Pemimpin yang Baik dalam Perspektif Alquran

Bicara tentang kepemimpinan, hal ini jelas tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Semisal, seorang Ayah adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya, seorang anak yang diangkat sebagai ketua kelas ialah pemimpin bagi teman-teman di kelasnya, seorang kepala sekolah merupakan pemimpin bagi seluruh warga sekolah di tempat ia menjabat, dan bahkan setiap individu pun merupakan seorang pemimpin bagi dirinya masing-masing.

Terlepas dari itu, apa yang akan dibahas kali ini ialah tentang kepemimpinan pemerintahan dalam kacamata Islam yang tentunya tidak terlepas dari kitab suci al-Qur’an sebagai pedoman utama kehidupan setiap muslim.

Melalui al-Qur’an, Allah Swt. mengingatkan kita bahwa hakikat kekuasaan itu adalah milik Allah Swt. Dialah yang memberi kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia pula lah yang mencabut kekuasaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya. Seperti yang telah di firmankan Allah Swt. di dalam kitab suci al-Qur’an,

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya :

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang Mempunyai Kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali-Imran : 26)

Namun, sebelum bicara mengenai pemimpin yang baik menurut Islam, ada baiknya jika kita terlebih dahulu memahami konsep dari pemimpin itu sendiri. Pemimpin dalam Islam berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri. Seperti yang tertera dalam QS. An-Nisa ayat 59 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa : 59)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa ulil amri, umara atau penguasa adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain. Dengan kata lain, pemimpin itu adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin (yang sesungguhnya).

Berdasarkan ayat tersebut, maka substansi kepemimpinan dalam perspektif Islam merupakan sebuah amanah yang harus diberikan kepada orang yang benar-benar “ahli”, berkualitas, dan memiliki tanggungjawab yang jelas dan benar serta adil, jujur dan bermoral baik.

Jika menelisik jejak kepemimpinan Rasulullah saw., ada 4 sifat mendasar yang harus tertanam dengan baik pada jiwa-jiwa pemimpin, yaitu

1.Shiddiq (Benar)

Seorang pemimpin harus selalu berusaha menempatkan dirinya pada posisi benar, memiliki sifat benar, berada di pihak kebenaran, dan memperjuangkan kebenaran dalam lingkungan yang menjadi tanggungjawabnya. Ia akan selalu berdiri tegak di atas kebenaran, bergerak mulai dari titik yang benar, berjalan di atas garis yang benar, dan menuju titik yang benar, yaitu ridha Allah Swt.

2.Amanah (Tanggung Jawab)

Berarti jujur, penuh kepercayaan, dan penuh tanggungjawab. Apabila mendapat suatu tanggungjawab, ia kerahkan segala kemampuannya untuk melaksanakan tugas yang dipikulnya, ia yakin bahwa dirinya mas-ul (harus mempertanggungjawabkan) kepemimpinannya. Pemimpin yang amanah juga memiliki sifat tabah, sabar, dan tawakkal kepada Allah Swt.

3.Tabligh (Menyampaikan)

Seorang pemimpin harus memiliki keterbukaan dalam berbagai hal, tidak ada sifat tertutup pada dirinya, karena ketertutupan akan menimbulkan keraguan pihak lain, dan melahirkan fitnah dalam kepemimpinannya.

4.Fathanah (Cerdik)

Seorang pemimpin memiliki kemampuan berfikir yang tinggi, daya ingat yang kuat, serta kepintaran menjelaskan dan mempertahankan kebenaran yang diembannya. Seorang pemimpin haruslah basthah fi al-ilmi (memiliki pengetahuan yang luas) dan pemahaman yang benar mengenai tugasnya, kemampuan managerial yang matang, cepat dan tepat dalam menetapkan suatu keputusan, kemampuan yang tinggi dalam menetapkan makhraj (solusi) dari suatu kemelut dalam lingkup tanggungjawabnya.

Jadi, pemimpin seperti apa yang sebaiknya diangkat di era seperti sekarang ini? Secara umum al-Qur’an sudah memberikan gambaran kriteria pemimpin yag harus dipilih, yaitu seperti yang ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Artinya :

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS. Al-Anbiya : 105)

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply