Poligami; Benar Belum Tentu Bijak

Adanya ayat dalam Alquran yang membolehkan poligami (bukan istilah yang tepat tapi di sini sudah kadung dipahami sebagai lelaki beristri lebih dari satu) membuat para pendukungnya merasa berada di atas angin. Sedangkan saya, yang secara sederhana tidak setuju dengan itu, merasa miris.

Ya, mau bagaimana lagi, toh agama Islam memang membolehkan satu lelaki memiliki maksimal empat orang istri. Toh agama sudah menyatakan boleh, masa mau dilarang-larang.

Melarang orang melakukan hal yang jelas-jelas dibolehkan akan membuat saya tampak seperti sedang menentang agama itu sendiri. Padahal, itu bukan niat saya sama sekali. Saya berusaha untuk selalu menghargai apa yang orang lain percaya.

Sempat saya merasa kehilangan jalan untuk bisa mengkritik (pendukung) poligami dari sisi keagamaan. Namun saya kemudian tersadar bahwa manusia seharusnya mampu berpikir (dan tentu saja beragama) dengan bijak.

Bukan sekadar mampu mengenali mana yang boleh dan tidak boleh, tapi juga mana yang baik dan tidak baik. Mana yang lebih banyak mengandung manfaat dan mana yang lebih berpotensi mendatangkan mudharat.

Hanya karena sesuatu diperbolehkan, tak berarti kita harus melakukannya dengan bebas. Bukankah sebetulnya dalam pembolehan poligami oleh agama, sudah terdapat pula berbagai pembatasannya?

Poligami bukan praktik yang lahir baru dari tradisi Islam. Sebelum Muhammad resmi diangkat menjadi rasul dan menyebarkan ajarannya, praktik poligami sudah ada lebih dulu. Apa yang dilakukan Islam kemudian adalah membatasi poligami.

Yang pertama dibatasi, yaitu jumlahnya. Menurut hukum Islam, seorang laki-laki hanya boleh beristri paling banyak empat.

Selanjutnya adalah syarat keadilan. Mengawini dua, tiga, atau empat wanita hanya boleh dilakukan oleh seseorang yang mampu berlaku adil. Kata kitab: jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka kawinilah seorang saja.

Saya sengaja menebalkan kata takut, karena itulah yang tampaknya tidak bisa ditemukan pada orang-orang yang gencar mendukung poligami dengan argumen yang dangkal. Seperti apa sih argumen yang dangkal itu? Yaitu argumen-argumen yang pertama: merendahkan laki-laki, kedua: penuh kesombongan.

Argumen-argumen yang merendahkan laki-laki (dan secara tidak langsung merendahkan perempuan pula) menggambarkan lelaki sebagai makhluk yang demikian tidak berdaya di hadapan hawa nafsunya sendiri.

Laki-laki dicap mempunyai hasrat seksual begitu dahsyat sehingga satu orang istri tidak akan mampu bikin mereka merasa cukup. Maka menurut mereka, adalah hal yang wajar (bahkan mungkin niscaya) ketika laki-laki menginginkan lebih dari satu istri. Keinginan itu tidak boleh ditentang, justru harus difasilitasi. Supaya para lelaki kita tercinta itu bisa terhindar dari dosa zinah.

Pemikiran seperti itu pada gilirannya menempatkan perempuan sebagai objek seksual belaka bagi para lelaki. Mereka diperistri untuk dijadikan saluran pemuas hasrat seks sang suami. Kebutuhan akan istri jadi terlihat sejajar dengan kebutuhan untuk memiliki sex toys. Wahai, betapa teganya kita menempatkan perempuan pada posisi serendah itu.

Argumen seperti itu juga membuat agama seolah tidak menyediakan alternatif. Seolah perempuan hanya punya dua pilihan: merelakan suami menambah istri atau merelakan suami main serong. Begitu juga laki-laki yang dibingkai hanya punya dua pilihan: berpoligami atau berselingkuh. Padahal ada pilihan lain yaitu bersetia pada satu istri.

Para suami seharusnya tidak melupakan pilihan itu. Jika mereka bahkan tidak menganggap pilihan itu ada, mana bisa mereka melakukannya. Dengan kata lain, orang yang mendukung poligami dengan argumen seperti tadi memang tak pernah punya niat untuk setia sejak awal.

Selain itu, agama Islam juga sudah memberikan tuntunan lain untuk mengendalikan hawa nafsu, yaitu berpuasa. Walaupun cara ini tentu agak rancu jika dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Kan sudah punya pasangan, ngapain puasa? Kalau mau berhubungan seks ya tinggal ajak saja pasangannya dengan baik-baik.

Jika hubungan seks dengan pasangan tak lagi terasa nikmat, jangan langsung berpaling pada poligami sebagai solusi. Komunikasikan saja dulu. Kalau di rumah ada tikus, gak mesti langsung bakar rumahnya, kan? Gak perlulah langsung melakukan hal yang ekstrem untuk mengatasi sebuah masalah.

Kalau memang merasa bosan, jangan-jangan yang dibutuhkan bukan tambah istri, tapi cuma tambah alternatif gaya bercinta. Yang perlu ditambah bukan jumlah istri untuk digilir, tapi keberanian dan kreativitas untuk bereksplorasi saja.

Argumen jenis kedua, yaitu argumen yang mengandung kesombongan. Para pelontar argumen ini begitu pede menyejajarkan diri mereka dengan Rasul sendiri. Kira-kira begini omongannya: “Jangan larang kami untuk berpoligami, karena Nabi pun melakukannya.”

Wow, betapa jemawa pernyataan itu. Mereka merasa punya kualitas yang sama dengan nabi, sehingga punya kelayakan yang sama pula dengan beliau untuk punya lebih dari satu istri. Sudah jelas kita tidak bisa menyamai level beliau, kok berani ngaku-ngaku.

Inilah kenapa tadi saya menebalkan kata takut. Nikahilah satu wanita saja jika kamu merasa takut tidak bisa berbuat adil. Begitu kata kitab.

Yang kamu perlukan untuk didiskualifikasi dari kelayakan berpoligami adalah rasa takut. Titik. Itu doang. Kamu bahkan tak perlu terbukti tidak berlaku adil. Kamu hanya perlu merasa takut tidak bisa melakukannya. Selama rasa takut itu ada maka kamu tidak memenuhi persyaratan untuk berpoligami.

Mohon diingat, ada beberapa kemungkinan orang tidak merasa takut: karena dia mampu, karena dia bodoh (tidak tahu bahaya yang harus dihadapi) atau karena sombong (tidak menyadari kelemahan diri).

Kalau kamu percaya diri bisa bersikap adil dan ingin berpoligami, tolong periksa dengan teliti dari mana kepercayaan diri itu bersumber. Dari kemampuan, kebodohan, atau kesombongan? Jangan sampai kamu menyengsarakan orang lain karena bertindak dengan gegabah.

Saya tidak sedang berusaha menggugat kebolehan berpoligami menurut Islam. Saya hanya ingin mengajak muslim untuk lebih bijak dalam menyikapi hal ini.

Iya, betul, poligami memang boleh. Tapi ya tolong perhatikan juga syarat dan ketentuan yang berlaku. Perhatikan juga berbagai kelemahan dan keterbatasan kita sebagai manusai biasa.

Untuk hal ini, mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh saja belumlah cukup. Kita juga harus bisa menilai mana yang baik dan tidak baik. Sama seperti makanan, tidak hanya harus halal (boleh dimakan), tapi juga harus thoyyib (baik). Mari jalankan agama dengan bijak, bukan hanya dengan benar.

Islam membatasi poligami sebagaimana ia membatasi perbudakan. Tidak, Islam tidak dengan tegas mengharamkan perbudakan. Tapi itu tidak bikin kita heboh pasang badan membela perbudakan, toh? Begitu juga dengan poligami.

Ada perbedaan antara membolehkan dan menganjurkan. Nafsu akan membuat keduanya menjadi saru. Bijak dan hati-hati adalah kunci agar kita bisa memilah keduanya dengan adil.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply