PENTINGNYA PENDIDIKAN (BALAJAR DAN MENGAJAR) DALAM AL-QUR’AN

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi terhadap generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan diistilahkan sebagai education.

Istilah education, dalam bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Latin educare yang berarti memasukan sesuatu, barangkali bermaksud memasukan ilmu kepada seseorang. Dalam bahasa Arab ada beberapa istilah yang bisa dipergunakan dalam pengertian pendidikan.

Para ahli mengatakan bahwa diartikan sebagai bagian kecil dari al-tarbiyah al-‘aqliyah, yang bertujuan memperoleh ilmu pengetahuan dan keahlian berfikir.

Biasanya digunakan Ta’lim sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala yang berbunyi: “Dan dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah: 31).

Lalu kata tarbiyah dipergunakan untuk pendidikan. Dalam lisan al-arab mengatakan bahwa kata al-tarbiyah ini memiliki tiga akar kata dasar, yang semuanya memiliki arti yang hampir sama, yaitu: rabbaa-yarubbuu-tarbiyatan yang bermakna tambah (zada) dan berkembang, rabbi-yurabbi-tarbiyatan yang bermakna tumbuh (nasyaa) dan menjadi besar, rabba-yurabbi-tarbiyatan yang bermakna memperbaiki (ashlaha).

Adapun surah-surah tentang mengajar dan belajar, di antaranya QS. Al-Alaq ayat 1-5: (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, (3) Bacalah, dan Tuhanmu lah yang mahamulia, (4) Yang mengajar manusia dengan pena, (5) Dia mengajarkan manusia yang tidak mengetahuinya.

Dalam tafsir Al-Maraghi, ayat pertama secara harfiah ayat tersebut dapat diartikan jadilah engkau seorang yang dapat membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang telah menciptakanmu, walaupun sebelumnya engkau tidak dapat melakukannya.

Ayat kedua menjelaskan bahwa dialah (Allah) yang menjadikan manusia dari segumpal darah menjadi makhluk yang paling mulia, dan selanjutnya Allah memberikan potensi (al-qudhrah) untuk berasimilasi dengan segala sesuatu yang ada didalam jagat raya yang selanjutnya bergerak dengan kekuasaan-Nya, sehingga ia menjadi makhluk yang sempurna, dan dapat menguasai bumi dengan segala isinya.

Ayat ketiga menjelaskan bahwa pengulangan kata iqra’ didasarkan pada alasan bahwa membaca itu tidak akan membekas dalam jiwa kecuali dengan diulang-ulang dan membiasakannya sebagaimana berlaku dalam tradisi. Kata iqra’ mengandung arti yag amat luas seperti mengenali, mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan, menganalisa, menyimpulkan dan memmbuktikan. Secara keseluruhan arti tersebut, terkait dengan proses mendapatkan dan memindahkan ilmu pengetahuan.

Pada ayat keempat menjelaskan bahwa dialah Allah yang menjadikan qalam sebagai media yang digunakan manusia untuk memahami sesuatu, sebagaimana mereka memahami melalui ucapan.

Ayat kelima diantara bentuk kepemurahan Allah adalah Ia mengajari (memberi kemampuan) manusia mampu menggunakan alat tulis. Manusia bisa menuliskan semuannya sehingga dapat dibaca oleh orang lain dan generasi berikutnya. Dengan demikian, manusia dapat mengetahui apa yang sebelumnya belum diketahui, artinya ilmu itu akan terus berkembang. Demikianlah besarnya fugsi alat tulis.

Kemudian QS. Al-Ghasyiah ayat 17-20: “(17) Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan, (18) dan langit, bagaimana ia ditinggikan? (19) dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? (20)dan bumi bagaimana ia dihamparkan?.”

Ayat 17 Allah berfirman seraya memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk melihat kepada makhluk ciptaan-Nya yang menunjukkan kekuasaan dan keagungan-Nya. Sesungguhnya unta adalah ciptaan yang sangat menakjubkan dan mempunyai kekuatan yang dahsyat. Unta juga memiliki watak sabar dalam menghadapi beratnya perjalanan, haus dan lapar. Dari ayat ini dihubungkan dengan mengajar dan belajar karena setiap orang yang mengajar dan belajar harus memiliki kesabaran dan dapat menahan beban yang begitu besar seperti yang dijelaskan pada ayat tersebut dengan memikirkan penciptaan unta.

Ayat 18 yang dimaksud dengan ditinggikan adalah pengaturan benda-benda yang berada di atas kepala kita, seperti matahari, bulan dan bintang-bintang masing-masing dalam garis peredarannya, tidak pernah menyimpang dan tidak pernah pula rusak tatanannya.

Ayat 19 Menjadikannya tertancap kuat sehingga benar-benar kokoh dan tangguh agar bumi beserta penghuninya tidak menjadi goyang. Gunung-gunung dijadikan tempat berlindung. Alangkah hebat dan dahsyatnya muka bumi ini disapu angin, jika tidak ada gunung menjadi pancang penyanggah deru angin.

Ayat 20 maksudnya bagaimana bumi ini dibentangkan, dihamparkan, dan dipajangkan. Dengan demikian, Allah telah mengingatkan bukti dari apa yang sering kita saksikan. Kita disuruh memandang, atau merenungkan. Bukan semata-mata melihat dengan mata, melainkan membawa apa yang terlihat oleh mata kedalam alam fikiran dan difikirkan itulah yang disebut memandang.

Telah kita ketahui bahwa dalam Al-Qur’an jelas tertulis perintah untuk menuntut ilmu, maka kita sebagai penuntut ilmu harus selalu semangat dalam menuntut ilmu. Pendidikan merupakan usaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan kualitas sumber daya manusia baik didapat secara formal maupun nonformal, dan di dalam pendidikan pun selalu berkembang ilmu pengetahuan mengikuti majunya zaman.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply