PENDAMAIAN

“Perdamaian “ atau “damai”, dalam bahasa Al-Quran, biasa ditunjuk dengan kata salam. Kata ini terulang dalam Al-Quran sebanyak 42 kali, dalam berbagai konteks. Di luar Al-Quran pun, kata ini sangat popular, bukan saja dalam literature agama atau kalangan agamawan, tetapi juga di kalangan politisi. Bahkan, di tingkat dunia, ditemukan ajakan-ajakan untuk menegakkan perdamaian. Namun, entah mengapa, kata tersebut hanya mudah ditemukan dalam ucapan dan tulisan, tetapi amat sulit dilihat dalam kenyataan. Kita memiliki doa yang diajarkan Nabi s.a.w. setiap selesai solat, “Allahumma Anta al –Salam wa minka al-salam wa ilaika ya udu al-salam. Ahyina Rabbana bi al-salam wa adkhilna al-jannata dar al-salam (Ya Allah, Engkaulah Yang Maha damai, dari-Mu bersumber kedamaian dan kepada-Mu kembali kedamaian. Hidupkanlah kami dalam kedamaian, dam masukkanlah kami ke syurga, negeri yang penuh kedamaian)”. 

Demikian juga kita temukan ungkapan popular yang berbunyi, “Kemuliaan bagi Tuhan di tempat Yang Mahatinggi, dan semoga damai di bumi.” Akan tetapi, keduanya belum mempan mendorong terciptanya perdamaian di persada bumi ini. Apakah itu kerana kita tidak memahami substansi maknanya?Boleh jadi.

Damai dan perdamaian atau salam menjadi tujuan hidup setiap Muslim kerana Allah mengajak ke Dar Al-Salam (QS Yunus [10]:25). Bahkan Allah-yang merupakan pangkalan tempat Muslim bertolak, serta pelabuhan tempatnya bersauh-adalah Al-Salam (QS Al-Hasyr[59]:23)

Tanpa Al-Salam, yakni Allah S.W.T. atau tanpa salam yang bererti “damai” dalam jiwa manusia serta dalam interaksinya, maka segalanya akan kacau rosak, bahkan kehidupan akan terhenti. Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rosak binasa (QS Al-Anbiya’[21]:22), dab Allah sekali-kali tidak tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya. Kalau demikian (ada tuhan beserta-Nya), pastilah masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebahagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebahagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu (QS Al-Mu’minun [23]:91).

Damai yang diharapkan Islam, bukan hanya yang bersifat lahiriah, tetapi juga batiniah, termasuk menghindarkan hati dari segala aib dan kekurangan, dengki dan hasud serta segala macam kehendak buruk terhadap pihak yang lain. Dan, seperti tulis Al-Ghazali, “Siapa yang selamat hatinya dari hal-hal tersebut, maka akan selamat pula anggota badannya dari segala kejahatan dan selamat pula hatinya dari al-intikas (kejungkir-balikkan) dan al-in’ikas (ketolak-belakangan), dan dengan demikian dia akan datang menghadap Allah dengan hati yang salim (selamat), seperti dilukiskan oleh QS Al-Syu’ara (26):88-89, Pada hari itu tidak berguna harta dan anak-anak, tetapi yang berguna adalah yang datang membawa hati yang salim (selamat dari dosa dan noda).

Yang dimaksud oleh Al-Ghazali dengan al-intikas adalah orang yang akalnya ditawan oleh syahwat dan amarahnya kerana yang seharusnya ditawan oleh akal serta tunduk kepadanya. Jika terjadi in’ikas (ketolakbelakangan), maka pasti pula terjadi intikas (kejungkir-balikkan). Tiada salam bila orang yang memerintah menjadi yang orang diperintah, atau raja menjadi hamba sahaya. Tidak juga wajar seseorang menyandang sifat salam dan Islam kalau sesamanya tidak selamat dari gangguan lidah dan tangannya. “Muslim adalah yang orang-orang Muslim (lainnya) selamat dari gangguan lidah dan anggota badannya,” demikian sabda Nabi s.a.w.

Membaca, menghayati dan mengamalkan petunjuk-petunjuk Al-Quran, adalah jalan meraih kedamaian. Sebab, Al-Quran adalah kitab petunjuk yang diturunkan oleh Allah S.w.t. yang menyatakan diri-Nya sebagai, Mengajak ke negeri yang damai (QS Yunus[10]:25). Oleh kerana itu pula, Al-Quran diturunkan Allah pada Lailatul Qadar yang dilukiskan sebagai, Salamun hiya hatta mathla’il fajr (Damai dan keselamatan menyertainya sampai terbitnya fajar) (QS Al-Qadr [97]:5), yakni fajar matahari yang menyingsing ketika itu, atau fajar hidup manusia di akhirat kelak. Ini kerana, “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan turun juga Al-Ruh (Al-Quran atau malaikat Jibril) denganizin Tuhannya untuk mengatur segala urusan yang bersifat salam/kedamaian (QS Al-Qadr [97]:4).

Kalau seseorang tidak damai dalam hidupnya di dunia, maka pasti dia akan memerlukan kedamaian akhirat. Akan tetapi, ada tempat di mana tidak ada kedamaian. Orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, menyerah (memerlukan kedamaian, dan mengharapkan tidak diseksa, sambil berkata), “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa pun yang kamu kerjakan.” (QS Al-Nahl[16]:28), dan Mereka menyatakan al-salam (ketundukkannya) kepada Allah pada hari itu, dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan (QS Al-Nahl [16]:87).

Demikian,wallahu a’lam.

No Comments

    Leave a reply