PEMBUNUH ITU BERNAMA IBNU MULJAM 

Masih jelas terngiang, trajedi penganiayaan yang beberapa waktu lalu (27/01/2018) menimpa salah satu ulama K.H. Umar Basri, pengasuh pondok pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Bandung, Jawa Barat.

Dengan membabi buta orang tak dikenal memukuli dan menghajar Ceng Emon (sapaan akrab K.H. Umar Basri) ketika tengah khusyuk membaca wirid setelah solat subuh. Tak pelak darah segar pun mengucur di bagian wajah dan meninggalkan luka cukup serius sehingga secepatnya beliau dilarikan ke Rumah Sakit Cicalengka.

Motif apa gerangan si pelaku yang begitu tega menganiaya seorang kiai yang sudah sepuh, yang seharusnya ditakdimi karena keluasan dan kedalaman ilmu-ilmunya. Sungguh kebiadaban yang jauh dari norma agama dan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Tragedi di atas mengingatkan kembali pada masa-masa berdarah umat Islam, yaitu pada masa khulafaur rasyidin yang keempat, khalifah Ali bin Abi Thalib, bagaimana beliau direnggut nyawanya tanpa haq oleh sosok seorang muslim yang taat beribadah lagi hafal Al-Quran, hampir persis kejadian terjadi pada waktu kisaran salat subuh.

Siapakah sosok biadab itu, sehingga berani menghalalkan darah khalifah Ali bin abi Thalib? Lalu apakah ini pertanda telah lahir kembali dengan terang-terangan para radikalis masa awal-awal Islam? Generasi yang akrab dengan kekerasan dan mudah mengkafirkan (takfir), meski mempelajari ayat suci Al-Quran dan menelaah hadits?

Mengenal Sosok Ibnu Muljam

Dalam khasanah tarikh Islam, sosok Ibnu Muljam bukanlah sosok yang asing, dikenal baik bahkan oleh para sahabat.

Seperti dilansir islami.co, nama lengkap Ibnu Muljam adalah Abdurrahman bin ‘Amr bin Muljam al-Muradi. Tanggal dan tahun lahirnya tidak diketahui, namun dalam kitab al-A’lam karya al-Zarakly disebutkan bahwa ia pernah bertemu dengan masa-masa jahiliyah dan berhijrah pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab.

Ia juga merupakan salah satu orang yang mengikuti pembebasan Mesir (Fath Misra) dan setelah itu ia menetap di sana. Diceritakan oleh Syamsuddin ad-Dzahabi (748 H) dalam kitabnya Tarikhul Islam wa Wafayati Masyahiril A’lam bahwa Ibnu Muljam merupakan sosok ahli Al-Quran dan ahli fikih. Selain itu, ia merupakan orang yang gemar beribadah.

Semasa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, Ibnu Muljam merupakan seseorang yang sangat istimewa. Pasalnya, ia diberi kepercayaan oleh Umar bin Khattab untuk mengajar Al-Quran di masjid.

Bahkan, agar memudahkan ia mengajar Al-Quran, Umar bin Khattab memerintahkan Amr bin Ash untuk memperluas rumah Ibnu Muljam agar lebih dekat ke masjid agar ia mengajar Al-Quran dan fikih di sana. Rumah Ibnu Muljam juga dekat dengan Abdurrahman bin Udais al-Balawi, yakni orang yang nantinya termasuk otak pembunuhan Utsman bin Affan.

Ibnu Muljam sebenarnya adalah sosok pendukung khalifah Ali bin Abi Thalib. Sikap politiknya yang berbeda ketika terjadi perang Shiffin yang mengawali ketidakberpihakannya kepada khalifah Ali. Berawal dari Perang Shiffin, perang antara pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah pada tahun 37 H/ 648 M.

Ketika kelompok Ali hampir menang, Muawiyah menawarkan perundingan (tahkim) sebagai penyelesaian permusuhan. Ali menerima tawaran Muawiyah, sehingga menyebabkan 4000 pengikutnya memisahkan diri dan membentuk kelompok baru yang dikenal Khawarij (berasal dari kata kharaja artinya keluar/membelot), termasuk di dalamnya adalah Ibnu Muljam.

Khawarij menyatakan bahwa permusuhan harus diselesaikan dengan kehendak Tuhan, bukan perundingan (arbitrase). Karena melawan kehendak Tuhan, Khawarij kemudian mengkafirkan (takfir) kepada Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.

Khawarij juga mengkafirkan terhadap mayoritas umat muslim yang moderat dan menuduhnya sebagai pengecut. Pemikiran dan sikap keagamaan model Khawarij kemudian diteruskan oleh paham Wahabi di Arab Saudi pada abad Ke-12 H yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Lalu menyebar ke negara-negara Islam di dunia, termasuk Indonesia.

Mewaspadai Generasi Baru Ibnu Muljam 

Melihat track record awal Ibnu Muljam sebenarnya adalah sosok panutan ideal umat Islam, yang bercirikan hafal Al-Qur’an, ahli fikih, dan ahli ibadah. Namun, benih-benih radikalisme telah menjangkitinya bersama ribuan penganut khawarij lainnya, sehingga harus mengalami akhir hayat tragis meninggal dalam kondisi su’ul khotimah.

Radikalisme dalam bahasa Arab biasa disebut tathorruf lalu menjadi muthathorrifin, diartikan dengan istilah teror atau menciptakan bencana. Dominasi ini melahirkan berbagai macam fanatisme, mulai yang paling lunak sampai yang paling berat.

Adapun yang paling berat disebut hizbul takfiriyyah, yaitu kelompok yang selalu mengatakan bahwa golongan di luar dirinya adalah kafir. Oleh karena itu, jika sudah kafir, semuanya menjadi halal, baik saudara, harta, maupun kehormatannya (Adon Nasrullah Jamaludin, 2015: 162).

Terjadi cacat pikir dalam diri Ibnu Muljam dengan berpegang teguh pada dalil “lā hukma illa Allah” (tidak ada hukum yang harus ditaati kecuali hukum Allah) digunakan sebagai justifikasi untuk menolak keputusan tahkim dan membunuh khalifah Ali bin Abi Thalib.

Bahkan setelah membunuh khalifah Ali, sebelum ditangkap para sahabat, Ibnu Muljam juga masih sempat membaca ayat Al-Quran surat Al-Baqarah 2: 207, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. Ayat tersebut juga menjadi penguat persepsi Ibnu Muljam, bahwa tindakan yang dilakukannya adalah perbuatan haq di jalan Allah.

Radikalisme agama dalam Islam umumnya muncul dari pemahaman yang sempit, tertutup, dan tekstual terhadap teks-teks Al-Quran dan Hadits. Kaum radikal selalu merasa sebagai kelompok yang paling memahami ajarah Tuhan. Karena itu, mereka dengan mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda dengan dirinya dan menganggapnya sebagai sesat.

Rahimi Sabirin (2004: 5) menguraikan radikalisme adalah pemikiran atau sikap keagamaan yang ditandai: 1) sikap intoleransi, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, 2) sikap fanatik, yaitu selalu merasa benar sendiri, menganggap orang lain salah, 3) sikap eksklusif, yaitu membedakan diri dari kebiasaan umat kebanyakan, dan 4) sikap revolusioner, yaitu cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan.

Adapun radikalisme terdiri dari dua wujud, yaitu radikalisme dalam pikiran (fundamentalisme) dan radikalisme dalam tindakan (terorisme).

Kejadian yang menimpa K.H. Umar Basri meskipun masih dalam proses penyelidikan motif apa sebenarnya yang melatarbelakangi, terlepas dari motif gangguan jiwa atau lainnya, layak menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

Pada titik ini, umat Islam perlu selalu waspada, dikarenakan ulama adalah pewaris para Nabi, sehingga jangan sampai menjadi korban keganasan sejarah yang terulang, yang bisa jadi adalah generasi baru Ibnu Muljam, generasi neo-khawarij yang militan berbekal pemahaman agama tekstual dan tampilan yang syari’, namun dengan mudah membid’ahkan atau mengkafirkan orang-orang di luar dirinya. Bermodalkan teks suci Al-Quran dan Hadits dengan pemahaman yang dangkal, vonis sesat dan kafir begitu mudah terlontar dari mulut mereka.

Maka dari itu diperlukan komitmen semua pihak, terutama ulama dan umaro’ untuk membentengi umat Islam dari paham keagamaan yang radikal dan destruktif warisan Ibnu Muljam dan kawan-kawannya. Para ulama dengan cara mengenalkan dan membumikan kembali konsep Islam rahmatan lil-‘alamin melalui berbagai kegiatan dakwah, seperti kajian, ceramah agama, diskusi keagamaan, dan lainnya.

Yaitu Islam yang menekankan perdamaian, cinta kasih atau rahmah, terbuka, dan tanggung jawab untuk mewujudkan kebaikan bagi semua. Sesuai ayat Al-Quran surat Al-Anbiya’ (21): 107 yang artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil-‘alamin).”

Kemudian umaro’ (pemerintah) melalui wewenangnya memberikan regulasi agar sikap keagamaan dan organisasi keagamaan/kemasyarakatan yang cenderung radikal tidak diberikan ruang untuk tumbuh dan berkembang. Pemikiran radikal layaknya gulma jika tidak diberantas ke akar-akarnya akan mudah tumbuh dan menjalar ke setiap lini kehidupan masyarakat.

Maka selayaknya diapresiasi apa yang dilakukan pemerintah melalui terbitnya Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Oganisasi Kemasyarakatan dengan membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) beberapa waktu lalu, sebagai langkah antisipatif melindungi warganya dari sikap keagamaan yang radikal.

Juga diperlukan kerjasama yang sinergis dari seluruh lapisan masyarakat, utamanya lembaga pendidikan dari tingkat dasar, menengah pertama, menengah atas, perguruan tinggi, pondok pesantren, dan lainnya untuk bersama-sama mengkampanyekan Islam yang ramah, Islam yang rahmatan lil-‘alamin, memberikan rahmat dan ketenteraman bagi semesta alam. Sehingga terwujud tatanan masyarakat yang aman, tenteram, dan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr. Semoga. Wallahu A’lam.

Sumber:Qureta.com

No Comments

    Leave a reply