PERJALANAN EMPAT PENCINTA NABI

Empat lelaki mulia dengan pengembaraan agung dan hikmah yang boleh diperolehi dari mereka.  Sebuah ibrah besar yang sering dilupakan umat Islam.

Imam Abu Hanifah

Lelaki mulia yang ini bukan orang Arab.  Dia Ajam, lahir dari ayah keturunan Persia, tepatnya berdarah Afghanistan.  Namanya Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Mah, tapi sejarah lebih mengenalinya dengan panggilan Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi.  Lahir pada tahun 80 Hijriah, 10 tahun setelah wafatnya Rasulullah s.a.w.

Pada umur ke 16, Imam Hanafi muda menunaikan haji ke tanah suci.  Begitu muda pergi menunaikan ibadah haji dengan satu niat suci, membersihkan dosa-dosa dan mengikat janji suci dengan Allah untuk melakukan perbuatan mulia.  Dari Kufah di Iraq, Imam Hanafi memulai perjalanannya.

Dalam perjalanan pulang hajinya, Imam Hanafi muda mendapat mimpi yang membuatnya sangat gundah. Ia bermimpi, di Madinah diriya membongkar makam Rasulullah dan mengeluarkan jasad beliau yang suci.  Mimpi ini membuatnya tidak tenang. Di Basrah ia mencari seorang ulama yang terkenal Ibnu Sirin, penakwil mimpi yang hidup pada zaman itu.

Melalui bibir Ibnu Sirin, Imam Hanafi mendapatkan erti mimpinya. “Jika mimpi itu benar, hendaknya pemilik mimpi itu menghidupkan sunnah Rasulullah s.a.w. dan ia akan mendapatkan limpahan ilmu yang belum pernah diperolehi oleh sesiapapun,” ungkap Ibnu Sirin pada Imam Hanafi muda.

Hati yang gundah gulana itu kini berganti rasa gembira tiada tara.  Mimpi inilah yang mendorong Imam Hanafi untuk mempelajari ilmu agama, menghadiri halaqah para ulama dan berburu ilmu kepada siapa saja yang ia anggap mampu.  Semasa hidupnya, Imam Hanafi sempat mendapat ilmu dari empat orang sahabat nabi.  Anas bin Malik dan Abdullah bin Abi Aufa di Kufah, Sahal bin Sa’ad di Madinah dan Abu Thufail bin Watsilah di Makkah. Imam Abu Hanifah juga sempat berguru pada generasi tabi’in senior semasa hidupnya.

Tempat-tempat jauh yang ditinggali para ulama besar didatanginya untuk berguru, sampai ia berumur 21 tahun dan merasa siap untuk memberi fatwa sendiri.  Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Imam Abu Hanifah menuju Basrah, siap menjawab seluruh pertanyaan umat.

Lalu mereka mengajukan pertanyaan, tetapi aku tidak memiliki jawapan.  Hal ini memaksa aku untuk kembali dan tidak meninggalkan Hammad bin Abi Sulaim sampai akhir hayatnya.  Aku menjadi muridnya selama 18 tahun,” terang Imam Hanafi tentang peristiwa yang juga mengubah dirinya ini.”

Hammad bin Sulaim adalah seorang generasi tabi’in yang sangat terhormat.  Ayahnya adalah seorang pembantu dari Abu Musa al Asy’ari, sahabat nabi.  Sang guru sering mengajak Imam Hanafi pergi ke halaqah-halaqah para ulama yang mulia, para ahli fiqih, dan hakim-hakim yang adil. Dari mereka Imam Abu  Hanifah belajar langsung dari sumbernya.

Selain dikenal sebagai ahli hadis dan ilmu agama, Imam Abu Hanifah juga dikenal sebagai seorang pembuat dan pedagang kain sutera bermutu tinggi. Kerana itu, Imam Abu Hanifah termasuk salah satu ulama yang terbilang cukup kaya.

