daerah lainya dari Arabia. Menurutnya, para pedagang Arab juga melakukan penyebaran Islam dalam aktivitas perdagangan tersebut. Sejak permulaan abad, Hijriah bersamaan abad 7 -8 Masehi. Para pedagang Arab mempunyai posisi dominan dalam dunia perdagangan antara Timur Tengah dengan Nusantara. Hal ini lebih mungkin jika membandingkan fakta yang terdapat dalam sumber China, bahwa menjelang akhir abad 7 M seorang pedagang Arab menjadi pemimpin di pemukiman Arab Muslim di pesisir Pantai Sumatera sebagian orang Arab melakukan perkawinan dengan wanita-wanita lokal. Interaksi sosial melalui perkawinan ini mambentuk komonitas muslim yang terdiri dari orang-orang arab dan penduduk lokal.

      Selain teori yang dikemukanan Arnold, terdapat pula teori yang diungkapkan oleh Grawfurd, ia menyatakan penyebaran Islam di Nusantara tidak terlepas dari peranan orang-orang Arab. Mereka membawa Islam secara langsung dari daratan Arabia. Namun demikian ia telah menolak adanya pandangan yang menyatakan, bahwa Islam berasal dari Pantai Timur India, yang juga merupakan fator penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sementara itu Keijzer menyatakan teori bahwa Islam yang berkembang di kawasan Nusantara berasal dari Mesir, dengan dasar pertimbangan ada kesamaan penduduk Nusantara dengan penduduk Mesir, dalam beramal dan beribadah, karena kedua menyangkut muslim ini sama-sama menganut mazhab Syafi’i. teori ini juga dipengang oleh Niemann dan Hollander yang sedikit perbedaan pendapat, yang menyatakan bukan Mesir sebagai tempat asal Islam Nusantara, melaikan Hadhramaut.

      Diantara serjarawan yang mendukung “Teori Arab” ini adalah Naquib Al-Attas, ia menyatakan, bukti yang paling penting yang perlu dikaji ketika menelaah dan mengkaji kedatangan Islam di Nusantara adalah karakteritik internal Islam di dunia Melayu itu sendiri. Karakteristik muslim di Nusantara adalah menganut Aahlussunah, yaitu mempunyai paham teologi Ary’ asriayah dan bermazab Syafi’iyah. Proses tranformasi mazhab Syafi’iyah kedalam masyarakat Melayu mengikuti proses Islamisasi di Nusantara.

      Para sejawaan Belanda Punappel yang telah dikutip pada bahasan awal tulisan ini, menyimpulkan bahwa yang membawa Islam yang menganut mazhab Syafi’i adalah orang-orang Arab, yang sebelumnya bermigrasi ke India dan kemudian membawa Islam ke Nusantara. Teori ini mendapat dukungan dari Arnold yang mengungkapkan bahwa Islam yang berkembang dan tersebar di kawasan Nusantara adalah berpaham teologi Asy’ariyah dan bermazhab Syafi’i, melalui proses perdagangan antara pedagan yang berasal dari wilayah Gomandel dan Malabar yang telah tersebut dahulu, penduduknya menganut mazhab Syafi’i. hal yang sama di perkuat oleh Keijzer yang memandang Islam penduduk Mesir yang beraliran Asy’ariah dari bermazhab Syafi’iyah telah melakukan mobilitas sosial dalam bentuk migrasi dan perdagangan, yang telah sampai ke wilayah Nusantara dan mengembangkan mazhab Syafi’i. tapi sedikit berbeda dengan teori ini Niemann dan Hollander menyatakan perkembangan Islam di Nusantara berasal dari Hadramaut. Hal ini ada kaitanya bahwa di wilayah Hadramaut penduduknya adalah menganut paham Asy’ariyah dan bermazhab Syafi’i, sama halnya penduduk Nusantara. Faktor-faktor diataslah yang menyebabkan penduduk Nusantara menganut teologi Asy’ariyah dan  mazhab Syafi’iyah, dan mazhab ini telah menjadi asas dalam sistem pranata sosial masyarakat melayu dikawasan Nusantara.

#Bersambung: FAHAMAN TEOLOGI ASWJ

No Comments

    Leave a reply