PENGACAU NEGARA

Jika kita bandingkan gaya hidup antara golongan kaya  dan dengan golongan miskin yang sibuk bekerja di luar rumah bagi mencari nafkah  hidup maka dari kedua sisi ini golongan manakah yang lebih berpotensi menimbulkan kekacauan dalam Negara? Inilah satu pertanyaan yang pernah dibentangkan oleh penulis buku Nicollo Machiavelli dalam bukunya Discorsi. Pertanyaan ini dijawabnya sendiri dengan mengatakan bahawa yang lebih mungkin menimbulkan kekacauan dan mengancam kestabilan Negara secara logik adalah golongan yang lebih rakus kepada kekuasaan.

Lalu, siapakah yang dimaksud dengan golongan yang rakus dengan kekuasaan itu? kata Machiavelli, mereka adalah orang-orang yang memperoleh, mempertahankan, dan memperluas kekuasaanya dengan cara apapun, termasuk dengan melanggar semua aturan dan norma-norma etika bernegara yang ada. Pada umumnya mereka adalah golongan orang-orang kaya yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berfoya-foya daripada bekerja keras membanting tulang untuk mencari nafkah hidup.

Machiavelli yang sangat terkenal dengan teori “tujuan menghalalkan cara” itu bertutur tentang bahaya sifat rakus kepada kekuasaan terhadap kestabilan suatu negeri. Tetapi mungkin ini juga sebagai satu peringatan kepada mereka yang memiliki salah satu bentuk penyakit psikologi ini. Maka perlu berwaspadalah bahawa dirinya berpotensi besar untuk menimbulkan  kekacauan, atau bahkan huru-hara politik yang berpangkal dari dalam tubuh mereka itu sendiri. Dengan dasar kemahuan yang sangat tinggi sering membuat seseorang lupa diri dan terjerumus kepada suasana kejiwaan haus kepada kekuasaan, sehingga apapun boleh dilakukan, termasuk mengadu domba orang lain yang pada akhirnya akan mengganggu kestabilan dan munculnya kekacauan.

Akan tetapi, siapakah sesungguhnya yang menjadi penyebab dari terjadinya kekacaun? Orang kaya yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang atau orang-orang yang haus kepada kekuasaan dengan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan itu?

Penulis menjelaskan bahawa dua sifat manusia seperti diatas bertemu pada satu sifat yang sangat berbahaya, lebih-lebih lagi untuk seorang pemimpin yang berkeinginan untuk menikmati hidup sepuas-puasnya dan selama-lamanya dalam kekuasaannya.Sifat tersebut sering di panggil dengan sebutan Hedonisme. Sifat inilah yang akhirnya menjadi kata kunci sebagai asas lahirnya kekacauan di tengah masyarakat. Kerana, seorang hedonist samada ia tokoh masyarakat atau seorang pejabat atau pemimpin  tidak mahu kehilangan jawatan ini yang pernah ia rasakan.

Walau bagaimanapun orang-orang seperti ini akan senantiasa berupaya mempertahankan gaya dan pola hidupnya. Untuk memenuhi keinginan tersebut, segala cara akan dilakukan termasuk melanggar hak-hak orang lain. Pelanggaran dalam bentuk inilah yang akhirnya boleh menimbulkan sebuah konflik, dan perpecahan, dan hal ini pulalah yang membawa nilai negatif terhadap masyarakat seperti di bahas pada awal tulisan ini. Maka, semakin tinggi kecenderungan gaya hidup seorang hedonis dalam masyarakat, semakin tinggi pula kemungkinan munculnya kerusuhan dan kekacauan sosial di tengah tengah masyarakat itu.

Sebagai warganegara perkara inilah yang harus kita waspadai dalam membina kehidupan berbangsa dan bernegara. Bila hal itu tidak segera di selesaikan maka ianya akan berkembang menjadi budaya atau tradisi suatu negeri, sehingga akhirnya muncullah bibit-bibit konflik di tengah tengah kita semua. Oleh sebab itu, tiada kata kunci yang terlebih bijak untuk digunakan selain menanamkan rasa takut kepada yang maha kuasa sebagai pengawal dari setiap niat cita-cita yang sentiasa tersemat  di setiap diri manusia. Justeru marilah kita selalu memohon kepada Ilahi, agar kita selalu terhindar dari segala musibah yang akan menimpa kita.

Catatan: Prof. Dr. H. Alaiddin Koto, MA.

No Comments

    Leave a reply