Selain terkenal sebagai ulama yang kaya dari imam empat mazhab, Imam Abu Hanifah juga termasuk salah seorang ulama yang berhadap-hadapan dengan penguasa.  Pernah merasakan penjara, disebat dan dihukum dera.  Alasan Imam Abu Hanifah dihukum adalah sering kali kerana sikap teguhnya memegang dan membela kebenaran. Fatwa yang tidak boleh dipengaruhi oleh kekuasaan.

Pernah suatu hari, seorang qadi di kota Kufah menjatuhkan hukum had dua kali pada seorang perempuan gila. Sebabnya, sang perempuan pernah memaki seorang lelaki yang dijumpainya di jalanan, “Hai anak dua penzina.”  Kalimat anak dua penzina itulah yang menyebabkan qadi kota Kufah menjatuhkan hukuman had sampai dua kali pada perempuan gila ini.

Imam Abu Hanifah yang mendengar peristiwa hukum ini segera memberikan respon. “Sang hakim telah melakukan kesalahan, enam jenis banyaknya,” ujar Imam Abu Hanifah.

Kesalahan pertama, sang hakim menjatuhkan hukuman pada seorang yang gila,. Padahal  orang gila tidak boleh dikenakan hukuman had. Kedua, hukuman had dilakukan di masjid. Padahal hukuman had tidak boleh dilakukan di dalam masjid. Ketiga, perempuan gila ini dihukum sambil berdiri. Padahal perempuan seharusnya menerima hukuman had dalam posisi duduk.  Keempat,dua kali hukuman had.  Kalaupun memenuhi syarat, seharusnya hukuman had adalah satu.  Kelima, hukuman ini dilaksanakan tanpa hadirnya dua orang yang disebut penzina.  Keenam, dua hukuman had tak boleh dilaksanakan dalam waktu yang sama. Hukuman had yang satu boleh dilakukan setelah luka dari hukuman had pertama mengering.

Qadi Kufah yang merasa tak terima digugat keputusan hukumnya, mengadu pada walikota Kufah. Segera, setelah walikota mendapatkan pengaduan, ia melarang Imam Abu Hanifah untuk mengeluarkan fatwa.

Sesungguhnya tak ada kekhuatiran dalam diri Imam Abu Hanifah atas pelarangan fatwa. Satu-satunya yang membuatnya khuatir adalah hilangnya ilmu yang haq jika kondisi seperti ini terus menerus terjadi.  “andaikata tidak ada kekhuatiran akan hilangnya ilmu Allah, nescaya aku tidak akan berfatwa kepada siapa pun,” tambahnya.

Imam Abu Hanifah mengerti benar apa ertinya umur.  Kerananya ia memanfaatkan waktunya semaksimal mungkin.  Untuk mengejar ilmu dan mengajar ilmu.  Kegiatan harinya, boleh tergambarkan dari penuturan seorang muridnya.  “Aku pernah datang ke masjid Abu Hanifah.  Aku melihatnya memimpin solat Subuh dan memimpin majlis sampai waktu Dhuha.  Lalu menjelang Zohor, Abu Hanifah akan tidur sebentar. Setelah memimpin solat Zohor, Abu Hanifah akan memimpin majlis sampai Asar. Selepas solat Asar, ia kembali memimpin majlis sampai Maghrib.  Selepas Maghrib Abu Hanifah memimpin majlis sampai Isyak.  Dan selepas solat Isyak, setelah orang-orang tenang beristirahat, Abu Hanifah akan datang kembali ke masjid dan mendirikan solat sampai menjelang solat Fajar.”

Fitnah-fitnah besar mendatangi Imam Abu Hanifah di akhir-akhir hidupnya. Khalifah al Manshur memberi jawatan sebagai qadi kota Baghdad kepada Imam Abu Hanifah, tapi ahli fiqih ini menolaknya. Kerana ada beberapa hal yang tidak disetujui oleh Imam Abu Hanifah pada penguasa dari Bani Abasiyyah ini.  Pada umur 70 tahun, Imam Abu Hanifah dimasukkan ke dalam penjara.  Di penjara ini akhirnya Imam Abu Hanifah menghabiskan umurnya.

Di dalam penjara Imam Abu Hanifah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 7000 kali.  Imam Abu Hanifah meninggal pada tahun 150 Hijriah dalam keadaan sujud  kepada Allah s.w.t.  Di hari Imam Abu Hanifah meninggal dunia, di belahan dunia yang lain lahir seorang bayi kecil yang kelak dunia akan mengenalinya dengan sebutan Imam Syafi’e.  Sebuah bukti, Allah akan menjaga ilmu yang haq dengan kebesaran-Nya.

Di hari kematiannya, Imam Abu Hanifah disolatkan oleh enam imam dengan makmum yang berbeza, kerana begitu besar jumlah jemaah yang ingin mengucapkan salam perpisahan.  Di Khaizuran, Baghdad, jasad Imam Abu Hanifah dikebumikan.  Dan selama 20 hari, orang-orang yang mencintainya tak putus-putus mendirikan solat ghaib untuknya.

Imam Malik

 Pada tahun 93 Hijriah, lahirlah seorang anak laki-laki dari keluarga Anas yang tinggal di kota nabi, Madinah al-Munawarrah.  Kelak, bayi ini membesar sebagai anak yang energik dan kuat.  Sampai pada umur 10 tahun, terus menerus ia disibukkan dengan mempelajari ilmu bela diri dan bermain.

Suatu malam, selepas solat Isyak, ayahnya mengumpulkan anak-anaknya dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berkaitan ilmu agama.  Semua anak menjawab pertanyaan sang ayah dengan tepat, tapi tidak dengan anak yang satu ini.  Ia tidak boleh memberikan jawapan yang sempurna.  Sang ayah tampak marah dan kecewa.

Kau terlalu asyik dengan merpatimu dan lalai menuntut ilmu yang akan menyelamatmu,” ujar sang ayah dengan nada keras.  Perkataan sang ayah, membuatnya tak boleh tidur. Risau, gelisah dan tidak tenang, itulah yang dirasakan anak muda yang kelak dalam sejarah umat Islam mengenalnya sebagai pendiri mahzab, Imam Malik.

Semalaman ia renungkan perkataan sang ayah.  Sampai Subuh, tak sekejap pun ia boleh memejamkan mata.  Maka, selepas solat Subuh, Imam Malik muda menemui ibunda menuturkan kegundahannya.  “Ibu, in-shaa Allah setelah solat Subuh aku mahu pergi menuntut ilmu,” ujarnya.

Sang ibu gembira dan bahagia mendengarnya.  “Kalau begitu, kemarilah.  Pakailah pakaian para pencari ilmu,” kata ibunda. Kemudian Imam Malik dipakaikan pakaian yang paling bagus yang dimilikinya.  Memakai serban yang paling bagus yang pernah ia punya.  Dan sang ibu tidak lupa menyapu minyak wangi di tubuhnya. Ilmu adalah sesuatu yang mulia, maka datangilah ilmu dengan kemuliaan yang kita punya.

Selepas solat Subuh, Imam Malik muda lalu melangkahkan kakinya menuju rumah Ibnu Hurmuz, seorang yang masuk dalam generasi tabi’in, orang-orang setelah generasi sahabat. Ibnu Hurmuz adalah seorang yang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam bidang ilmu agama di Madinah.  Namanya selalu dijadikan rujukan, setiap masalah.  Dan Imam Malik menimba ilmu darinya.

Imam Malik belajar kepada Ibnu Hurmuz selepas solat Subuh sampai masuk waktu Dhuha.  Bahkan, kadang Imam Malik masuk ke rumah Ibnu Hurmuz di pagi buta dan tidak keluar sampai malam sudah gelap gulita.  Proses menuntut ilmu seperti ini dilakukan oleh Imam Malik selama 13 tahun tanpa putus.

Selain kepada Ibnu Hurmuz, Imam Malik juga mempelajari hadis dan ilmu agama kepada seorang tabi’in lain bernama Nafi, seorang pembantu Abdullah ibnu Umar, salah seorang sahabat nabi, anak dari Umar bin Khattab.  Nafi dalam ilmu hadis ditempatkan pada posisi yang sangat penting.  Misalnya, Imam Bukhari pernah mengatakan, “Sanad yang paling sahih adalah dari Malik, dari Nafi, dari Ibnu Umar dan dari Rasulullah s.a.w.”

Imam Malik sering kali mendatangi Nabi ketika siang hari, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadanya.  “Bagaimana pendapat Ibnu Umar tentang hal ini dan hal itu.”

Tak harus mengenakan busana yang terbaik, Imam Malik juga melengkapi dirinya dengan inovasi-inovasi terbaru yang ia fikirkan untuk memudahkan ia mengingat ilmu.  Ia membuat bantal yang berisi jerami sebagai tempat duduk saat halaqah.  Terkadang bantal ini beralih fungsi sebagai penahan dingin di musim dingin.  Imam Malik juga selalu membawa tali yang ia ikat dengan simpul-simpul. Jumlah simpul sama dengan jumlah sanad dalam sebuah hadis.  Satu simpul mewakili satu sanad, dan itu memudahkannya dalam mengingat.

Selain kepada Ibnu Hurmuz dan Nafi, Imam Malik juga belajar pada Rabi’ah ar Ra’yi atau Rabi’ah bin Abi Abdurrahman salah seorang generasi tabi’in yang sangat tinggi akhlaknya dan sangat kukuh menjaga etika. Ketika gurunya sang satu ini meninggal, Imam Malik berkata dengan nada sedih, “Manisnya fiqih telah hilang sejak kematian Rabi’ah bin Abi Abdurrahman.”

Imam Malik sangat menyayangi gurunya, Rabi’ah ar Ra’yi. Demikian pula Rabi’ah ar Ra’yi, juga mencintai Imam Malik.  Sampai-sampai, setiap kali Imam Malik datang ke halaqahnya, maka Rabi’ah ar Ra’yi akan berkata, “Orang cerdas datang.”

Imam Malik nyaris tidak pernah belajar jauh dari kota Madinah.  Salah satu sebabnya, para ulama dan ahli ilmu memang belum menyebar sampai ke pelosok yang jauh.  Tapi, bukan bererti Imam Malik tidak melakukan pengembaraan.  Imam Malik melakukan pengembaraan intelektual yang sangat besar dan luas.  Ia belajar tidak kurang kepada 900 syaikh dan ahli hadis, 70 di antaranya adalah para tabi’in yang pernah berguru langsung kepada para sahabat Rasulullah s.a.w. Tidak hanya penjelajahan ilmu, Imam Malik juga menjelajah untuk menyampaikan nasihatnya kepada para raja dan sultan.

Imam Malik mengajarkan, agar kita sebagai murid berhati-hati memilih guru.  “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama.  Maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama kalian.”

Imam Malik sangat mencintai dan menghargai Rasulullah.  Sampai-sampai, selama di Madinah, Imam Malik tidak pernah menunggang kuda, unta atau kenderaan yang lainnya.  ‘Aku tidak mahu naik kenderaan di daerah di mana jasad Rasulullah s.a.w. dimakamkan.”

Tidak hanya soal berkenderaan, bukti cintanya pada Rasulullah juga nampak ketika Imam Malik menyampaikan hadis.  Ketika ia membacakan hadis, Imam Malik selalu lebih dulu mandi, bersuci, membakar wangi-wangian, memakai minyak wangi, duduk sempurna, merapikan janggutnya, baru ia memulai membaca hadis.  “Aku menghormati Rasulullah, dan tak mahu menyampaikan hadis kecuali dalam keadaan benar-benar bersuci,” ujarnya.

Maka tidak hairan, jika dari peribadi seperti ini lahirlah murid-murid yang juga mulia.  Salah satunya adalah Imam Syafi’I rahimahumullah.

Imam Syafi’e

Ini adalah penuturan, dari seorang lelaki yang memiliki tempat istimewa dalam sejarah Islam. Kita mengenalnya dengan nama Imam Syafi’e, penghulu mazhab Syafi’e yang sebahagian besar dianut oleh kaum muslimin di belahan nusantara.

Aku dilahirkan di Gaza pada tahun 150 Hijrah.  Kerana takut tidak mampu mengurusku, ibu membawaku ke Makkah ketika umurku baru dua tahun.  Di Makkah, aku belajar di sebuah kuttab.  Ibuku tidak mampu memberikan wang kepada guru.  Tapi guruku mengizinkan aku berdiri di depan-depan, menggantikannya jika ia tidak hadir.  Jadi aku boleh meringankan bebannya.  Aku sudah hafal al-Quran sejak umur tujuh tahun.  Lalu aku keluar dari Makkah dan tinggal bersama kabilah Hudzail di pedalaman.  Aku tinggal di sana selama 17 tahun dan pergi ke mana saja mereka pergi.”

Dalam periode inilah Imam Syafi’e melakukan pengembaraan.  Ia belajar sastera dan sejarah Arab. Membaca syair-syair penting dan menghafalnya.  Sampai kemudian ia bertemu dengan salah seorang kerabatnya yang sedikit mengajukan keperihatinannya.  Anak pakciknya itu kagum kepada Imam Syafi’e, tapi sekaligus khuatir dengannya.  Kemampuannya di dalam bidang sastera dan sejarah demikian tinggi, jika tidak diimbangi dengan pendalaman ilmu hadis dan fiqih maka akan punya masalah tersendiri.  Maka ia menyarankan Imam Syafi’e untuk mempelajari ilmu  hadis.

Siapakah ulama yang boleh aku tuju,” tanya Syafi’e muda.

Imam Malik bin Anas” ujarnya.

Dari seorang ulama di Makkah, Syafi’e muda meminjam Kitab al Muwaththa’ untuk dipelajarinya.  Dalam waktu hanya sembilan malam, kitab magnum opus Imam Malik itu sudah dihafalnya.  Setelah itu, Syafi’e meminta sepucuk surat dari Walikota Makkah yang berisi sokongan tentang dirinya.  Sang Walikota Makkah pun memberi sepucuk surat untuk disampaikan kepada Walikota Madinah, dan sedikit mengkhabarkan tentang diri anak muda ini.

Setelah membaca isi surat, Walikota Madinah berkata dengan nada berat, “Anak muda, lebih ringan bagiku berjalan dari Madinah ke Makkah tanpa alas kaki dan tanpa kenderaan, daripada berjalan dari pintu rumahku ke pintu rumah Imam Malik.”  Alasan sang penguasa madinah kala itu, ia merasa sangat hina di depan Imam Malik dan tidak sanggup berdiri, meski hanya di depan pintunya, apalagi memanggil Imam Malik untuk menghadapnya.

Akhirnya, sang walikota berangkat juga bersama Imam Syafi’e menemui Imam Malik.  Sesampainya di depan pintu, seorang pembantu Imam Malik keluar dan menemui.  “Jika ada pertanyaan, tuliskan di kertas, jawapan untuk anda akan segera keluar.  Jika ingin mempelajari hadis, anda sudah tahu hari pengajian.  Maka pulanglah!”

Seorang penguasa ditemui hanya oleh pembantu, dan menyampaikan kata-kata yang perlu didengar saja.  Tak kurang dan tak lebih.  Lewat surat, Imam Malik mengetahui tujuan sang tamu.  Walikota Makkah memberikan sokongan kepada seorang anak muda, agar diajari ilmu hadis oleh Imam Malik yang mulia.

Subhanallah, apakah ilmu Rasulullah s.a.w. sekarang hanya diperolehi melalui surat,” ujar Imam Malik sambil membuat surat yang diterimanya. Walikota Madinah terdiam seribu bahasa, tak berani bergerak.

Semoga Allah memperbaiki anda,”, ujar Imam Syafi’e, lalu ia menceritakan diri dan tujuannya kepada Imam Malik.  Kemudian Imam Malik berjanji esok hari akan menemui Imam Syafi’e, salah satunya ia melihat tanda-tanda kebesaran dalam rona anak muda di depannya.

Keesokannya harinya, Imam Syafi’e menemui Imam Malik dan membaca kitab al-Muwaththa’ secara hafalan di luar kepala.  Dan Imam Malik merasa kagum kepadanya.  Setiap kali Imam Syafi’e merasa segan dan ingin berhenti, Imam Malik meminta ia meneruskan bacaannya.

Aku tinggal di Makkah sampai Imam Malik bin Anas wafat.  Aku menyertainya dan berguru kepadanya selama enam tahun. Jadi dia adalah guruku dan dari dialah aku mengambil ilmu,” terang Imam Syafi’e tentang pencarian ilmunya dari Makkah dan Madinah.

Imam Ahmad Bin Hambal

 Keluarganya berasal dari Khurasan, tapi ketika sang ibu berpergian ke wilayah di Baghdad dalam keadaan tua, di sinilah Imam Hambali dilahirkan pada tahun 164 Hijrah.  Tapi menurut riwayat yang lain, Imam Hambali dilahirkan di kota Marwin, baru setelah itu keluarganya pindah ke wilayah Baghdad.

Kota Baghdad zaman itu adalah kota yang menjadi magnet bagi para pencari ilmu. Ini adalah kota ilmu yang didiami oleh para ulama dan ahli hadis terkemuka.  Imam Ahmad membesar sebagai seorang anak yatim, ayahnya meninggal muda saat berusia 30 tahun.  Tapi justeru Allah menyimpan hikmah di sebalik peristiwa ini.  Imam Ahmad dibesarkan dan diasuh dalam berbagai majlis ilmu yang tersebar di kota Baghdad dari ulama-ulama soleh terkemuka.

Di kota ini, Imam Ahmad menetap sampai berumur 16 tahun.  Selepas umur 16 tahun, pengembaraan besar pun dimulai.  Ilmu hadis yang sudah ditimbanya, ilmu fiqih yang sudah dikumpulkannya menjadi bekal pengembaraan ke kota-kota lain.  Imam Ahmad mendatangi semua kota yang didengarnya menyimpan ahli hadis dan ulama besar. Kaki menghantarkannya ke kota Kufah, Basrah, bahkan sampai ke Yaman, jauh sampai ke Syam, ke penjuru-penjuru Jazirah, lalu berakhir di Makkah dan kota Nabi yang mulia, Madinah.

Sesungguhnya, dalam proses pencarian ilmu ini, Imam Ahmad tidak saja menjadi murid, tapi juga menjadi guru.  Imam Ahmad telah menduduki posisi terhormat di kalangan kaum muslimin.  Tapi selalu saja, jika di sebuah kota yang jauh ia mendengar seorang ulama yang menyimpan hadis-hadis sahih, ia selalu bergegas menuju kota tersebut.  Sampai-sampai ada orang yang bertanya kepadanya, “Sampai bila engkau akan berhenti menuntut ilmu?  Padahal engkau kini sudah mencapai kedudukan yang tinggi dan engkau telah menjadi imam bagi kaum muslimin.”

Lalu dengan singkat Imam Ahmad mengutip kalimat yang pernah diucapkan manusia yang paling dicintainya, “Tuntutlah olehmu ilmu dari buaian sampai ke liang kuburan.”  Nasihat Rasulullah s.a.w. itulah yang selalu memberinya semangat untuk mengejar ilmu, di mana pun tersimpan.

Imam Ahmad bin Hambali pernah berguru pada Imam Syafi’e ketika Imam Syafi’e menetap di Baghdad. Imam Ahmad sangat mencintai Imam Syafi’e sebagai gurunya.  Begitu juga dengan Imam Syafi’e, sangat mencintai Imam Ahmad sebagai muridnya.  Suatu ketika, terdengar oleh Imam Syafi’e bahawa Imam Ahmad diserang penyakit dan tidak boleh bangun dan keluar dari rumahnya.

Demi mendengar khabar ini, Imam Syafi’e segera mendatangi dan menjenguk muridnya tercinta. Ketika Imam Syafi’e masuk dan menjenguk, segera Imam Ahmad turun dari tempatnya dan duduk di lantai, meski dirinya sedang sakit. Imam Ahmad mempersilakan sang guru untuk duduk di atas, lalu keduanya bercengkerama sampai lama.  Dan ketika Imam Syafi’e hendak pulang, Imam Ahmad membantunya sampai naik ke punggung unta.  Lalu menuntun unta Imam Syafi’e sampai gurunya tersebut sampai di depan rumah.  Inilah bentuk rasa hormat dari seorang murid kepada guru.

Perjalanan hidup mengajarkan kepadanya untuk menjadi mulia dengan tetap sederhana.  Suatu ketika, dalam perjalanannya menuntut ilmu ke kota San’a di Yaman Selatan, Imam Ahmad kehabisan bekal dalam perjalanannya. Padahal, pengembaraan mencari ilmu masih jauh dari tujuan. Maka Imam Ahmad bekerja menjadi seorang pelayan dan pegawai di dalam sebuah kafilah yang sedang melakukan perjalanan ke arah Yaman.  Meski kedudukannya sangat mulia, Imam Ahmad tidak segan-segan menjual tenaganya demi mendapatkan nafkah yang halal, sampai dirinya tiba di kota San’a.

Di kota ini, Imam Ahmad menetap selama dua tahun dan belajar pada beberapa guru.  Proses menuntut ilmu itu dilakukannya juga dengan bekerja.  Setiap sang guru menawarkan sesuatu, dengan halus Imam Ahmad menolaknya dengan jawapan, “Saya masih dalam kebaikan.”  Hal ini dilakukannya dengan tujuan agar tidak memberi peluang bagi fitnah yang boleh saja menghalang.

Jika Imam Ahmad menolak pemberian gurunya dengan alasan menjaga diri dari peluang fitnah, Imam Ahmad juga menolak pemberian orang lain demi menjaga kehati-hatian dari sesuatu yang haram yang tidak diketahuinya.  “Saya sudah dalam kecukupan,” demikian jawabnya. Dengan sikap seperti itu, seringkali Imam Ahmad hidup dalam keadaan yang sangat berat dalam pengembaraannya mencari ilmu.

Imam Ahmad, selain pencinta ilmu dan kesederhanaan, lebih dari segalanya dia adalah pencinta kebenaran.  Salah satu bukti yang tercatat dalam sejarah adalah perilakunya setiap kali bertemu orang-orang Nasrani.  Meski hanya berpapasan di jalan, Imam Ahmad selalu memejamkan mata ketika melihat orang Nasrani di depannya.  “Aku tak tahan melihat orang yang mendustakan Allah dan berdusta atas nama-Nya,” ungkap Imam Ahmad menjelaskan tentang perilakunya.

Kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, membuatnya memendam rindu yang terus bertalu-talu di dalam hati.  Kerananya, setiap kali memiliki kesempatan, Imam Ahmad berusaha untuk menunaikan ibadah haji.  Tapi tentu saja bukan sembarang perjalanan haji. Ibadah ini dilakukannya dengan maksimal dan meneguk hikmah sampai ke dasar. Menurut penuturan Imam Abdullah bin Ahmad, anak dari Imam Ahmad bin Hambal, ayahnya naik haji sebanyak lima kali.  “Tiga kali berjalan kaki, dan dua kali dengan kenderaan.  Semua biaya haji ditanggungnya sendiri, meski harus dengan bekerja sebagai pelayan,” terang Imam Abdullah bin Ahmad.

Hidupnya yang sederhana membuat Imam Ahmad menjaga diri dari kekuasaan dan takhta.  Suatu kali, Imam Syafi’e diminta oleh Khalifah Harun al Rasyid untuk mencari seorang ulama yang akan ditunjuk sebagai qadi di negeri Yaman.  Lalu Imam Syafi’e mengusulkan nama dan meminta Imam Ahmad yang memegangnya. Namun dengan tegas tapi juga penuh hormat, Imam Ahmad mengungkapkan penolakannya. “Saya datang keapda engkau dengan niat hendak menuntut ilmu pengetahuan, bukan hendak mencari kedudukan dan pangkat di sisi kepala negara,”ujar Imam Ahmad.

Selepas dari pengembaraannya di negeri Yaman, Imam Ahmad meneruskan pencarian ilmu ke negeri lain. Dan kerana bekalnya yang minimum, maka peristiwa kehabisan bekal dan menjadi pelayan berulang-ulang sampai beberapa kali kejadian.  Namun kesusahan tersebut tidak membuatnya lemah, sebab yang ia cari adalah redha Allah dan sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah s.a.w.

Imam Ahmad mendengar di satu negeri hiduplah seorang ulama yang menghimpun hadis-hadis sahih dan meneruskannya kepada orang yang dikehendakinya. Lalu Imam Ahmad menuju  negeri ini dan mencari ulama yang dia kehendaki.  Ketika bertemu sang ulama, Imam Ahmad menjumpai ulama tersebut sedang memberi makan seekor anjing.

Kemudian Imam Ahmad beruluk salam.  Sang ulama membalas salam, tapi belum memberikan perhatian kepada Imam Ahmad yang datang.  Hal ini dilakukannya sampai beberapa lama, sampai-sampai Imam Ahmad merasa terabaikan dan muncul perasaan tak senang.  Setelah selesai memberi makanan kepada anjing tersebut, sang ulama kemudian menghadap Imam Ahmad an berkata, “Mudah-mudahan engkau senang pula menghadapi seekor anjing.”

Kemudian Imam Ahmad menjawab dengan singakt, “Ya”.

Lalu sang ulama meneruskan perkataannya. “Telah memberitahukan kepadaku Abu Zanad dari al A’raj dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memutuskan harapan orang yang berharap kepadanya, Allah akan memutuskan harapannya pula di hari kiamat.  Maka ia tidak akan memasuki syurga.

Ulama itu terdiam sejenak, lalu menyambung kalimatnya. “Di negeri kami ini tidak ada anjing. Lalu anjing ini sengaja datang kemari. Lalu aku takut memutuskan harapannya,” ujarnya dengan nada lembut penuh kasih.

Seketika Imam Ahmad berkata, “Cukuplah hadis ini bagiku.”

Sejarah singkat tentang perjalanan imam empat mazhab ini mewariskan kepada kita banyak hal.  Tentang pengembaraan yang mewariskan sikap rendah hati. Tentang pengembaraan yang melahirkan kecintaan pada Allah dan rasul-Nya.  Tentang pengembaraan yang melahirkan kecintaan pada Allah dan rasul-Nya. Tentang pengembaraan yang tidak saja jalan-jalan, tapi mencari hikmah yang tersebar di seluruh penjuru bumi ciptaan Allah s.w.t. Semoga kita mampu meneladaninya.

Catatan:Ibnu Majid

No Comments

    Leave a reply