Pengertian Islam Sebagai Rahmatan Lil-‘âlamîn

Ungkapan ‘Islam sebagai rahmatan lil-‘âlamîn’ sebenarnya merujuk pada firman Allah Swt dalam surat ke 21 al-Anbiyâ ayat 107: “Wa mâ arsalnâka illâ rahmatan lil-‘âlamîn”. Artinya: “Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”.

Secara tegas bukan terma ‘Islam’ yang disebutkan dalam ayat itu, tapi dhamîr kâf yang berarti ‘engkau’, ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw selaku mukhâthab atau mitra bicara.

Kemudian, adanya huruf mâ nafi yang mendahului huruf illâ pada ayat tersebut mengandungi consequences uslûb al-hashr, atau adanya makna ‘pembatasan’ pada redaksi ayat. Maksudnya, Allah Swt sebagai sumber rahmah mengutus Muhammad Saw dalam rangka betul-betul ‘hanya’ sebagai rahmah bagi sekalian alam.

Lantas, jika pada ayat tersebut yang dimaksud adalah Nabi Muhammad Saw, apakah secara otomatik akan melahirkan kesimpulan ‘Islam sebagai rahmatan lil-‘âlamîn’? Bentar dulu, ada bahasan yang lebih prioritas.

Terma rahmat atau rahmah disebut sebanyak 145 kali dalam Al-Quran. Ibnu Faris menyebutkan bahwa kata yang terdiri dari huruf ra, ha dan mim, pada dasarnya menunjuk kepada arti ‘kelembutan hati’, ‘belas kasih’, dan ‘kehalusan’.

Sedangkan Al-Ashfahâni menyebutkan bahwa rahmah adalah belas kasih yang menuntut kebaikan yang dirahmati.

Kata rahmah yang digunakan dalam Al-Quran hampir semuanya menunjuk kepada Allah Swt, sebagai subjek utama pemberi rahmah.

Para ulama menyimpulkan bahwa rahmah Allah Swt kepada makhluk-Nya terbagi dua, yaitu rahmah umum dan rahmah khusus. Rahmah umum maksudnya dengan sifat rahmân-Nya, Allah Swt memberikan karunia rahmah-Nya kepada semua makhluk-Nya di dunia ini tanpa kecuali. Sedangkan rahmah khusus ketika dengan sifat rahîm-Nya, Allah Swt memberikan rahmah-Nya secara khusus kepada orang-orang yang beriman dan taat kepada-Nya di akhirat kelak.

Selanjutnya, term al-‘âlamîn adalah bentuk plural dari kata ‘âlam. Di dalam Al-Quran hanya ada kata ‘âlamîn yaitu dalam bentuk pluralnya. Kata ini terulang sebanyak 73 kali tersebar di dalam 30 surat.

Kata ‘âlamîn diartikan oleh sebagian ulama sebagai kumpulan makhluk Tuhan yang berakal atau memiliki sifat-sifat yang mendekati makhluk berakal (tumbuh, bergerak dan merasa).

Beza lagi apa yang dikatakan oleh teolog, filosof muslim dan kosmolog modern tentang makna kata ‘âlamîn/’âlam. Kaum teolog mendefenisikan alam sebagai segala sesuatu selain Allah Swt (kullu mâ siwallâh), yaitu meliputi makhluk hidup dan benda mati, yang berjasad ataupun yang tidak berjasad (ruh), golongan jin dan manusia, yang beriman maupun yang kafir, di dunia dan di akhirat. Kaum filosof cenderung mendefenisikannya sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari materi (mâddah) dan bentuk (shurah) yang ada di bumi dan di langit. Sedang kosmolog modern menggambarkan alam sebagai susunan beribu-ribu galaksi (galaksi: gugusan bermiliar-miliar bintang).

Mari kembali ke laptop. Jadi apa maksud Nabi Muhammad Saw rahmatan lil-‘âlamîn, diutus menjadi rahmah bagi seluruh alam?

Nabi Muhammad Saw dikatakan rahmah, sebab datang dengan risalah Tuhan. Datang dengan Al-Quran berisi petunjuk dan syariat. Dimana petunjuk dan syariat tersebut semata-mata demi kebahagiaan dan kemaslahatan umatnya, di dunia maupun di akhirat. Menjadi rahmah bagi dirinya sendiri sekaligus bagi selainnya; yang mengimani mahupun yang mengkufurinya.

Dengan demikian, Islam pun sebagai rahmatan lil-‘âlamîn. Mengapa?

Sebab Nabi Muhammad Saw adalah Islam dan Islam adalah Nabi Muhammad Saw. Sebab Rasulullah Saw datang dengan membawa Islam; keselamatan.

Islam menjadi rahmah dan kasih sayang bagi sekalian alam. Rahmah bagi yang menerima dan yang mengimaninya, karena menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Juga menjadi rahmah bagi yang kafir atau yang mengkufurinya sebab tiada paksaan untuk ber-Islam.

Dalam Islam, mengingkari dan tidak mengakui Allah Swt sebagai Tuhan yang Esa; sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah, adalah keburukan tertinggi. Oleh karenanya orang yang ingkar alias kafir dicap sebagai ‘aduwwullâh, musuh Allah Swt.

Kita ketahui, umat-umat terdahulu diazab dan disiksa di dunia (seketika itu juga) sesuai kadar dosa dan pembangkangannya kepada Allah Swt. Namun sangat sayang-Nya Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, segala bentuk azab dan siksaan itu ditangguhkan hingga hari kiamat bahkan kepada yang kafir sekalipun.

Dengan kata lain, Islam datang dengan rahmah dan kasih sayang. Mahu menerima dan mengimaninya, alhamdulillah. Mereka itulah golongan yang beruntung dan selamat, di dunia dan di akhirat. Jika enggan dan mengingkarinya? Terserah, bukan paksaan kok. Namun bagi yang ingkar, azab dan siksaan Allah Swt sudah siap menanti di akhirat.

Demikian, makna kasih sayang Islam. Islam rahmatan lil-‘âlamîn. Semoga kita semua senantiasa dalam rahmat dan petunjuk-Nya, amin. Wallahu a’lam.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply